MENELISIK TRADISI-TRADISI SURO MASYARAKAT JAWA

0
337

(Ahmad Solekhan)

 

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Muharrom, yang oleh masyarakat jawa populer dengan sebutan bulan Syuro. Yakni dengan mengambil potongan suku kata istilah hari ke sepuluh bulan Muharrom, yaitu kata  “ ‘Asyuro”.

Dalam masyarakat Jawa, Bulan Syuro ini mempunyai arti penting tersendiri, bukan hanya sebagai awal tahun baru dalam Kalender Jawa saja, tetapi lebih dari itu ada aroma sakral yang mereka kenakan sebagai ciri khas bulan ini. Dan dampak dari pemahaman ini oleh masyarakat jawa tergambar dengan berbagai ragam pantangan kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan pada bulan-bulan yang lain,seperti pantangan mengadakan akad maupun resepsi menikah.Terlebih pada tanggal satu Syuro. Di samping itu pada bulan ini juga terdapat kekhasan kegiatan ritual dan ceremony , antara lain : jamas pusaka, melekan (tidak tidur semalaman), sedekah bumi, nyadran, siraman (mandi malam suro),tapa mbisu (menahan tidak berbicara apapun), nyekar (menziarahi leluhur ) dan lain-lain.

Sebagai khazanah budaya dari hasil akulturasi budaya hindu , jawa dan Islam, bagi masyarakat muslim berkultur nahdliyyin memang perlu kajian mendalam untuk memilah dan memilih, manakah yang perlu kita lestarikan secara total tanpa perlu koreksi, dan manakah yang perlu modifikasi melalui asimilasi, dan mana pula yang perlu koreksi menyeluruh dengan harus menanggalkannya karena mengandung unsur-unsur prinsipil yang melanggar syar’i.Paramater untuk menyeleksi sebuah tradisi tidak cukup hanya dengan kajian fiqih ansich semata, tetapi lebih dari itu memerlukan kajian filosofis , tentang hakikat dan subtansi dari sebuah tradisi tersebut.

Tradisi Selamatan Bari’an

Salah satu acara ritual yang sering dibiasakan oleh masyarakat adalah Selamatan Bari’an. Jika dilihat secara mendalam, essensi dari acara tersebut  merupakan realisasi dari nilai-nilai ajaran Islam yang tidak dilarang. Karena isi acara ini tak lain hanya bersedekah makanan, doa bersama , dan ramah tamah menjalin keakraban dengan makan bersama. Memang ada hal yang unik, karena acara ini mengambil tempat di lokasi persimpangan jalan, ujung desa, atau tempat lain yang memang sengaja dipilih. Tetapi selama memang tujuannya baik dan tidak mengkhususkan sesuatu yang mengarah pada sebuah keharusan, atau selama tidak menimbulkan sebuah keyakinan bahwa dengan tempat itulah terkabulnya doa ditentukan, maka tidak ada masalah.

Masalah unik berikutnya adalah adanya tradisi pembakaran kemenyan atau menaburkan bunga, hal ini tentu membutuhkan pemahaman tersendiri. Adakalanya kemenyan dan wewangian bunga dimaksudkan sebagai parfum natural yang mendorong  kekhusukan berdoa, maka hal ini saya kira tidak menyalahi syar’i. Sedangkan bila mengandung unsur mistis dengan dimaksudkan sebagai media mengundang roh, atau menghadirkan sosok metafisik lain, maka ini adalah ritual haram yang dilarang, sebagaimana yang pernah diputuskan oleh Tim Bahtsul Masail NU tahun 2001.

Acara Melekan dan Puasa Mbisu

Nilai filosofis acara melekan dan puasa mbisu, adalah bahwa seseorang yang memasuki tahun baru berharap mendapatkan limpahan rahmat Allah. Dalam tradisi jawa ,sudah dikenal bahwa tirakatan (riyadhoh ) dalam bentuk “melekan” atau mencegah tidur dan sempurna dalam keadaan terjaga menjadi kunci mengasah spiritual, sehingga seseorang mempunyai “daya linuwih.”Istilah “tirakat “ sendiri berasal dari bahasa arab “ taraka “, yang berarti meninggalkan, yakni meninggalkan kenikmatan jasmani berupa tidur dan ucapan lesan yang logho (tidak bermanfaat).

Ada beberapa koreksi yang perlu kita lakukan agar tirakatan ini selaras dengan ajaran Islam, yang pertama materi” amalan melekan”, diarahkan pada hal-hal yang positif , seperti berdzikir, sholat sunnah, motholaah ilmu, dan hal-hal yang bermanfaat lainnya. Bukan justru “ melekan” ini didorong dengan hal-hal yang logho bahkan maksiat, seperti kuat melek dengan diserttai main kartu judi, atau begadang sambil berdendang di pinggir jalan, Demikian pula “puasa mbisu” yang dimaksudkan dipahami sebagai upaya mencegah ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat, dan mengalihkannya pada ucapan yang bermanfaat.

Koreksi yang kedua, bahwa tirakatan semacam itu bukan tergantung pelaksanaannya pada moment suro atau muharrom semata, sehingga tidak menjadikan sebuah penetapan bahwa “ melekan dan puasa mbisu “ itu waktunya saat bulan suro.

Koreksi yang ketiga, tentunya tirakat itu tidak menjadikan sebab atau sumber munculnya akibat-akibat negatif, dari sisi jasmani maupun rohani, baik bersifat individu atau sosial. Misal justru dengan melekan menjadi problem kesehatan, atau gangguan ketertiban masyarakat, maka hal ini harus dihindarkan.

Dalam catatan perjalanan spiritual para wali-wali Allah, bahwa mereka menempuh thariqah (jalan )menuju kecintaan Allah dengan tenggelam dalam nikmatnya beribadah sehingga lupa untuk tidur dan bercakap-cakap kepada manusia. Apa yang dialami para wali ini , tidak harus dipahami sebagai ajakan meninggalkan tidur semalaman atau ajakan mencegah pembicaraan. Tetapi itu sebuah akibat refleks tanpa sengaja dari asyiknya munajat kepada Allah, sehingga kebutuhan mubah untuk tidur dan berbicara pada orang lain, mereka tinggalkan.

 

Sedekah Bumi, Sedekah Laut Dan Nyadran

Tradisi sedekah bumi, sedekah laut dan nyadran, masih kental dengan masyarakat jawa. Sebab hal ini terpengaruh oleh keyakinan yang memang sudah mengkristal dalam masyarakat jawa, jauh sebelum Islam dipeluk oleh mereka. Bahkan di sebagian daerah, tradisi semacam ini diangkat sebagai aset wisata daerah, karena mengandung nilai keunikan artistic yang dapat menyedot perhatian wisatawan. Sebutlah misalkan ritual larung samudra di pantai selatan jawa.Melalui akulturasi budaya, setelah Islam masuk dan diterima oleh masyarakat , maka tradisi ini diselaraskan dengan nilai ajaran Islam tanpa menghilangkan prosesi ritual secara total. Sehingga acara ini perlu modifikasi dan evaluasi, agar menjadi tradisi yang islami, dengan beberapa ketenuan, anatara lain , jika semula acara nyadaran  berupa menyembelih hewan yang ditujukan kepada roh-roh leluhur , agar terhindar dari musibah, maka niat itu diganti dengan penyembelihan ditujukan untuk dan atas nama Allah, agar terhindar dari musibah.Terkait tentang hukum penyembelihan dengan tujuan menghindarkan bala, dan mendapatkan keselamatan dari Allah, pernah diputuskan oleh Tim Bahtsul Masail NU, sebagai hal yang diperbolehkan.

Jika benda-benda yang dilarung (dihanyutkan) ke laut berupa kepala hewan sembelihan ,makanan, atau benda-benda bermanfaat, maka hal itu yang tidak bisa ditolerir. Karena itu merupakan penyia-nyiaan manfaat , dan pemubadziran makanan yang mulia. Bisa jadi ritual tetap berjalan, tetapi benda yang dilarung digantikan dengan makanan sepantasnya untuk flora fauna yang memang ditujukan sebagai kearifan ekosistem laut, dengan niat bersedekah pada kepada sesama makhluk, bukan kepada roh penunggu laut.

Dalam budaya jawa, sejak dulu sudah mengenal fenomena cosmologis berupa interaksi gaib antara manusia dan roh-roh leluhur maupun “lelembut” (para jin). Bahkan mitos jawa mengenal adanya makhluk-makhluk gaib yang menguasai wilayah tertentu, seperti Nyi Roro Kidul, Nyi Blorong , Nyi Dewi Lanjar dan lain-lain. Mitos- mitos itu dikaitkan pula dengan legimitasi poweritas penguasa saat itu dengan dukungan para lelembut, dan interaksi ini tetap terbina secara harmonis dengan wujud ritual nyadran tersebut.

Kalaulah memang keberadaan lelembut atau para jin tersebut dibenarkan dalam Islam, tetapi tatacara interaksi manusia dengan jin, Islam mendasarkan aturan yang ketat, karena hal ini sangat beresiko merusak aqidah dan menuju pada kesyirikan.

Nyekar Pesarean

Tradisi nyekar mempunyai kaitan erat dengan amalan ziarah kubur , maka tradisi ini mempunyai essensi yang bersesuaian dengan nilai-nilai Islami. Barangkali hanya tata caranya saja yang sedikit dievaluasi, juka ada hal-hal yang sedikit menyimpang dalam kegiatan nyekar. Materi yang tercakup dalam ritual nyekar, antara lain tabur bunga, dan mendoakan dan meminta restu pada arwah leluhur. Kesemuanya masih dalam koridor aqidah yang lurus, walaupun tetap dengan perselisihan pendapat .

Jamas Pusaka

Masyarakat jawa, sejak dulu telah dikenal memiliki kekuatan spiritual dan metafisik melalui hasil karyanya yang berupa pusaka. Bahkan pada saat islam masuk dan menjadi agama mayoritas masyarakat jawa, keberadaan pusaka sebagai mahakarya dengan menyimpan kekuatan metafisik ini masih dipertahankan, antara lain Sunan Kali Jaga , sang maestro da’i  yang dikenal mempunyai pusaka berupa jubah Kutang Ontokusumo dan  Keris Kyai Carubuk. Kesultanan Mataram , menjadikan pusaka sebagai simbol kejayaan, poweritas dan keabsahan kepemimpinan kraton, seperti Keris Kyai Ageng Kopek, Keris Kyai Joko Piturun, Tombak Kyai Plered dan lain-lain.

Kekuatan- kekuatan metafisik sebuah pusaka terbagi menjadi tiga hal, yang pertama dikarenakan struktur logam bahan pusaka memang mengandung energi, sebagaimana batu giok, tritanium atau uranium , yang energi itu bisa dibangkitkan melalui proses kinetik gerakan jurus atau olah tenaga dalam. Kedua kekuatan metafisik yang timbul karena pusaka itu menyimpan transfer energi, seperti baterai yang sewaktu-waktu bisa dimunculkan energinya bisa ada stimulan atau pembangkitnya. Ketiga, kekuatan metafisik yang terjadi karena interaksi gaib , seperti tersemayami oleh jin .

Inti Penjamasan pusaka ini adalah menjaga keawetan secara fisik dan daya kekuatan secara metafisik. Jika cara penjamasan ini berupa olah energi murni dari ikhtiar manusia secara fisik, dan sarana “ubo rampe”nya berupa kembang setaman dan lain-lain , hanya sekedar pembantu konsentrasi membangkitkan dan mengolah tenaga kinetik , maka hal ini tidak menjadi masalah , karena itu bagian dari sebuah sains dan teknologi. Hanya pengkhususan waktunya , mengapa memilih moment Syuro, yang dipermasalahkan. Jika hanya sekedar memilih waktu, tanpa ada keyakinan adanya manfaat dan madharat tertentu pada moment Syuro,barulah ritual ini tidak masalah.

Sedangkan apabila penjamasan itu merupakan proses interaksi dengan jin, yang bersemayam dalam pusaka itu, sehingga ada persembahan-persembahan yang dilakukan untuk memenuhi keinginan jin yang bersangkutan, maka ini memerlukan kajian mendalam dalam ilmu hikmah (mistik), disamping juga vonis hukum secara fiqhi. Kisaran kajian fiqih yang terdekat dengan masalah ini adalah tentang istikhdam (menjadikan khadam bangsa Jin), yang cenderung dilarang oleh para ulama fiqih.

Dalam khazanah Islam, banyak kisah tentang berkah yang terkandung oleh benda-benda peninggalan Nabi bahkan juga orang – orang soleh, sehingga ada manfaat yang diberikan Allah ketika benda-benda itu dimaksudkan untuk untuk tujuan tertentu. Tetapi tidak ada periwayatan tentang bagaimana proses perawatan benda-benda peninggalan Nabi atau para wali tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat jawa.

 

 Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa tradisi masyarakat terkait bulan Syuro ini perlu pendalaman pemahaman ,sehingga dapat dikemukakan nilai filosofis yang mendasari sebuah hukum. Tradisi yang sudah mengkristal bahkan dijadikan aset budaya ini, tidak bisa divonis hitam secara spontan, karena akan mengakibatkan respon emosional yang menempatkan budaya dan agama dalam garis yang konfrontatif. Maka agama yang harus membiaskan budaya menjadi modifikasi baru yang selaras dengan agama, tentu dengan terus meningkatkan pemahaman dan keimanan masyarakat tentang Islam agar selanjutnya mereka bisa berfikir logis, ,kritis ,progresif dan produktif sehingga tradisi yang memang tidak bisa lagi dibiaskan, diselaraskan dengan nilai-nilai Islam, pada saatnya biarlah menjadi catatan sejarah dan dimuseumkan. Karena kepentingan menyelamatkan aqidah lebih utama daripada mengambil manfaat yang lain, “Dar ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here