Mengenal Sosok KH. M. Suyuthi Muslih, Mubaligh Faqih dari Weleri

0
64
iklan

Oleh: M. Irhamni Sabil

KH. M. Suyuthi Muslih terlahir dengan nama lengkap Muhammad Suyuthi dari pasangan H. Muslih dan Hj. Siti Rubaiah di Desa Karangdowo Kecamatan Weleri Kabupaten Kendal, 16 Februari 1952. Putra ke 4 dari 5 bersaudara ini masih terhitung sebagai paman dari H. Masrur Masykur, Wakil Bupati Kendal periode 2015-2020, seibu lain bapak dengan Hj. Fauzanah ibunda H. Masrur Masykur.

Ayahnya, H. Muslih merupakan seorang petani biasa yang memegang teguh prinsip dalam beragama Islam dan memiliki rasa mahabbah dan penghormatan kepada para kiai dan ulama. Terbukti rumah tinggalnya terbuka bagi siapa saja untuk dijadikan sebagai tempat pengajian dan sentral perkumpulan para penggerak Nahdlatul Ulama di Weleri. Kecintaannya pula yang mendukung salah satu anaknya memperdalam ilmu agama di beberapa pesantren.

Iklan

Dukungan orang tua atas niat anaknya tersebut merupakan contoh baik bagi kita semua, agar senantiasa mendekatkan diri dan mahabbah kepada para alim ulama, sehingga barokah mengalir dalam kehidupan kita dan menjadi washilah dikabulkannya doa dan hajat kita, termasuk doa untuk memiliki keturunan yang Shaleh dan Shalehah.

KH. M. Suyuthi mengawali pendidikannya sebagai siswa Sekolah Rakyat (SR) hingga Pendidikan Guru Agama (PGA) selama 6 tahun di lembaga pendidikan Muhammadiyah Weleri, sebab pada saat itu di Kendal belum berdiri lembaga pendidikan di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Sehingga dimasa itu ia dikenal sangat dekat dengan teman-teman dari Muhammadiyah. Setelah menyelesaikan pendidikan di PGA, ia melanjutkan rihlah ilmiyah-nya yang pertama di Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang di bawah asuhan KH. Chudlori. Di pesantren tersebut ia juga berkawan dekat dengan putra KH. Chudlori, KH. Ahmad Muhammad Chudlori (Mujiz Mujahadah Nihadhul Mustaghfirin).

Di pesantren API Tegalrejo Magelang ia juga berkawan dengan Abah KH. Suyuthi Murtadho (Pengasuh PP. Manbaul Hikmah, Sabetan Kaliwungu) dan Abah KH. Danial Royyan (Ketua Tanfidhiyyah PCNU Kendal). Selama mondok di Tegalrejo, ia mempelajari beberapa bidang ilmu, diantaranya ilmu Nahwu, Shorof, Fiqh, Ushul Fiqh, Tasawuf, Tafsir, Mantiq, Balaghoh dan ilmu keagamaan lainnya.

Setelah Tegalrejo, ia melanjutkan mondok di Pondok Pesantren Al-Balagh Rembang di bawah asuhan Syeikhina KH. Misbah Musthofa, paman dari KH. Musthofa Bisri, seorang ulama yang dikenal produktif menulis banyak kitab dan “kuat” dalam memegang syari’at hukum Islam. Hal ini bisa dilihat dari beberapa kitab yang ditulisnya, diantaranya Tafsir Al-Iklil dan terjemah Arab pegon kitab Tajul Arusy. Di pesantren Al-Balagh ia merupakan adik tingkat KH. Muhibbudin Mahfudz Pengasuh Pondok Pesantren Kapulisen Kaliwungu.

Selama di Al-Balagh, ia memantapkan pilihannya untuk fokus menekuni  ilmu fiqh dan Tafsir. Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh sosok Syeikhina KH. Misbah Musthofa yang terkenal alim dan wira’i, sampai dulu pernah diceritakan kepada penulis bahwa Syeikhina ini pernah “ditangisi” oleh keluarganya sebab sangat zuhud dan wira’i nya kehidupan beliau yang hidup jauh dari kata kemewahan. Hidupnya hanya digunakan ibadah, mengajar santri dan menulis kitab. Beliau hanya menggunakan rezeki yang halal saja dan menolak keras rezeki yang subhat termasuk beliau sangat anti terhadap sumbangan dari pejabat pemerintahan saat itu.

Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 1973 ia pindah ke Weleri sebab mendapatkan mandat dari KH. Yusuf  bin H. Abdul Manan (Abah dari Gus Mustaqim Yusuf Weleri) selaku ulama Weleri untuk membantu perjuangan syi’ar Islam di Weleri.

Ia pun boyong dan bermukim di Weleri. Namun, ia masih melanjutkan mengaji kitab sebagai santri kalong kepada KH. Abu Dzar Alghifari (Pondok Pesantren Kedinding Brangsong) dan KH. Munawwir (Pondok Pesantren Al-Munawwir Gringsing Batang). Tak lama setelah itu, pada tahun 1978 Abah KH. Yusuf wafat pada usia 26 tahun, usia yang terbilang masih sangat belia. Mau tak mau ia pun harus melanjutkan estafet perjuangan dakwah Abah Yusuf, mulai dari ngampu Masjid, mengasuh majlis taklim, mendirikan dan mengajar di Madrasah Diniyyah Awaliyah, mengajar di Yayasan Pendidikan NU Muallimin, khidmah sebagai pengurus  NU ditingkat MWC dan ceramah pengajian dari satu mimbar ke mimbar lainnya di Kabupaten Kendal.

 Pada usia 31 tahun, Abah Suyuthi, panggilan akrab keluarga dan santrinya melepas masa lajang dengan menikahi seorang gadis asal Kebonharjo Patebon Sri Mawardini, putri pegawai KUA Patebon H. Siyam Sudarsono tepatnya pada tahun 1983. Abah Suyuthi mengenal calon istrinya itu saat ia sedang mengisi ceramah di rumah H. Siyam Sudarsono yang tidak lain adalah calon mertuanya. Saat itu Sri Mawardini mengeluarkan hidangan untuk Abah Suyuthi. Beberapa waktu kemudian, Abah Suyuthi kembali mendatangi kediaman H. Siyam untuk meminang putrinya. Saat beliau mengutarakan maksud kedatangannya, H. Siyam sepenuhnya menyerahkan jawaban kepada putrinya.

Hasil dari pernikahannya, ia dikaruniai 4 orang anak yaitu (1) Muslihatul Ibadah  menikah dengan KH. Miftahul Huda Alhafidz saat ini tinggal di Jombang dan tengah merintis pendirian Pesantren Huffadz “Hubbul Qur’an”, (2) Muhammad Dzulfikar menikah dengan Ismiya saat ini tinggal di Weleri bekerja di Kospin JASA dan berwirausaha Barbershop, (3) Muhammad Irhamni Sabil menikah dengan Retno Widhianingrum, saat ini tinggal di Caruban Ringinarum bekerja sebagai Kepala Kas BPR Nusamba Cepiring dan tengah menyelesaikan pendidikan S2 nya di Unwahas Semarang, dan terakhir (4) Dina Nailal Amanah menikah dengan Sohib Rizal tinggal di Weleri dan berwirausaha.

Dalam kehidupan berumah tangga, seperti yang dituturkan secara langsung oleh istrinya Hj. Sri Mawardini kepada penulis, Abah Suyuthi adalah sosok kepala rumah tangga yang sangat sayang dan perhatian terhadap keluarganya. Prinsipnya jika sakinah, mawaddah wa rahmah tak dapat diraih semuanya, minimal rahmah atau kasih sayang itu harus menjadi benteng terakhir untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Sehingga beliau seringkali mengatakan bahwa keluarga adalah “hiburan” dikala susah maupun senang, saat kita sedang senang berkecukupan rezeki maka orang pertama yang harus merasakannya bukan orang lain melainkan keluargannya sendiri, dan dikala kita sedang susah ataupun sedih yang harus kita ingat adalah keluarga, merekalah alasan untuk bangkit dan berjuang.

Abah Suyuthi mampu menjadi sosok yang sangat dikagumi oleh keluarganya, dapat berperan menjadi suami, bapak, dan sahabat yang baik, sehingga semua anak-anaknya merasa dekat lahir batin dengan beliau. Bahkan diketahui bahwa beliau saat marah tidak pernah membentak dan berbicara kasar, baik kepada istri maupun anak-anaknya. Singkatnya beliau sebagai kiai dan ulama panutan umat, dalam rumah tangga menempatkan diri sebagai pribadi yang tegas, lugas, dan penyayang. Anak-anaknya tidak pernah dipaksakan untuk menjadi apa, namun dibebaskan secara demokratis. Beliau membebaskan anak-anaknya untuk menjadi apa yang mereka cita-citakan.

Layaknya kehidupan kiai lainnya, untuk mencukupi kebutuhan hidup, ia tidak berprofesi sebagai pegawai swasta atau Pegawai Negeri Sipil namun bekerja sebagai wiraswasta baik berdagang maupun bertani. Hal ini dilakukan berdasarkan pesan dari guru Syeikhina KH. Misbah Musthofa yang mengatakan bahwa santri harus berdaya dan mandiri, tidak bergabung dalam birokrasi orde baru yang pada waktu itu dinilai sebagai rezim yang dzalim. Selain itu, menurut beliau hal ini dilakukan agar dalam khidmah kepada NU dan masyarakat tidak dibatasi oleh aturan pekerjaan dan waktu. Baginya, niat berkhidmat harus tulus dan totalitas agar terhindar dari rasa thomak, maka seorang kiai harus menyelesaikan “urusan dapur”-nya terlebih dahulu jangan sampai mengharapkan keuntungan dari khidmah tersebut.

Masa khidmah dan perjuangannya sebenarnya telah dimulai sejak ia berumur 26 tahun, tepatnya sejak wafatnya Abah KH. Yusuf. Abah KH. Yusuf menunjuk Abah Suyuthi sebagai pemegang tongkat estafet selanjutnya karena Abah Suyuthi dikenal memiliki keilmuan dan wawasan keislaman yang luas. Selanjutnya pada tahun 1977 beliau mengabdikan diri di Yayasan Pendidikan NU Muallimin Weleri sebagai guru ke-NU-an dan pendidikan agama Islam (PAI) hingga tahun 1988.

Tahun 1981, KH. Suyuthi mendirikan pondok pesantren salaf Pondok Pesantren Al-Inhadl karena semakin banyak masyarakat dan santri ingin belajar langsung kepada beliau. pondok pesantren Al-Inhadl yang berarti jamak dari kebangkitan, dengan harapan agar hal tersebut dapat menjadi momentum untuk kebangkitan keilmuan agama dan pesantren. Lokasinya berada disebelah barat ndalem Karangdowo.

Adapun santri mukimin yang nyantri berasal dari sekitar Kabupaten Kendal dan kabupaten tetangga seperti Temanggung dan Batang. Selain itu, ia juga mengasuh majlis taklim yang berada di daerah Tambakroto Sukorejo di bawah kaki gunung Perahu setiap sebulan sekali. Ia merupakan sosok ulama, mubaligh dan politisi yang mengasuh beberapa majlis taklim dan majlis dzikir yakni Majlis taklim kuliah subuh berisi kajian tafsir Alquran kitab tafsir al-Ibriz karya KH. Bisri Musthofa di Masjid Baiturrahman Karangdowo (sekarang diasuh oleh KH. Mustaqim Yusuf) dan majlis taklim dan dzikir yang kemudian nama majelis ini berganti beberapa kali.

Pertama kalinya majlis taklim dan dzikir bertempat di rumah sendiri dengan aurod pembacaan wirid shalawat jibril sejumlah 3000 kali dan pengajian kitab kuning, kemudian majlis ini berganti nama menjadi PEMASA (Pengajian Malam Selasa) berisi pembacaan mujahadah Nihadhul Mustaghfirin dari Pondok Pesantren API tegalrejo Magelang dan tanya jawab masalah seputar keagamaan. Terakhir Majlis Taklim tersebut berganti nama lagi menjadi majlis dzikir dan shalawat nariyah dengan kegiatan pembacaan wirid shalawat nariyah sejumlah 4.444 kali secara berjamaah dilanjutkan pengajian kitab Durratun Nashihin. Disela-sela kesibukan mengurus beberapa majlis taklim, ia masih sempat menerima tamu-tamu yang datang, walau hanya sekedar minta doa dan meminta fatwa tentang hukum suatu problematika.

Pernah suatu ketika, beliau menerima tamu seorang wanita yang telah bersuami namun mengaku telah berselingkuh dengan pria lain yang juga telah beristri. Maksud kedatangan wanita tersebut adalah meminta untuk dimediasi dengan pasangan selingkuhannya dengan tuntutan agar mengembalikan semua uang dan barang yang selama ini wanita tersebut telah memberikannya kepada pasangan selingkuhannya. Abah Suyuthi tidak menghujat perbuatan maksiat mereka secara langsung, namun justru diterima dengan baik, tetapi pada saat proses pertemuan mediasi tersebut ia tidak menyinggung soal tuntutan wanita tersebut melainkan menasehati keduanya agar segera mengakhiri hubungan terlarang itu dan bertaubat kepada Allah sebelum Allah sendiri yang akan mengakhiri hubungan maksiat mereka. Qodarullah beberapa bulan sejak kejadian itu, pria pasangan selingkuh tamu wanita tadi dikabarkan telah meninggal dunia. Entah hubungan terlarang tersebut sudah diakhiri atau belum sebelum meninggalnya pria pasangan tamu wanita tadi, Wallahu a’lam …

Selanjutnya, pada sekitar tahun 1989 Abah Suyuthi didorong oleh sesepuh, warga Nahdhiyyin dan masyarakat luas untuk maju sebagai anggota legislatif melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Karena pada saat itu negara masih menganut fusi 3 partai yakni PPP, Golkar dan PDI. Hasilnya Abah Suyuthi sempat menjabat sebagai anggota DPRD Kendal selama 2 periode dan berakhir pada tahun 1998 akibat reformasi birokrasi tumbangnya rezim Orde Baru. Pada saat menjabat anggota DPRD, Abah Suyuthi masih tetap aktif melakukan aktivitas sosial keagamaannya. Di DPRD Abah Suyuthi satu fraksi dengan KH. Subchan Noer Fathoni (Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Kersan Pegandon) dan Nyai Hj. Muksodah Azizi (Pondok Pesantren Darul Hikmah Lanji Patebon).

Peristiwa yang paling berkesan dan membekas diingatan warga Weleri, adalah tatkala terjadinya peristiwa baku tembak akibat kericuhan yang terjadi di jalan utama depan pasar Weleri baru pada tahun 1995. Saat itu merupakan masa kampanye calon legislatif periode kedua. Pada siang hari terjadi perusakan baliho partai Golkar oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Pada saat itu Golkar merupakan rival PPP. Secara sepihak, massa Golkar menuduh PPP sebagai pihak yang bertanggungjawab atas insiden itu dan membalas merobek dan membuang bendera PPP di sepanjang jalan utama Weleri.

Mengetahui hal itu, Abah Suyuthi langsung bergerak ke lokasi kejadian bersama massa PPP. Ternyata di lokasi kejadian, telah berjejer ABRI dan POLRI yang bermaksud mengamankan situasi. Namun na’as, lagi-lagi terjadi ada pihak yang tidak bertanggungjawab melempar bata merah dari lantai atas pasar Weleri dan melukai salah satu anggota ABRI. Suasana pun seketika langsung berubah mencekam dan terjadi chaos. Para anggota ABRI dan POLRI secara membabi buta memberondong peluru tajam kepada massa yang dibawa KH. Suyuthi. Spontan massa bubar lari tunggang langgang, dan banyak memakan korban luka dan beberapa korban jiwa, termasuk Abah Suyuthi juga mengalami luka tembak di sebelah betis kanan. Namun Alhamdulillah tidak sampai melukai hanya membekas gosong hitam.

Abah Suyuthi dianggap orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian siang itu, sehingga sempat ditahan untuk diinterogasi selama berjam-jam. Meskipun dalam suasana yang chaos dan mencekam, Abah Suyuthi telah berhasil mengamankan komplek pertokoan milik kaum Tionghoa yang ada disepanjang lokasi kejadian agar tidak terjadi perusakan dan penjarahan barang dagangan. Maka tidak heran, beliau dikenal dekat dengan komunitas Tionghoa Weleri.

Selepas purna tugas dari anggota DPRD, Abah Suyuthi melanjutkan aktifitas dakwahnya. Ia diminta masyarakat untuk memberikan bimbingan manasik haji bagi calon jamaah haji, sehingga pada tahun 2002 ia mendirikan KBIH Multazam. Namun pada tahun 2007, KBIH ini berhenti beroperasi karena banyak kompetitor yang mendirikan KBIH serupa serta daftar tunggu haji yang panjang.

Setelah KBIH Multazam berhenti beroperasi, pada tahun 2009 beliau kembali diminta oleh DPC PPP Kabupaten Kendal dan didukung oleh masyarakat untuk kembali mencalonkan diri sebagai anggota DPRD. Beliau mencalonkan diri melalui Partai Politik PPP. Setelah reformasi muncullah beberapa partai, salah satunya adalah PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) yang diklaim sebagai partai nya wong NU. Abah Suyuthi masih teguh berada di PPP dikala yang lain berbondong-bondong pindah ke PKB. Hal ini dilakukan karena beberapa pertimbangan, yaitu, pertama karena PPP merupakan partai pertama yang didirikan oleh para ulama dari berbagai ormas Islam yang ada di Indonesia termasuk NU, bahkan dahulu Simbah KH. Adlan Aly, Jombang pernah berfatwa sarana berjuang politik melalui PPP adalah ibadah, barang siapa berpolitik selain lewat PPP adalah haram. Alasan kedua, beliau mendapat pesan khusus dari Sang Guru Kiai Syaikhona KH. Maemon Zubair selaku Ketua Majlis Syariah DPP PPP dengan menyetir kaidah fiqhiyyah:

ما لايدرك كله لا يترك كله

“Jika tidak didapati seluruhnya, jangan tinggalkan seluruhnya (kerjakan semampunya)”.

Maksudnya adalah dalam konteks politik, jika PPP tidak bisa dikuasai sepenuhnya oleh warga Nahdliyyin karena terdiri dari berbagai macam kelompok ormas Islam non NU, maka jangan semuanya politisi Nahdliyyinberpindah ke PKB sepenuhnya dan meninggalkan PPP seluruhnya. Namun harus ada sebagian yang tetap tinggal di-PPP untuk menjadi penyeimbang dari kaum ormas selain NU. Oleh sebab itu, sampai akhir hayatnya untuk ijtihad politik beliau istiqomah di PPP.

Setelah mengalami ketidak beruntungan dalam Pileg 2009, Abah Suyuthi tetap kembali kepada umat meneruskan kembali khidmat dan perjuangan dakwah di masyarakat. Pada tahun 2012 kondisi fisik beliau yang semakin sepuh mulai sakit-sakitan karena memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus dan hipertensi. Hingga pada usia 61 tahun, Abah Suyuthi menghembuskan nafas terakhirnya tepat pada tanggal 27 Rajab 1431 atau 30 Mei 2013. Beliau meninggalkan warisan luhur berupa keteladanan dan pengabdian terhadap umat selama 35 tahun lamanya. Ia tetap konsisten berdakwah dan khidmah pada NU dengan amanah terakhir sebagai A’wan Syuriah PCNU Kendal. Semoga khidmah dan amalan sholeh beliau menjadi pahala jariyah. Amin.

Penulis adalah Wakil Ketua Pimpinan Cabang Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor Kendal

iklan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here