Meminta kepada Allah, Tidak kepada Selain-Nya

0
175
Oleh: KH Mohammad Danial Royyan 

البحث في علم التصوف من كتاب “إيقاظ الهمم” للشيخ الإمام إبن عجيبة على شرح الحكم للشيخ الإمام العارف بالله إبن عطاء بن السكندري رحمهما الله تعالى

‘طلب الحق لا لغيره”

Syeikh Ibnu Athoillah As Sakandari RA mengatakan bahwa sebagian dari adab (tatakrama) bagi Salik (orang yang sedang menjalani ilmu makrifat) yaitu ia tidak meninggalkan meminta kepada Allah, dan tidak meminta kepada selain-Nya. Sebab jika Salik meminta kepada selain Allah, hal tersebut menunjukkan bahwa ia tidak memiliki rasa malu dan hatinya jauh dari Allah.

Syeikh Ibnu Athoillah RA membuat perumpamaan, orang yang tidak meminta kepada Allah, tetapi lebih suka meminta kepada sesama manusia laksana seorang yang berada di hadapan raja, dan raja itu pun telah menerimanya, tetapi ia tidak mempunyai perhatian terhadap raja dan perasaannya ingin keluar dari istananya. Orang seperti itu menunjukkan hatinya masih memiliki loyalitas (kecintaan) kepada selain raja.

Dalam kondisi seperti itu, kata Syeikh Ibnu Athoillah orang tersebut tidak layak berhadapan dengan raja, tetapi harus ditolak bahkan harus diusir dari pintu istana, dan ia layak jadi pemberi minum seekor kuda pengangkut barang.

Begitulah, betapa hinanya seorang yang selalu meminta-meminta kepada sesama manusia dengan melupakan Allah Swt sebagai Tuhannya. Kata Syeikh Ibnu Athoillah RA :
والإستئناس بالناس من علامة الإفلاس
“Mencari kesenangan dengan berlindung kepada manusia merupakan tanda dari kebangkrutan”.

Selanjutnya Syeikh Ibnu Athoillah RA menambahkan bahwa tanda penerimaan hati seorang kepada Allah adalah menomorduakan makhluk, dan begitu pula sebaliknya penerimaan hatinya kepada makhluk berarti ia telah membelakangi Allah. Padahal Allah telah berfirman dalam kitab-kitab-Nya:

“Apabila Aku turunkan hajat kepada hambaKu, lalu hambaKu melaporkannya kepadaKu, sesungguhnya Aku mengetahui dari apa yang ia niatkan, seandainya hajatnya itu sebesar langit dan bumi pun, niscaya Aku jadikan bagi hambaKu suatu kelonggaran dan jalan keluar (solusi dari masalah nya). Dan sebaliknya apabila hambaKu memiliki hajat, sedangkan ia tidak melaporkannya kepadaKu, niscaya akan Aku jatuhkan ia ke dalam bumi dan Aku jatuhkan pula langit yang berada di atas kepalanya serta Aku putuskan sebab-sebab (perantara) dan hubungan diantara Aku dengan dirinya”.

Selanjutnya dalam fasal berikutnya, Syeikh Ibnu Athoillah RA mengatakan diantara adab para salik selanjutnya adalah selalu berpasrah diri kepada Allah dan ridha terhadap qadla dan qadar-Nya. Sebab mulai setiap tarikan nafas, pandangan hingga kedipnya mata semua bisa bergerak semata-mata karena qudrat dan iradat-Nya.

Nafasmu, pandangan dan kedipnya matamu itu adalah sesuatu yang terhitung dan telah dibatasi masanya. Maka ketika telah berakhir nafasmu, maka kamu akan menghadap-Nya, dan ketika nafasmu telah dibatasi masanya, maka bagaimana keadaanmu dengan semua jejak langkah kakimu dan segala apa yang terlintas dalam hatimu?”.

Bagi orang yang telah makrifat kepada Allah, kata Syeikh Ibnu Athoillah RA menghadapi segala bencana yang menimpanya ia tetap tersenyum, sebab hakekat berserah diri (taslim) kepada Allah adalah antara musibah dan nikmat adalah sama rasanya, sehingga ia tidak memilih di antara keduanya. Itulah maqam nya orang-orang muhaqqiqin yang secara nyata meyakini tentang silih bergantinya segala sesuatu adalah semata-mata karena qudrat dan iradatNya.

Allahu a’lam bis shawab.

Diintisarikan oleh: Muhammad Umar Sa'id

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here