Menggapai Kekhusyu’an dalam Sholat

0
209
Oleh: Moh. Muzakka Mussaif

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهْ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ هَدَانَا بِدِيْنِ الْاِسْلَام، وَشَرَّفَ مَنْ يُوَاصِلُوْنَ الْأَرْحَام، وَمَنَحَ النَّاسَ الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى طُوْلَ الدُّهُوْرِ وَالْأَيَّامْ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامْ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الزِّحَامْ. أَمَّا بَعْد 

فَيَا عِبَادَ الله، أُوْصِيْنِي نَفْسِي بِتَقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ 

Hadirin sidang Jumat Rahimakumullah

Sebelum saya menyampaikan khutbah dengan tema “Menggapai Kekhusyu’an dalam Sholat” saya selaku khatib tidak henti-hentinya mengingatkan dan berwasiat pada diri sendiri dan hadirin sekalian untuk senantiasa memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT yang selalu memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga pada siang ini kita dapat menunaikan sholat jumat di masjid ini tanpa kendala apapun.

Selain itu, shalawat dan salam semoga tetap tercurah pada uswah kita Nabi Muhammad SAW, dan semoga pula mengalir pada keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya termasuk kita yang hadir di masjid ini.

Ungkapan rasa syukur kepada Allah tersebut mari kita wujudkan dalam bentuk peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab dengan peningkatan kadar iman dan takwa itulah kita dapat menggapai berkah dan rido-Nya. Tiada tolok ukur lain derajat kemuliaan manusia di sisi Allah kecuali derajat ketakwaannya. Hal ini sudah ditegaskan dalam Alquran Surat Alhujurat: 13 yang berbunyi :

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

Artinya : Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kamu sekalian.

Oleh karena itu, para hadirin, khatib selalu berwasiat agar janganlah sekali-kali kita mati kecuali dalam keadaan iman dan  Islam 

Hadirin sidang Jumat Rahimakumullah,

Kita sebagai orang-orang mukmin tentu akan sangat beruntung dan merasa bahagia apabila dapat menggapai sholat khusyu’ terlebih lagi dapat menjaga sholat kita. Mengapa kita beruntung dan bahagia? Sebab, dengan mendapatkan kekhusukan dalam sholatdan mampu menjaga sholat itu, kita akan dapat mencapai puncak kebahagiaan dan kenikmatan. Sebab, kelak kita akan menjadi pemawaris surga Firdausy, yaitu tingkatan surga yang paling tinggi di hadapan Allah, yakni akan menempati surganya para nabi dan rosul, serta orang-orang sholih.

Terkait dengan itu, Allah telah menegaskan dalam firmannya yaitu pada QS. Almu’minun ayat 1-2. Pada ayat-ayat tersebut ditegaskan oleh Allah SWT bahwa salah satu kriteria orang-orang mukmin yang beruntung adalah yang khusuk dalam sholatnya. Berikut bunyi ayatnya:

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ

الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلٰو تِهِمْ خَاشِعُوْنَ

Artinya: (1) Sesungguhnya beruntunglah orang-orang mukmin, (2) Yaitu yang khusyu’ dalam sholatnya.

Hadirin sidang Jumat Rahimakumullah,

Dari ayat tadi, sangat jelas bahwa orang yang sholatnya khusu’ balasannya dari Allah sangat luar biasa tingginya. Persoalannya sekarang, adalah sholat khusyu’ itu apa dan bagaimana? Apakah sholat kita itu sudah khusyu’ atau belum?. Inilah yang harus kita pahami bersama.

Berdasarkan makna harfiyahnya khusyu mengandung banyak makna di antaranya adalah tunduk, pasrah, merendah, diam, perlahan, tak bergerak.

Secara istilah khusyu’ mengandung arti: kelembutan dan ketenangan hati yang berfungsi menghindari keinginan yang memperturutkan hawa nafsu, serta kepasrahan di hadapan ilahi yang dapat melenyapkan rasa keangkuhan, kesombongan, dan tinggi hati.

Dari makna harfiyah dan istilahiyah muncullah banyak pendapat dari ahli fikih dan tafsir terkait sholat khusu’. Kebanyakan mereka mendefinisikan bahwa sholat khusyu adalah kondisi hati yang penuh dengan ketakutan, mawasdiri, dan tunduk pasrah di hadapan Allah. Kemudian semua itu membekas dalam gerak gerik anggota badan yang penuh khidmat dan konsentrasi dalam sholat, bila perlu menangis kepada Allah sehingga tak memedulikan yang lain.

Hadirin Rahimakumullah,

Setelah kita ketahui pengertian sholat khusyu’, muncul pertanyaan berikutnya, bagaimanakah kita menggapai kekhusukan sholat itu?. Tentu hal itu bukan perkara mudah para hadirin. Meskipun untuk mencapainya tidak mudah, tetapi sebagai hamba Allah yang beriman dan bertaqwa, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk dapat menggapainya.

Hadirin, persoalan kiat-kiat atau teknik menjadikan sholat khusu’ itu, memang sering dibahas dalam berbagai halaqah di kalangan kaum muslimin, dibahas pula dalam berbagai seminar dan diskusi, bahkan saking getolnya untuk menggapainya, kita sering juga membaca dan atau mendengar iklan kursus-kursus sholat khusyu’. Kegiatan itu makin banyak peminatnya, kegiatan itu diselenggarakan mulai dari paket sederhana di majlis taklim, musholla, hingga paket mewah yang diselenggarakan di hotel berbintang yang maharnya sampai jutaan rupiah. Dari kegiatan itu, timbul lagi pertanyaan baru lagi, apakah dengan mengikuti kursus itu secara otomatis, begitu selesai kemudian dijamin sholatnya khusyu’?. Wallahu a’lam.

Hadirin rahimakumullah,

Meskipun untuk menggapai kekhusyukan dalam sholat itu cukup sulit, tetapi kita harus berusaha menggapainya. Hujjatul Islam Imam Ghozali ra dalam kitab Bidayatul Hidayah  menyebutkan 6 metode agar sholat kita dapat menggapai kekhusyu’an:

1.Khudhrul qalbi : fokuskan hati untuk Allah saja

2. Tafahhum: memahami makna bacaan-bacaan dalam sholat

3. Atta’dhiim: tawadhu’ atau rendah hati, merasa sangat kecil di hadapan Allah

4. Alhaibatu: takjub terhadap kekuasaan Allah, sebab yang ada adalah ciptaan Allah dan milik Allah.

5. Arraja’ : berharap sholat dan ibadahnya diterima oleh Allah.

6. Alhaya’: malu atas segala salah dan dosa yang telah dilakukan.

Enam cara itu para hadirin, kalau kita berusaha sekuat hati, rasa, dan pikiran kita, cepat atau lambat insya Allah kita akan dapat melakukan sholat khusyu’ atau menuju ke khusyu’

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah,

Kalau  kita sudah dapat melakukan sholat khusyu’ sebagaimana penjelasan tadi apakah dengan serta merta kelak mewarisi surga firdaus?. Jawabannya bisa ya dan bisa tidak. Mengapa? Sebab sholat itu tidak semata-mata dikerjakan pada waktu sholat saja, akan tetapi didirikan dan dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, sholat khusyu’ itu harus terpancar dalam diri pelakunya dalam pikiran, lisan, dan tindakannya. Sebab hakikat orang mendirikan sholat itu adalah berdzikir kepada Allah. Hal itu ditegaskan Allah dalam QS. Thoha: 14 yang berbunyi :

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Artinya : Dirikanlah sholat, untuk mengingatku.

Dari ayat itu sangat jelas, bahwa perintah sholat itu ditujukan kepada kita hamba Allah agar selalu mengingat kepada Allah. Perintah mengingat Allah itu tidak semata-mata pada saat kita melaksanakan sholat saja, tetapi  perintah mengingat Allah itu harus dilakukan sepanjang waktu hidup kita. Jadi, kalau kita dapat khusyu’ ketika mengerjakan sholat, kemudian di luar sholat kita melakukan tindakan-tindakan yang dilarang oleh Allah maka kita belum mendapatkan kekhusyukan sholat dengan sempurna.

Sebagai ilustrasi, bila ada seseorang yang dalam mengerjakan sholatnya dengan khusyu’ sampai menangis dan meneteskan air mata, tetapi di dalam kehidupan sehari-harinya tidak dapat menjaga pikiran dan lisannya, sehingga melakukan perbuatan ghibah (membicarakan aib orang lain), namimah (adu domba), mencela orang dan berbuat fitnah maka sholatnya masih jauh dari sholat khusyu’.

Contoh lain, jika ada orang melakukan sholat dengan khusu’, tetapi di luar sholat mereka melakukan perbuatan-perbuatan munkar seperti mencuri, berjudi, minum khomer, berzina, dan sebagainya, mereka pun tidak dapat menggapai kekhusyukan sholat. Sebab, sholatnya belum sesuai dengan hakikatnya yakni berdzikir kepada Allah.

Di samping itu, juga sholatnya belum sesuai dengan fungsinya, yakni mencegah perbuatan keji dan munkar. Jadi, sholat khusyu’ itu para hadirin, tidak disemata-mata dilakukan pada waktu sholat saja, tetapi juga harus tampak dalam pancaran kehidupan sehari-harinya sebagai orang yang bertakwa pada Allah SWT. Sebab, fungsi sholat yang sesungguhnya telah ditegaskan Allah dalam QS. Al-Ankabut: 45 yang berbunyi:

اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ

Artinya: Sesungguhnya sholat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah,

Sholat yang dikerjakan tidak sesuai tujuan dan fungsinya, sekalipun dilakukan dengan tenang hingga menetesakan air mata itu hasilnya sia-sia belaka. Karena orang yang sholat demikian ini, berdzikir pada Allah hanya pada saat melaksanakan sholat saja. Kalau kita menengok QS. Alma’un: 4-5, orang yang demikian ini termasuk orang yang lalai dalam sholat bahkan orang-orang tersebut akan celaka atau dimasukkan dalam neraka Wail.

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ

الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ

Terlebih lagi para hadirin, jika sholatnya tidak mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar dikategorikan oleh Rasulullah termasuk sholat yang tidak diterima oleh Allah. Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

Barangsiapa yang sholatnya tidak dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, tidak menambahnya sholatnya di sisi Allah kecuali menambah murka dan menambah jauh dari Allah SWT.

Hadirin sidang Jumat Rahimakumullah,

Akhirnya melalui mimbar ini saya mengajak diri saya sendiri dan hadirin untuk berusaha sekuat hati untuk meningkatkan kualitas sholat kita, yakni untuk mendapatkan kekhusyukan yang sempurna, agar kelak menjadi pewaris surganya para nabi dan rasul serta orang-orang sholih. Mari kita makmurkan masjid dengan sholat berjamaah, sebelum kita benar-benar merugi.

Khutbah II

الحمد للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here