Mengapa “Sebagian Mereka” Tidak Pernah Merasa Berdosa Atas Hoax?

0
39
Oleh: Shuniyya Ruhama 

Kita sering sekali merasa tidak habis pikir mengapa begitu mudah seseorang menukil, mengomentari, mengunggah hingga meng-share yang akhirnya memviralkan sesuatu yang tidak diketahuinya.

Padahal, kerap kali isinya ialah ghibah, fitnah, ujaran kebencian, hingga pembunuhan karakter pada seseorang.

Umumnya, sebagian mereka adalah pelaku korban akibat brain storming atau cuci otak dari kesengajaan untuk memecah belah sesama anak bangsa. Apa saja bisa dijadikan bahan untuk kepentingan tersebut.

Salah satunya ialah dicuci otaknya. Bahwa sebagian mereka dikhayalkan sehingga merasa sedang perang dengan kita/pemerintah/pendukung pemerintah.

Menurut sebagian mereka dalam perang, membunuh saja boleh, apalagi hanya menyebar berita bohong dan pembunuhan karakter. Itu bagian dari strategi perang.

Yang lebih mengerikan, salah satu pembenarannya ialah sabda Rosulullah SAW yang intinya “berbohong itu dosa besar kecuali atas tiga perkara”.

Pertama, berbohongnya seorang suami untuk menyenangkan istrinya. Kedua, bohongnya seseorang untuk mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai. Ketiga, bohong dalam siasat perang.

Nah, menurut penafsiran mereka, yang dilakukan mereka adalah golongan ketiga ini. Jadi sah bahkan “sesuai sunah Rosulullah”. Tentu atas pemahaman yang sangat ngawur.

Lebih lanjut lagi, itulah mengapa sebagian mereka TIDAK PERNAH MERASA BERDOSA ketika memfitnah, meng-ghibah, dan meng-hoax serta menyebarkan ujaran kebencian.

Ketika dihadapkan dengan hukum, biasanya mereka berdalih membela agama. Atau hanya ikut menyebarkan saja, tidak tahu menahu asalnya. Tentu sambil mengibarkan bendera ukhuwah.

Biasanya kita segera memaafkan. Hal ini berlangsung sangat luas sehingga sama sekali tidak menimbulkan efek jera.

KITA WAJIB FAHAM POLA PIKIR MEREKA. Supaya tidak mudah bingung, tidak gampang kaget dan tidak habis pikir dengan perilaku jahat tersebut.

Sudah saatnya gerakan persekongkolan jahat ini segera dihentikan dengan ketegasan dari para korban. Sebab, jika dibiarkan akan jatuh korban-korban semakin luas.

Yang lebih sadis lagi, sebagian besar korbannya adalah para ulama, para umaro, dan mereka yang konsisten melawan radikalisme. Oleh karena itu, kita tak perlu menunda lagi untuk mengajukannya ke proses hukum sebagai pembelajaran untuk lebih menghormati dan memanusiakan manusia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here