Membangun Rumah Pesantren

0
152
Oleh: Moh. Muzakka Mussaif

Wabah global yang mematikan akibat ulah Covid 19 atau  disebut dengan corona telah melumpuhkan berbagai sektor kehidupan manusia. Mengapa demikian? Sebab, wabah ini akan sangat mudah menular pada siapapun akibat sentuan pada orang atau benda yang tertempel virus itu. Untuk memutus mata rantai penularan ini tentu saja sangat sulit dan rumit. Karena manusia sangat sulit untuk terlepas dari komunitas, baik komunitas yang ada di kantor, sekolah, tempat ibadah, maupun tempat berinteraksi lainnya. Memang, kalau ingin wabah ini segera berakhir ya pemerintah memberlakukan lockdown penuh pada daerah yang terpapar wabah.

Hal ini juga sangat sulit bagi pemerintah untuk melakukannya karena konsekwensinya juga besar. Melihat kondisi yang serba sulit ini, pemerintah akhirnya memberlakukan semilockdown dengan pengawasan ketat. Diantara kebijakan itu adalah “meliburkan” sekolah, kampus, pesantren, tempat ibadah, dan melarang berbagai perhelatan lain yang melibatkan banyak orang. Pemerintah juga telah mengatur berbagai pemanfaatan fasilitas umum, pengawasan dan pemantauan keluar masuknya orang dari luar negeri maupun sebaliknya hingga mengawasi perpindahan dan pergerakan orang dari satu tempat ke tempat lainnya.

Terlepas dari persoalan yang njlimet itu ada hal menarik yang akan saya bicarakan di sini sebagai akibat dari “dirumahkannya” para siswa, mahasiswa, santri, termasuk para pengajar dan tendiknya. Istilah dirumahkan di sini bukan berarti mereka diliburkan. Akan tetapi, mereka harus melakukan proses belajar-mengajar secara online dan atau jarak jauh. Atau bagi para karyawan wajib bekerja dari rumah atau WFH (work from home). Dengan dirumahkannya mereka, maka aktivitas rumah tangga menjadi sangat padat dan sibuk.

Karena mereka belajar dan bekerja dari rumah dalam waktu panjang, maka kejenuhan pun pasti muncul. Mereka merasa seakan dikandangkan dan tak bebas beraktivitas. Bila kondisi demikian berlarut-larut tentu saja menimbulkan stress berat penghuni rumah. Padahal stress berat ini akan menurunkan daya imun manusia. Jika hal ini dibiarkan maka juga berakibat fatal bagi semua penghuni rumah.

Untuk mengurai persoalan tersebut, salah satu solusi yang saya tawarkan adalah mendirikan rumah pesantren. Apa yang dimaksud rumah pesantren dan bagaimana konsep rumah pesantren itu?. Rumah pesantren yang dimaksud di sini adalah rumah keluarga yang kita tempati bersama anggota keluarga yang kegiatannya didesain pembelajaran pesantren. Mengapa karena saat ini rumah yang kita huni dipenuhi anggota keluarga. Dengan adanya program belajar dan kerja dari rumah, maka praktis rumah tinggal kita menjadi full anggota keluarga. Untuk mengurangi kejenuhan di rumah dan bermain di rumah selain mengerjakan tugas utama, sangat dibutuhkan ilmu agama yang sekaligus menjadi pendekatan spiritual dalam menghadapi wabah global tersebut.

Desain pesantren kecil dapat dilakukan dengan mudah yakni mengacu pada waktu sholat berjamaah lima waktu. Kita dapat memanfaatkan momen-momen solat berjamaah sesuai dengan kehendak kita. Sebagai contoh setiap selesai sholat berjamaah dapat kita isi kuliah Islam singkat tujuh menit (kultum) atau sepuluh menit (kulsum). Kedua orang tua dapat bergantian menyampaikan materi agama. Bisa juga dilakukan oleh anak-anak secara bergiliran, jika mereka bisa menyampaikannya. Hal demikian ini sangat menantang sekaligus mengasyikkan bagi orangtua maupun anak-anaknya untuk belajar dan memahami agama.

Konsep lain selain mengiringi sholat lima waktu dan sholat sunnah yang mengiringinya, kita dapat memanfaatkan waktu bakda sholat maghrib, sepertiga malam terakhir, dan bakda sholat shubuh. Sehabis sholat maghrib dengan kuliah singkat, kita dapat melanjutkan tadarus bersama atau saling menyimak bacaan Al-Quran antaranggota keluarga hingga waktu isya’ tiba.

Pada sepertiga malam terakhir, misalnya pukul 03.30, semua anggota keluarga banging untuk melakukan qiyamullail (sholat tasbih, tahajjud, hajat, dan witir) dilanjutkan dengan dzikir bersama hingga waktu shubuh tiba. Adapun setelah jamaah shubuh dengan kajian singkat, kita dapat menggunakan waktu untuk tadarus bersama. Pada sesi ini kita bisa memilih bacaan Surat Yasin, al-Waqiah, dan al-Mulk. Bisa juga kita pilih surat-surat lain yang disepakati bersama oleh anggota keluarga.

Nah, dengan mendirikan rumah pesantren ini maka semangat beribadah semua anggota keluarga menjadi lebih meningkat. Hal ini sangat menguatkan hati anggota keluarga dalam menghadapi wabah yang sangat menakutkan. Sebab, di samping belajar dan bekerja di rumah yang sangat rumit, anggota keluarga yang tengah di karantina, dapat berikhtiar sekaligus bertawakal pada Allah dalam menghadapi wabah global ini.

Penulis adalah Pengasuh MT Almushlihun Kendal dan MT Aliyakub Ngampel 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here