MENGINTIP MASA DEPAN KENDAL

0
110

Untitled-TrueColor-021122

Oleh: Moh. Makhrus

Pemerintah kabupaten kendal selain sedang menyelesaikan pembangunan pelabuhan laut dengan kawasan ekonomi khususnya [KEK], yang ada di kawasan wilayah kecamatan Kaliwungu. Walau sementara berhenti pembangunannya, dengan alasan sedang menanti payung hukum dari pemerintah Jakarta. Juga sekarang sedang membangun BLK [Balai Latihan Kerja].

Balai Latihan Kerja ini nantinya  menyediakan ruang pembelajaran, ruang praktek dan ruang penginapan, terutama diperuntukkan peserta didik yang berasal dari wilayah- wilayah yang cukup jauh dari kota Kendal. Misalnya dari wilayah kecamatan Plantungan, Sukorejo, Singorojo, Boja, Limbangan maupun Pageruyung.

Tempatnya cukup strategis, tepatnya di sebelah barat terminal bus Bahurekso di desa Jenarsari kecamatan Gemuh. Mudah dijangkau, karena di tepi jalan pantura. Sampai tulisan ini dibuat, konon ijin operasional terminal tersebut belum turun. Sehingga suasana di terminal  belum nampak geliat “kehidupan”, sebagaimana dinamika terminal pada umumnya.

Pelabuhan Kendal selain  sebagai pelabuhan bongkar muat barang, juga nantinya sebagai sarana transportasi dari dan ke daerah lain di wilayah Nusantara. Sudah kita ketahui bersama bahwa  masyarakat Kendal adalah pendulang devisa terbesar nomor dua di Jawa Tengah. Sehingga sangat tepat pembangunan infrastruktur tersebut. Selain itu nantinya pelabuhan dengan kawasan ekonomi khususnya akan mampu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak, yaitu 60% dari pencari kerja yang ada.

Sebagaimana yang dikemukakan Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Pemkab Kendal yaitu bapak Sutiyono, S.Sos, bahwa jumlah pengangguran terbuka di Kendal mencapai 46.593 orang. Dengan rincian berijasah SMA dan yang sederajat 4.184 orang, SMP dan yang sederajat 2.952 orang, SD dan yang sederajat 1.172 orang, sarjana 1.095 orang, dan Diploma 591 orang. Itu belum terhitung pengangguran yang tidak mencari Kartu Kuning di Dinas Tenaga Kerja.

Dengan angka pengangguran terbuka yang cukup signifikan tersebut, sehingga dipandang tepat pembangunan infrastruktur yang ada di daerah Kendal, meliputi terminal bus, pelabuhan maupun BLK. Sebagaimana yang dikatakan Ka Dinas sosial, Tenaga Kerja dan transmigrasi  kabupaten Kendal, bahwa BLK tersebut nantinya akan mendidik putra- putra Kendal dan langsung akan dipekerjakan di KEK. Dan konon KEK ditargetkan akan beroperasi pada tahun 2010.

Harapan masyarakat jangan sampai proyek pembangunan yang menelan dana ratusan juta rupiah mangkrak alias tak difungsikan. Sebagaimana terminal Bahurekso yang megah [untuk ukuran Kendal]. Kenapa terminal tersebut sampai sekarang belum mengantongi ijin, padahal pembangunan fisiknya sudah sangat lama selesai. Bahkan disana sini di sekitar badan terminal sudah ditumbuhi rumput- rumput liar.

Dugaan masyarakat barangkali betul, bahwa pembangunan terminal bahurekso, tidak didasari adanya studi kelayakan yang dalam. Terkesan “Mcdonaldisasi” proyek, artinya pelaksanaan pekerjaan pembangunan tersebut instan dan keburu- buru diselesaikan. Kurang begitu paham, kenapa pelaksanaan pembangunan seperti dikejar hantu. Sementara ijinnya “seret” keluar.

BLK dan Masa depan

            Balai Latihan Kerja [BLK] kabupaten Kendal yang sedang dilaksanakan pembangunan fisiknya. Menempati areal tanah seluas  9.000 M2, persis di sebelah barat terminal Bahurekso. Menurut Ka Dinas Sosial, diperkirakan selesai akhir tahun 2009, oleh karena itu pekerjaannya sedikit ngebut.

Proyek ini nantinya akan mendidik putra- putra daerah, baik lulusan SD, SMP maupun SLTA. Pelajaran yang akan diajarkan meliputi ketrampilan menjahit pakaian, Tas, tata rias rambut, kecantikan, bengkel sepeda motor maupun mobil. Semuanya akan diserap oleh KEK. Khusus untuk menjahit tas, lulusannya akan disalurkan di Sintak [Sentra Industri Tas Truko].

Sementara ini Sintak untuk tenaga kerja menjahit banyak mendatangkan tenaga dari luar daerah, yaitu dari Pekalongan bahkan ada yang dari Tegal. Selain upah diatas rata- rata tenaga domestik [putra Truko], juga pihak pengrajin perlu  menyediakan akomodasi, seperti penginapan dan lain sebagainya. Sehingga akan mempengaruhi nilai jual sebuah produk.

Sangat tepat sekali keberadaan BLK itu sendiri. Karena selain menyuplai tenaga kerja yang dibutuhkan industri- industri yang sudah ada di Kendal; misalkan PT. KLI, Texmaco, Rimba Partikel, Kerajinan Bordir, Kerajinan tas [Sintak], maupun beberapa industri pengolahan ikan yang ada di desa Truko kecamatan Kangkung. Juga, tamatannya nantinya diharapkan sebagai pencipta lapangan kerja baru.

Diharapkan dalam masa yang akan datang, Kendal tidak lagi mendatangkan tenaga kerja dari luar daerah. Cukup menyerap dari daerah Kendal sendiri, karena banyak putra- putra Kendal yang nantinya mendapat didikan dari BLK.

Walau sementara ini, banyak putra Kendal yang mendapat pelatihan dari BLK Semarang. Ini tentunya, merupakan kendala dalam hal jauhnya jarak, terutama bagi keluarga yang tidak mampu secara ekonomi. Dengan adanya BLK di dalam daerah tentu ini sedikit akan mengakomodir, terutama bagi keluarga yang kurang mampu, apalagi nantinya BLK juga menyediakan ruang penginapan.

Dalam waktu dekat ini pihak pengrajin tas akan mengadakan pelatihan menjahit tas yang akan diikuti oleh anak- anak Truko yang nota bene tergolong pengangguran terbuka. Konon akan didanai oleh PNPM Perdesaan [Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat], yang menurut beberapa pihak terkait akan segera cair akhir oktober tahun ini.

Kenapa tidak menunggu lulusan BLK?. Karena kebutuhan yang sangat mendesak. Pihak Sintak sendiri mempertanyakan eksistensi ketrampilan menjahit tas yang akan diajarkan di BLK, karena selama ini pihak Sintak sering menyodorkan proposal pelatihan, oleh Dinas Perindustrian kabupaten Kendal sampai sekarang belum merealisasi.

Seperti dikatakan bapak Nur Kolis, salah seorang pengrajin, bahwa tas produk Sintak ini pemasarannya sudah menyebar ke seluruh penjuru Nusantara. Bahkan pada waktu tsunami meluluh lantakkan  daerah Aceh, personil salesnya ada yang di sana. Alhamdulillah selamat, katanya.

Pemasaran tas Sintak dengan disalesi secara door to door. Cara ini terkait dengan perputaran modal itu sendiri, agar cepat. Maklum modal pas-pasan. Beda dengan cara konsinasi atau titip barang di Toko. Menurut Bapak Nur Kolis cara ini selain modal harus berlipat juga putaran uangnya lambat. Ini yang membuat para pengrajin tas masih tetap mempertahankan door to door.

Jadikan Ikon

Sangat disayangkan komoditi yang pemasarannya sudah menyebar ke seluruh penjuru tanah air, tapi belum berani menggunakan merk sendiri alias masih mencatut merk lain. Sintak barang kali bisa jadi dijadikan merk, bahkan ikon tas buatan Kendal. Nama ini cukup futuralistik dan marketable. Artinya untuk masa ke depan masih menyimpan keindahan arti dan cukup mendukung pemasaran. Apalagi kalau pemasarannya masih mempertahankan door to door.

Diharapkan pihak Dinas Perindustrian Kendal dan Dinas terkait mampu mendesain dan sekaligus menjadi motor penggerak industri tas kedepan. Dari tataran hulu sampai hilir. Sehingga nantinya menjadi andalan produk Kendal, siapa tahu bisa menguasai pasar tas di Indonesia.

Jangan kecil hati walau bermula dari industri rumah tangga. Siapa sangka Bob Sadino menjadi salah satu konglomerat ternama di Indonesia, dulunya ia bermula berdagang telur bebek hanya 100 biji. Di dunia ini semua serba mungkin. Yang penting usaha tekun, penuh ketelitian, keuletan, tanggung jawab dan berdo’a.

Drs. Moh. Makhrus

Guru SMA NU 03 Muallimin Weleri, Kendal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here