Mencapai Mahligai Surgawi Nan Hakiki

0
251
Oleh: Shuniyya Ruhama

Gambaran-gambaran keindahan surgawi yang dicantumkan dalam Alquran dan Al Hadits “hanya” merupakan gambaran betapa menariknya surga, diarahkan pada kondisi para Sahabat Nabi yang ada di zaman itu di gurun pasir. Sehingga tidak perlu heran jika gambaran surga adalah sungai yang mengalir dengan berbagai definisi (Surat An Nisa’: 13, QS At Taubah:72, dll).

Ketika Islam datang membela hak asasi wanita dengan memerintahkan kaum pria membatasi poligami, memberikan hak waris bagi wanita, dan menjunjung tinggi martabat perempuan, maka semua itu memiliki konsekuensi ganti (baca: pahala: yang lebih baik). Yakni bidadari yang matanya jeli, montok, selalu suci dan selalu perawan.

Mengapa gambarannya demikian? Jawabannya sederhana, yakni karena yang bertanya adalah pria. Jadi begitulah gambarannya. Sangat mudah dicerna oleh kaum pria. Tidak banyak pertanyaan yang berbelit-belit.

Dalam Hadits Riwayat Imam At Thabrani disebutkan, ketika Sahabat wanita, yakni Sayyidatina Ummu Salamah RA memberanikan bertanya lebih utama mana antara wanita dunia dengan bidadari surga? Maka dijawab Kanjeng Nabi bahwa wanita dunia lebih utama jauh mengalahkan bidadari surga.

Jika diterangkan secara berimbang, maka keadilan di surga amatlah terasa. Namun, jika hanya satu pihak saja, maka seakan-akan bidadari surga adalah tujuan utama, juga seakan-akan tidak “ramah wanita”. Padahal bukan demikian maksud dari firman Gusti Allah.

Bahkan ketika ditanya bagaimana dengan wanita yang wafat sebelum sempat menikah? Maka berlakulah hukum keumuman bahwa di surga semuanya mendapatkan jodoh. Artinya seorang wanita yang belum sempat menikah akan dinikahkan dengan pria yang wafat sebelum menikah juga. Ada juga penjelasan ulama, bahwa akan diciptakan makhluk semisal bidadari tetapi wujudnya laki-laki sebagai jodohnya.

Karena itu Guru Mulia KH Maimun Zubair pernah memberikan gambaran, bahwa bidadari surga itu hanya ibarat kudapan. Jodoh tetaplah istri saat hidup bersama di dunia. Demikian pula Guru Mulia Kyai Iskandar Jogja menerangkan supaya kita belajar tentang surga hingga khatam. Sebab, jika tidak justru akan merendahkan surga itu sendiri. Kesannya penduduk surga itu hanya sibuk urusan syahwat seksual semata.

Sunan At Tirmidzi juga menjelaskan dalam hadits sahihnya yang intinya ialah ahli surga selalu mensucikan Gusti Allah di waktu pagi dan sore (HR Tirmidzi: 2660), ahli surga bisa melihat Gusti Allah sebagaimana kita menatap bulan saat purnama (HR Tirmidzi: 2675), nikmat tertinggi ahli surga adalah mendapat ridlo Ilahi dan Gusti Allah tidak akan murka kepada mereka selama-lamanya (HR Tirmidzi: 2680/ status hadits hasan shahih).

Ketika Islam datang menyerukan pola hidup sederhana, menyerukan kesalihan sosial, maka konsekuensi positif yang didapatkan ialah surga dengan gambaran rumah yang terbuat dari berlian dengan keindahan detail yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata.

Dan seterusnya dan seterusnya… Bahkan jika hingga saat ini masih ada wahyu atau sunnah, bisa jadi akan muncul pertanyaan: apakah di surga ada pesawat terbang? pasti akan dijawab: di surga ada pesawat terbang yang kecepatannya melebihi kilatan cahaya, dengan pramugari yang begini dan begitu, pesawatnya terbuat dari ini dan itu.

Jika anak gaul masa kini bertanya: apakah di surga ada wifi? Maka tentu akan dijawab: pastilah, di surga ada wifi dengan kuota tak terbatas, dengan kecepatan melebihi kecepatan suara, tidak perlu loading, tidak perlu ini dan itu, semua serba over mudah dan ready for use.

Kalimat yang paling tepat menggambarkannya ialah QS Sajadah: 17 “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang”.

Kanjeng Nabi SAW memberi penjelasan melalui Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Shohih Al Bukhori dan Imam Shohih Muslim:

“Telah Kusiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang salih, yakni segala sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, yang tidak pernah didengar oleh telinga, bahkan yang tidak pernah terlintas dalam hati (dikrentekke –bahasa Jawa-) oleh semua manusia”.

Intinya, segala keinginan kita akan bisa terwujud di surga jika kita di dunia menjadi hamba yang baik bagi Gusti Allah dan baik pula kepada sesama manusia. Namun demikian, hendaknya kita tidak terlena dengan perhiasan surga sehingga melupakan dari hakikat kehidupan surgawi di akhirat yang akan datang.

Karena itu doa-doa berkaitan dengan surga umumnya dibarengi dengan jalan dan tujuannya, bukan surga sebagai tujuan. “Allahumma inna nas-alukal jannah wama qorroba ilayha min qoulin aw ‘amal”. “Allahumma inna nas-aluka ridloka wal jannah”.

Selamat beribadah menggapai ridlo Ilahi… Ingat.. surga hanyalah salah satu makhluk Gusti Allah yang diperintahkan untuk memenuhi keridloan-Nya atas manusia. Jangan sampai kita salah niat sehingga memberhalakan surga.

Penulis adalah pengajar Ponpes Tahfidzul Quran Al Istiqomah Weleri Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here