Membaca Pendidikan Pasca Vaksinasi

0
44

Oleh: Dr (Cand) MS Viktor Purhanudin, M.Pd

Hampir satu tahun gambar pendidikan ditanah air gelap gulita. Guru masih melaksanakan proses pembelajaran secara online menggunakan media teknologi informasi. Dosen masih melaksanakan senarai kuliah secara daring memakai aplikasi zoom, google meets dan lain sebagainya. Siswa dan mahasiswa mengikuti pembelajaran dan perkuliahan di rumah masing-masing melalui handphone dan laptop yang dimilikinya.

Kenyataan tersebut terjadi demi meminimalisir persebaran pagebluk corona. Dengan diberlakukan pembelajaran dan perkuliahan menggunakan medium teknologi informasi diharapkan interaksi antar siswa dan mahasiswa dapat dihindari sehingga penularan corona dapat ditekan. Kebijakan seperti itu patut kita apresiasi, sebab terbukti ampuh sanggup menyelamatkan anak bangsa dari penularan pagebluk corona.

Kendati berhasil memutus mata rantai pesebaran corona virus di domain pendidikan, nampaknya kebijakan pendidikan menggunakan sarana teknologi informasi juga berdampak buruk bagi keberlangsungan pendidikan. Dampak buruknya antara lain, proses pembelajaran dan perkuliahan tidak dapat berlangsung maksimal karena tidak setiap civitas akademik memiliki peralatan memadai dan sinyal internet yang mumpuni untuk mengikuti kuliah atau pembelajaran secara daring, dan esensi pendidikan yakni membentuk kepribadian yang baik tidak dapat diinternalisasikan guru dan dosen pada seluruh murid serta mahasiswa jika proses pembelajaran atau kuliah memakai sarana online.

Kita beruntung memiliki pemerintah yang sigap dan trengginas dalam mengurai permasalahan bangsa, termasuk mengurai benang ruwet masalah pendidikan yang penulis paparkan di atas. Guna menyelesaikan masalah pendidikan itu, pemerintah meluncurkan beberapa program, yakni peningkatan kompetensi penguasaan teknologi informasi bagi guru dan dosen, memberikan bantuan kuota internet untuk seluruh civitas pendidikan, membuat aplikasi pembelajaran online yang menarik dan mudah digunakan, dan percepatan vaksinasi untuk guru dosen serta tenaga kependidikan.

Terkait program percepatan vaksinasi untuk guru, dosen, dan tenaga kependidikan, mengutip artikel berita harian Suara Merdeka tanggal 25 Februari 2021 yang berjudul “Sekolah akan berlangsung di bulan Juni”, dikatakan bahwa presiden Jokowi akan memfokuskan vaksin untuk semua punggawa pendidikan. Hal itu penting agar proses pembelajaran atau kuliah dapat segera kembali berjalan secara offline. Selain itu, dalam berita tersebut juga melaporkan apabila program percepatan vaksinasi untuk guru, dosen, dan tenaga kependidikan dapat segera terealisasi, niscaya di tahun ajaran baru alias bulan Juni sekolah dan perguruan tinggi dapat menyelenggarakan proses pendidikan secara normal.

Apakah setelah semua guru, dosen, dan tenaga kependidikan disuntik vaksin corona penyelenggaraan pendidikan kita akan kembali berjalan normal? Dari sejumlah media massa yang penulis baca, sebut saja koran Tempo dan Kompas dalam artikel berita tentang vaksin corona yang mereka tulis, keduanya melaporkan bahwa vaksin corona bukan merupakan obat ampuh untuk memutus persebaran pagebluk corona. Selain itu, kedua media besar itu juga menulis alat yang mujarab untuk memutus persebaran pagebluk corona ialah 5M, yaitu memakai masker bila bepergian, kerap mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak saat beraktifitas, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan.

Tajuk rencana harian Suara Merdeka hari ini menulis, program percepatan vaksinasi untuk guru dosen dan tenaga pendidik yang didengungkan presiden Jokowi andaikata berhasil terwujud sesuai yang sudah dijadwalkan tidak serta merta dapat membikin potret pendidikan bisa kembali normal. Selain itu, tajuk rencana media tersebut juga menulis jika program vaksinasi itu berjalan lancar, di bulan Juni mendatang yang paling mungkin adalah melaksanakan proses pendidikan separuh-separuh, kadang online dan kadang offline, hal ini pun dapat terlaksana dengan protokoler 5M yang ketat.

Mengacu pada laporan-laporan media yang penulis sematkan di atas, artinya kendati program vaksinasi guru dosen dan tenaga pendidikan berjalan sesuai dengan apa yang telah di skenariokan, di bulan Juni mendatang dapat kita pastikan proses pembelajaran dan perkuliahan di sekolah serta perguruan tinggi belum bisa berjalan dengan normal. Andaikata dipaksakan juga, aktifitas belajar mengajar di sekolah dan perguruan tinggi akan berjalan dengan 5M yang ketat.

Menangkap percepatan program vaksinasi untuk guru, dosen, dan tenaga pendidikan yang diluncurkan presiden Jokowi, penulis mengajak seluruh pendidik dan masyarakat untuk mendukungnya. Bentuk dukunganya berupa menyiarkan bahwa vaksin corona aman dan halal. Dengan cara sederhana itu, niscaya para guru, dosen dan tenaga pendidikan sebagai sasaran tembak program tersebut semakin bersemangat untuk divaksin. Kalau hal itu terjadi, di bulan Juni mendatang kita dapat menyelenggarakan pendidikan yang lebih baik meski harus separuh online dan offline serta tunduk terhadap 5M.

Menutup tulisan ini, penulis kutip adagium yang pernah dilontarkan Heraklitus, filosof Yunani kuno, “inti kehidupan itu bergerak, tidak ada satu entitas yang ada dalam semesta itu abadi”. Dengan kata lain, corona sebagai bagian utuh dari semesta tentu mustahil abadi. Yakinlah, melalui program percepatan vaksinasi dalam dunia pendidikan, dan ikhitiar-ikhtiar lain yang dilakukan pemerintah, pagebluk corona akan segera lenyap dan pada akhirnya pendidikan kita akan kembali berjalan normal serta bangkit dari keterpurukan.

Penulis adalah Dosen di IAIN Salatiga

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here