MENGETUK PINTU SURGA DENGAN LAPAR

0
102

Oleh : Drs. H.Moh. Makhrus

           Melihat judul di atas, menangkap kesan, begitu mudahnya orang masuk surga. Tanpa susah payah, hanya dengan lapar, kita dapat tiket untuk masuk surga. Atau dengan kata lain, dapatkah kelaparan membuat kita masuk surga?. Jika iya, alangkah nikmatnya berislam. Alangkah mudahnya jalan menuju surga yang disediakan oleh Allah S W T. Dan alangkah beruntungnya umat ini, karena hanya dengan perut lapar, kita sudah bisa memasuki atau mengetuk pintu surga, rasa lapar telah menjadi kunci pembuka surga. Apa benar begitu? Judul di atas sebenarnya, penulis nukil dari hadis; dimana Rasulullah pernah berkata kepada Sayidati Siti Aisah R.A, [istri Nabi] “Wahai Aisah ketuklah pintu surga terus menerus”. Aisah menjawab “Dengan apa aku harus mengetuknya ya Rasulullah”. “Dengan rasa lapar, hai Aisah”.

           Lapar merupakan kondisi biologis suatu mahluk hidup yang disebabkan karena kosongnya lambung sebagai kantung makanan mahluk hidup tersebut. Kemudian otot-otot di sekitar lambung mengirim sinyal ke saraf otak, sehingga dalam kondisi perut kosong kita langsung merasakan lapar.

           Sedangkan kelaparan, dimana kondisi manusia berada pada tidak memiliki bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, sementara ia ingin makan. Jadi bedanya antara lapar dan kelaparan, kalau lapar kondisi yang disengaja atau belum terpenuhinya kebutuhan. Sedangkan kelaparan adalah dalam kondisi obyektif seseorang memang tidak adanya kebutuhan makan.

           Lapar yang menjadi kunci pembuka pintu surga adalah lapar baik fisik maupun non fisik yang dibarengi perasaan ihlas semata-mata karena Allah, ‘imanan wah tisaban’, dan hanya untuk mencari ridhaNya. Lapar fisik, merupakan kondisi badan yang menahan makan dan minum dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari atau sering disebut puasa. Sedangkan lapar non fisik merupakan kondisi menahan dari berbagai hal yang bisa membuat tidak ‘bermaknanya’ puasa, seperti berbohong, menggunjing, berkata kotor,membedah atau ngumbar keburukan orang lain, dan sebagainya.

           Apabila seseorang telah melaksanakan ketentuan normatif tersebut, maka kondisi seseorang tersebut akan menjadi ‘ghufiralahu mataqoddama min zanbihi’, dosa yang telah dilakukan maupun dosa yang akan datang akan diampuni oleh Allah SWT. Oleh karena itu kondisi orang yang puasanya ihlas dan hanya mencari ridhaNya, pada hari iedul fitri bagai bayi yang baru lahir, tanpa tempelan dosa sedikitpun.

           Pentafsiran secara budaya makna iedul fitri, khususnya masyarakat jawa dirayakan dengan euforia kegembiraan, misalnya: dengan mengecat rumah, perabot rumah yang baru, baju baru, makanan baru dan lain-lain yang serba baru, bahkan dengan merayakan bunyian petasan yang serba “baru”. Itu semuanya merupakan pengejawantahan kegembiraan bayi yang baru lahir ke dunia dengan sambutan tangisan kegembiraan. Itulah merupakan pemaknaan budaya jawa terhadap interpretasi dari iedul fitri, yang lebih pas dengan menggunakan kata lebaran.

           Barangkali hanya di Indonesia, lebaran dijadikan sebagai hari khusus untuk bersilaturrahmi. Dimana setiap rumah terbuka lebar. Orang-orang yang berpapasan mengobral senyum. Mereka bersalaman [baik yang satu jenis maupun yang berlainan]. Yang dikunjungi bukan saja karib kerabat, tetangga, kenalan, tetapi bahkan hewan [seperti ramainya kebun binatang]. Kita menjalin silaturrahmi dengan seluruh mahluk Tuhan. Luar biasa memang.

           Bila kita mempergunakan konsep untuk mengabstraksikan realitas sosial, memang lebih baik kita menggunakan konsep lebaran dari pada idul fitri. Karena lebaran tidak persis sama dengan idul fitri. Lebaran hanyalah sejenis idul fitri, diantara berbagai idul fitri di dunia. Ketika membicarakan makna lebaran, sebaiknya kita tidak merujuk pada teks-teks yang universal [seperti ketika kita berbicara tentang idul fitri]. Sungguh tidakl relevan untuk mengatakan bahwa tradisi mudik, nyadran [ziarah kubur], dan bersalaman khusus pada lebaran tidak termaktub dalam Alqur’an dan Alhadis. Ketiganya memang bukan amalan idul fitri; ia hanyalah tradisi lebaran. Untuk lebaran, rujuklah budaya pribumi yang partikular. Yang kita perlukan bukan lagi tinjauan fiqhiyyah, tetapi analisis sosioantropologis.[Jalaluddin Rakhmat: 1991]

Lebaran: Terapi Modernitas

           Lewis Yablonsky menyebut manusia-manusia modern ini sebagai “robopath” yang telah kehilangan spontanitas dan kreativitas. Mereka menjadi mesin yang secara ritual terikat pada kegiatan yang monoton. Pagi hari bangun, mandi dan makan pagi. Setelah itu pergi ke kantor untuk mengerjakan pekerjaan yang itu-itu juga. Sore hari pulang, melakukan hal yang sama. Kegiatan itu berulang kembali setiap hari. Mereka, kata Yablonsky, bukan lagi manusia. Pada hakekatnya, mereka robot-robot, yang digerakkan secara massal oleh para pemegang kebijakan – baik pejabat maupun konglomerat.

           Secara singkat, dalam bahasa yang populer, kita menjadi modern dengan kehilangan rasa kemanusiaan kita. Kita sibuk dengan kegiatan kita sehari-hari sehingga hampir tidak sempat lagi memperhatikan keluarga kita. Kita kehilangan rasa sayang, bahkan semua emosi kita yang manusiawi. Sebagai gantinya, kita mengembangkan sikap yang kasar, mementingkan diri sendiri[egois], dan agresif. Otot-otot kita setiap saat siap menerkam orang lain – yang sudah kita pandang sebagai mangsa. Kita mengembangkan struktur sosial ayam – yang besar berusaha mematuk yang lemah dan seterusnya.

           Kota-kota besar – jantungnya modernisasi – telah menjadi rumah sakit jiwa yang besar. Semua orang sakit, termasuk para dokter dan petugas rumah sakit. Penyembuhan individual sangat sulit. Diperlukan penyembuhan massal. Tetapi yang diberikan haruslah membuat orang manusiawi dan memperlakukan orang lain secara manusiawi pula. Mereka harus berangkat dari semangat memiliki yang material ke semangat kekeluargaan yang spiritual. Dari mengambil ke memberi.

           Itulah makna mudik. Dengan mudik, orang-orang yang sudah kehilangan dirinya dalam hiruk pikuk kota ingin menemukan kembali masa lalunya di kampung. Mereka yang harus dihitung sebagai angka dan sekrup kecil dalam mesin raksasa kota, ingin kembali diperlakukan sebagai manusia. Mereka ingin meninggalkan – walaupun sejenak – wajah-wajah kota yang garang untuk menikmati kembali wajah-wajah kampung yang ramah. Mereka ingin mengungkapkan kembali perasaan kekeluargaan yang menyejukkan. Anak yang bersimpuh di hadapan orang tuanya, memohon ma’af seraya menangis terisak-isak. Suami istri menjalin kembali cinta kasih mereka, setelah setahun penuh menjadi orang-orang asing yang tidak saling mengenal. Para tetangga dan sahabat saling menegur dan saling memberi setelah selama setahun mereka saling bersaing dan saling memeras.

           Inilah makna silaturahim atau halal bihalal. Seakan-akan menunjukkan lebaran sebagai tempat perilaku yang halal setelah hari-hari lain kita melakukan yang haram. Silaturahim ditandai dengan menyebarkan keramahan, memperkukuh ikatan dengan bersalaman.[Jalaluddin Rakhmat: 1991].

           Suasana yang khidmat, khusuk dan penuh aroma saling memaafkan dengan para tetangga, handai taulan, kerabat dekat maupun jauh. Tidak lagi ada rasa dendam, curiga sesama kolega maupun dengan yang berbeda kepentingan sekalipun. Pada hari itu suasana telanjang bagai bayi yang baru lahir.

Mempertajam Kepekaan sosial

           Puasa tidak hanya melatih seseorang untuk menjadi ‘soleh individual’ semata, tetapi yang lebih substansial dalam ajaran puasa adalah untuk menjadikan seseorang menjadi ‘soleh sosial’.Adanya sinyalemen hadis yang mengatakan; banyak orang berpuasa yang didapat hanya lapar dan dahaga. Banyak juga orang yang mendirikan solat malam, yang didapat hanya terjaga.

           Hal itu disebabkan karena orang tersebut berpuasa tapi masih melakukan perbuatan yang merusak puasa itu sendiri, seperti menggunjing, atau membicarakan kejelekan orang lain, walau secara fighiyyah tidak membatalkan puasa. Begitu pula rajin mengerjakan solat malam, tapi rajin juga menggunjing teman, juga rajin membeberkan kejelekan orang lain.

           Padahal misi puasa, agar kita merasakan atau punya rasa empati terhadap orang miskin. Bagaimana rasanya sehari tidak menemukan air minum. Juga bagaimana rasanya sehari tidak menemukan sebungkus nasi. Kalau kita menghayati rasanya kemiskinan, maka kita akan punya rasa empati yang sangat tinggi terhadap orang miskin; mencintai, menyantuni, minimal di sekitar kita. Dengan hanya mencari ridhaNya semata, ihlas, bukan karena ada kepentingan yang terpendam. Itulah puasa yang sebenarnya. Kata Nabi orang tersebut dosa-dosa yang lalu diampuni. Dan pada hari lebaran bagai bayi lahir, tanpa tempelan dosa sedikitpun.

           Dalam realitas sosial masyarakat kita nampaknya nilai puasa belum terinternalisasi dalam pola perilaku maupun sikap. Hal itu terwujud masih banyaknya prilaku korup yang dilakukan para petinggi kita, yang seharusnya mereka menjadi suri tauladan bagi masyarakat, apalagi masyarakat kita paternalistik, menurut istilahnya Yahya Muhaimin “bapakisme”, dimana yang di atas menjadi figur cerminan dalam berprilaku masyarakat.

           Juga dalam sisi yang lain, masyarakat “the have”atau masyarakat “gedongan” lebih bergaya “demonstration effect”, hanya pamer kekayaan, tanpa ada rasa derma sedikitpun untuk mengurangi beban tetangganya yang sangat membutuhkan uluran tangan mereka.

           “Demonstration effect” inilah yang sering menimbulkan di kalangan masyarakat miskin sikap “kecemburuan sosial”, yang ujung-ujungnya menimbulkan kejahatan atau ketidaknyamanan dalam kehidupan. Ini artinya puasa tidak membuahkan “surga”. Tapi malah menciptakan “neraka” sosial.

Drs. H.Moh. Makhrus : Guru Sosiologi SMA Muallimin, MA Muallimin Weleri. Dan MA NU 06 Cepiring.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here