Mencari Petunjuk dengan Dzat-Nya dan Perantara Mahluk-Nya

0
54
Oleh: KH Mohammad Danial Royyan

البحث في علم التصوف من كتاب “إيقاظ الهمم” للشيخ العلامة أحمد بن محمد بن عجبيبة الحسنى على شرح كتاب “الحكم” للشيخ العلامة العارف بالله إبن عطاء الله السكندري رحمهما الله تعالى

الموضوع : المستدل به والمستدل  عليه

Dalam kitab “Iqadhul Himam” karya Syeikh Allamah Ibnu Ajibah RA, Syeikh Allamah al- Arif billah Ibnu Athoillah RA membagi tingkatan golongan ma’rifat menjadi dua, yaitu:

1. Golongan Salikun atau Sairun

Yaitu orang-orang yang sedang melakukan pengembaraan spiritual atau sedang menjalani tariqat dalam usaha (jihad) untuk makrifat kepada Allah. Tingkatan ini adalah tingkatan dasar bagi seorang murid yang sedang suluk dalam usaha untuk lebih dekat dan mengenal Allah.

Dalil yang digunakan oleh golongan salikun atau sairun tersebut adalah mengenal Allah dengan tajallinya Allah, baik tajalli jamal (keindahan) maupun jalal (keagungan)Nya yang terdapat dalam alam ciptaan-Nya.

Sebagai contoh, tajalli jamal adalah ketika seseorang mendapatkan kenikmatan yang menyenangkan seperti badan sehat, uang yang cukup, kemudahan dalam hidup dan keberkahan, dll.

Sedangkan tajalli jalal seperti sakit, berbagai macam kesusahan, penderitaan yang menimpa, dan lain-lain. Semua hal yang menimpanya baik yang menyenangkan maupun yang menyusahkan, ia jadikan sebagai wasilah untuk senantiasa ma’rifat kepada Allah. Hal tersebut dinamakan المستدل عليه  (orang yang mencari dalil dengan cara memperhatikan segala fenomena yang terdapat pada alam semesta, agar ia makrifat kepada Allah). Kiai Danial menyebutnya dengan ungkapan :

من عرف الأثار ثم عرف الحق

“Orang yang mengenal alam dunia lalu ia mengenal Al-Haqq”.

Tingkatan ini adalah bagi orang-orang yang sedang belajar dan mengamalkan tariqat agar dapat makrifat kepada Allah. Tingkatan ini oleh Syeikh Ibnu Athoillah RA disebut dengan ahli khidmat ( أهل الخدمة) yaitu menjadi pelayan Allah yang sedang berusaha menyingkap tabir dan hijab hingga wujudnya Nur (sinar cahaya)  Allah yang masuk dan menyinari ruhnya. Sehingga dengan demikian, ruhnya ahli khidmat tersebut  tidak terhalang lagi untuk melihat Allah;

2. Washilun atau Arifun

Yaitu orang-orang yang telah sampai pada tingkatan makrifat kepada Allah. Ruh mereka telah melihat alam malakut secara nyata atau disebut dengan sebuah ungkapan sebagaimana menurut Kiai Danial adalah sebagai berikut:

من عرف ربه عرف الحق

“Barangsiapa yang mengenal tuhanNya, maka ia benar-benar telah mengenal Al-Haqq”.

Selanjutnya Syeikh Ibnu Athoillah RA menyebut tingkatan ini dengan sebutan:

أهل الولاية والمحبة 

yaitu ahli wilayah dan cinta atau mereka telah menjadi auliyaullah (para kekasih Allah).

Sehubungan hal tersebut di atas,  Syeikh Ibnu Athoillah RA mengatakan juga bahwa orang-orang yang telah wushul (washilun) kepada Allah mereka telah diberikan keluasan ilmu, dibukakan banyak pemahaman, dan diberikan rejeki yang melimpah yaitu ilmu dan pemahaman yang luas. Sehingga diwajibkan atas mereka menginfak-kan ilmunya kepada murid-muridnya yang sedang berjalan menuju makrifat kepada  Allah.

Sebaimana Firman Allah :

لينفق ذو سعة من سعته

“Agar orang yang kaya menginfakan dari keluasaan rejekinya”.

Selain itu ruhnya orang-orang yang telah wushul (washilun)  telah mampu menerobos dari sempitnya alam dunia,  menuju makrifat kepada Allah melalui penglihatan ruhnya secara langsung. Dengan kata lain, para washilun tersebut ruhnya telah lepas dan naik (عرج) dari alam jasad menuju alam arwah, atau dari alam mulk menuju alam malakut, sehingga dengan demikian ilmu yang diperoleh oleh para washilun ini sangat luas, karena ruhnya dapat melintasi segala alam yang ada. Oleh sebab itu, meskipun jasadnya berada di alam dunia, akan tetapi ruhnya para washilun menjalajahi hingga sampai alam malakut bahkan sampai alam jabarut. Yang seperti inilah kata Kiai Danial disebut dengan :

روح كلية

Yaitu ruh yang secara totalitas tidak lagi terbelenggu oleh kekuasaan jasad, sehingga ruh tersebut dengan bebas dan merdeka menjelajah ke segala alam.

Berbeda dengan para sairun, yang sedang menempuh perjalanan menuju makrifat kepada Allah. Golongan para sairun ini menurut Syaikh Ibnu Athoillah RA masih tetap berada dalam kekuasaan alam jasad, ruh mereka terbelenggu dan terpenjarakan, sehingga belum bisa menjelajah ke alam lain, kecuali alam dunia. Ruh yang seperti ini oleh Kiai Danial disebut :

روح جزئية

Yaitu ruh yang masih terbelenggu oleh alam jasad, para sairun tersebut belum dibukakan pintu ilmu dan pemahaman, kecuali ilmu dan pemahaman yang sempit. Tetapi kata Syeikh Ibnu Athoillah RA, meskipun demikian, para sairun tidak diperbolehkan berhenti suluk, dan jika mereka bersungguh-sungguh mereka akan sampai, dan hendaklah mereka segera pindah dari alam dunia, bersenang-bersenanglah dalam taman ilmu, dan hendaklah mereka mencapai apa yang mereka mimpikan serta janganlah mereka bosan. Sebab jika mereka bosan dan kembali ke belakang, maka nasib mereka akan merugi.

Inilah sesungguhnya perbandingan antara para sairun dengan washilun, sangat berbeda jauh, “syattana“.

شتان ما بين السموات والأرض

“Jauh sekali bagaikan langit dan bumi”.

Allahu a’lam bish shawab.

Diintisarikan oleh: Muhammad Umar Said 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here