Menelisik Tokoh Mbah Cawis (Syirojudin) Dalam Khoul Desa Peron Sukorejo

0
292

whatsapp-image-2016-10-09-at-20-14-23

Setiap bulam Muharram  di Desa Peron kecamatan Sukorejo, Kendal, digelar acara khoul di maqbarah desa tersebut. Tahun ini khoul dilaksanakan hari Jum’at Kliwon, 6 Muharram 1438 H atau bertepatan 7 Oktober 2016. Acara yang dimulai pukul 06.30 wib itu diawali  dengan pembacaan surat Yasin dan Tahlil yang dikhususkan untuk “Mbah Cawis”. Siap sebenarnya “Mbah Cawis” yang nama aslinya Syirojudin ? Berikut  penelisikan redaktur pcnukendal.id dalam acara khoul tersebut.

Pagi itu jam baru menunjukkan pukul 06.30 wib ketika saya sampai di rumah kyai Abdussalam salah satu a’wan syuriyah  MWC NU Sukorejo yang menjadi tempat transit Acara khoul “Mbah Cawis Syirojidin. Sayup-sayup dari radius 300 meter lewat pengeras suara terdengar alunan dzikir dan lantunan ayat suci Al Qur’an dari maqbarah desa Peron.

Sambil minum kopi panas untuk sekedar menghangatkan badan setelah menembus udara pagi dalam perjalanan, disela-sela menunggu KH. Ahmad Suud Chaer yang akan mengisi pengajian khoul, kesempatan itu saya gunakan untuk mencari tahu siapa sebenarnya  mbah Cawis Syirojudin.

Berdasarkan keterangan kyai Abdussalam mbah Cawis adalah nama samaran (sandi), nama asli mbah Cawis yakni Syirojudin. Mengapa harus menyamarkan namanya tentu ada tujuan tertentu. Kyai Abdussalam menuturkan bahwa mbah Cawis Syirojudin sebenarnya masih keturunan Sunan Apel dan  Prabu Brawijaya 5.                         

Penjelasan kyai Abdussalam didukung data yang disodorkan kyai Kasri, rais syuriyah PR NU desa Peron. Kyai Kasri menunjukan foto copy yang dilaminating yang berisi silsilah  Sunan Ampel dan Prabu Brawijaya 5 yang kalau dirunut ke bawah sampailah kepada mbah Cawis Syirojudin. Dibalik lembaran itu ditulis keterangan dari mana mbah Cawis Syirojudin  berasal dan bagaimana ia bisa sampai desa Peron Sukorejo.

Brosur tersebut ternyata ditulis oleh KHR khumaedullah pengasuh pondok API Jetis Pakisan Patean, salah satu mustasyar PCNU Kendal pada tanggal 23 Desember 2011. Dalam brosur juga diberi keterangan bahwa beliau menulis silsilah itu karena permintaan masyarakat desa Peron.

Jika mengamati gelar KHR (Kyai Haji Raden) yang menyemat pada sesepuh masyarakat eks kawedanan Selokaton itu dan menyandingkan dengan silsilah tersebut, maka jika silsilah diteruskan akan sampai juga pada kyai Khumaidullah karena beliau putra KH. Abdul Jabar.

Dalam tulisan  KHR. Khumaedulloh tersebut diceritakan setelah perang Diponegoro berakhir dengan ditangkapnya Pangeran Diponegoro di Magelang. Banyak pengikut pangeran Diponegoro yang melarikan diri karena dikejar-kejar Belanda. Salah satunya mbah Mertogati dan putranya Syirojudin dari Palar Boyolali. Mertogati kemudian menyamar dan mengganti nama menjadi Abu Sareh (kyai Abu Sareh) dan Syirojudin mengganti nama menjadi Cawis. Dalam pelarian keduanya sampailah di dusun Kepatihan kecamatan Tersono, Batang.                         

Pada waktu itu di Selokaton Sukorejo tepatnya dusun Biron ada seorang penasehat demang yaitu mbah wali Babirullah yang kemudian dikenal dengan nama mbah Wali Biru. Mbah Cawis sering sowan ke Biron untuk minta nasehat.

Suatu saat Bupati Kendal memberi intruksi Demang Selokaton agar mengangkat beberapa penewu (semacam juru tulis/sekretaris). Atas saran mbah Babirullah, Cawis kemudian diangkat menjadi Penewu pada tahun 1836 di desa Peron (sebelah Selatan desa Selokaton berjarak sekitar 3 km). Hingga akhir hayatnya mbah Cawis yang kemudian dikenal dengan mbah Cawis Syirojudin meninggal dan dimakamkan di desa Peron.

Itulah sepenggal sejarah lokal di desa Peron Sukorejo yang perlu diketahui  agar masyarakat  memahami mengapa  diadakan acara khoul setiap bulan Muharram di desa tersebut. Wallahu a’lam bishowab. (Feature Sejarah : Fahroji)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here