MEMBACA MEMAJUKAN

0
29

MEMBACA  MEMAJUKAN

Oleh: Moh. Makhrus

Pengganti kepemimpinan Nabi Muhammad [baca: Khulafaurrosidin] yang keempat yaitu Ali ibn Abu Tholib, keponakan dan juga menantu Nabi, pernah berujar; “jika kebodohan itu berwujud manusia, maka akulah pertama kali yang akan membunuhnya”. Kapasitas Ali ibn Abu Tholib berucap demikian itu, juga sangat sesui dan selinier dengan apa yang disabdakan Nabi Muhammad; “Jika aku adalah gudang ilmu, maka Ali adalah adalah pintunya.

Antara gudang dan pintu sangat berkaitan, bahkan keduanya merupakan kemanunggalan. Tidak mungkin ada gudang tanpa adanya pintu, dan begitu sebaliknya. Apa artinya sebuah gudang kalau tidak berpintu. Pintu pada sebuah gudang merupakan sarana untuk menuju pada gudang itu. Bahkan sebuah infrastruktur dimana orang bisa menggapai apa yang tersembunyi dalam gudang itu sendiri.

Nabi Muhammad SAW merupakan Rasul atau Nabi terakhir. Tidak perlu diyakini manakala pada era sekarang ada yang mengatakan dirinya nabi atau rasul. Menurut Alqur’an Muhammad merupakan Rasul atau Nabi terakhir, la nabiya ba’da. Tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW.

Kapasitas Nabi pada sa’at masih hidup tidak hanya sebagai pemimpin agama saja, melainkan juga sebagai panglima perang, juga pemimpin pemerintahan terutama pada pemerintahan Madinah. Sa’at itu beliau pernah menghasilkan produk ketatanegaraan yang sangat egaliter, adalah Piagam Madinah. Adalah produk hukum ketatanegaraan yang sangat melindungi segala warga negara, tidak hanya yang mayoritas saja, yang minoritaspun mendapat tempat yang sama di mata hukum. Salah satu pasalnya mengatakan; ”apabila umat Yahudi Madinah diganggu oleh umat lain, maka umat Islam wajib membantunya”.

Dalam hampir semua hikayat islam, pemimpin adalah merupakan sebuah figur, sangat mengutamakan keutamaan ilmu pengetahuan. Artinya bahwa seorang pemimpin selain merupakan sebagai sosok yang memiliki kecerdasan juga selalu berupaya untuk mengakumulasi berbagai pengetahuan yang ada. Suatu keniscayaan bagi seorang pemimpin untuk menyempatkan diri untuk selalu membaca. Sebagai puncak kepemimpinan islam, dimana ilmu pengetahuan mencapai kemajuan yang sangat mengagumkan adalah di jaman kepemimpinan Harun Al Rasyid, khalifah pada Dinasti Abbasiyah, yang berkedudukan di Bagdad, Irak.

Dalam islam sendiri tidak mengenal dikotomi ilmu pengetahuan. Ilmu sakral, ada ilmu profan. Ilmu agama dan ilmu sekuler. Semua ilmu pengetahuan bersumber pada Allah SWT. Jika samudra dijadikan tinta, ranting pohon dijadikan pena, maka tidak akan cukup untuk menulis ilmu pengetahuan yang ada pada Tuhan.

Ilmu, di mata Islam, memiliki nilai [value] yang sangat signifikan. Dalam Alqur’an, ayat yang pertama kali turun adalah iqro’, ayat yang isinya mengenai perintah membaca. Membaca merupakan kunci dari proses pencarian ilmu. Bahkan proses awal terbentuknya pengetahuan dalam diri manusia adalah membaca. Dengan gemar membaca pula, seseorang bisa diketahui dalam atau tidaknya pengetahuan yang ada orang tersebut.

Alqur’an juga secara eksplisit mengatakan bahwa Tuhan akan menaikkan beberapa derajat kepada orang yang berilmu pengetahuan. Mencari ilmu itu wajib bagi muslim laki- laki maupun perempuan. Carilah ilmu walau sampai di negara Cina. Jika kamu ingin menguasai akherat, kuasai ilmu. Jika kamu ingin menguasai dunia, maka kuasai ilmu. Dan jika kamu ingin menguasai keduanya, maka kuasailah ilmu. Itulah pesan Alqur’an dan Hadis Nabi yang menganjurkan agar kita mencari ilmu. Karena dengan ilmu, hidup kita bisa semakin mudah dan sejahtera. Dengan ilmu pula, bisa menguasai dunia, dan juga bisa terbang seperti burung, bisa menyelam ke dasar samudra seperti ikan.

Sejalan dengan itu, konstitusi Republik Indonesia [UUD ‘45], juga mengamanatkan dan  sekaligus menjadi cetak biru [blue print] bangsa Indonesia, adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Amanat ini menjadi concern dan diwujudkan oleh pemerintah kabupaten Kendal dengan mendirikan Posko di setiap wilayah kecamatan. Posko tersebut diupayakan untuk bisa menjaring anak usia sekolah yang tidak mampu melanjutkan ke SLTP maupun ke SLTA. [Suara Merdeka, 10 Mei 2013]. Dan akan disekolahkan oleh pemerintah.

Dengan demikian, maka nantinya masyarakat Kendal minimal berijazah SLTA. Suatu upaya yang sangat menggembirakan, bila betul- betul bisa dilaksanakan. Dan Kendal nantinya tidak lagi dikenal sebagai kabupaten yang hanya menghasilkan lulusan yang belum siap pakai, sebagaimana yang dituturkan Bupati Kendal Dr. Hj. Widya Kandi Susanti, MM., bahwa lulusan SLTA sebelum ditampung/ dipekerjakan di sentra- sentra industri [Kawasan Ekonomi Terpadu] Kendal, harus terlebih dahulu mendapat pelatihan di Balai Latihan Kerja [BLK] di Desa Jenarsari Kecamatan Gemuh, kabupaten Kendal. Kedepan, dengan adanya BLK tersebut, tidak hanya menghasilkan tenaga terampil yang hanya mencukupi kebutuhan internal daerah kabupaten Kendal saja, melainkan mampu memasok tenaga kerja yang terampil ke daerah kabupaten lain.

Spirit Global

            Globalisasi membawa setiap negara mengacu pada ditingkatkannya SDM [Sumer Daya Manusia]. Peningkatan SDM tidak lain adalah dengan dilecutnya pendidikan. Sebagaimana kita maklumi bersama  bahwa, secara nasional, bangsa kita dalam hal SDM masih jauh tertinggal oleh bangsa- bangsa lain di kawasan regional Asean, apalagi di tingkat global.

Sebagaimana baru- baru ini dilansir, oleh sebuah Jurnal ,  bahwa Indonesia ditingkat Asean saja, paling minim dalam menghasilkan artikel yang diterbitkan oleh Jurnal yang berkualifikasi Asia tersebut. Penerbitan artikel bisa menjadi salah satu ukuran kecerdasan SDM suatau bangsa. Banyak sedikitnya penerbitan artikel pula bisa diketahui tingkat kemajuan suatu bangsa.

Menurut  Human Development Index tahun 2011, Indonesia berada pada urutan 124. Dalam produktifitas artikel dalam Jurnal yang berkualifikasi Asia tersebut. Philipina 102, Thailand 81, Malaysia 63, Singapura 28 dan Brunai 27. Padahal pada tahun 1984, bangsa Indonesia mengirim guru- guru ke Malaysia, Brunai, atas permintaan kedua negara jiran tersebut. Bahkan banyak petani Vietnam yang belajar dari petani kita. Mengapa sekarang kondisinya berbalik?.

Keterbalikan kondisi tersebut, bukan karena pembangunan di bidang pendidikan kurang terpacu. Kita ketahui bersama bahwa, hampir bisa dipastikan, bahkan sudah adanya pameo; setiap ganti mentri pendidikan, maka akan ganti kurikulum. Pergantian ini dirasa tidak gegabah. Bahkan pergantian kurikulum tersebut sudah banyak menggelontorkan milyaran rupiah, uang negara untuk memperbaiki sistem pendidikan kita. Apalagi setelah bergulirnya era reformasi, Kementrian ini mendapat anggaran yang tergolong besar, bahkan sampai angka 20 % dari total APBN.

Sehingga sangat selinier apa yang pernah dikemukakan oleh Mohammad Abduh dalam artikelnya yang berjudul “Lima dza ta’akhoro muslimin, wa limadza taqoddama ghoiru muslim”. Terjemahan bebas artikel tersebut adalah “Kenapa masyarakat Muslim tertinggal, dan kenapa masyarakat non Muslim maju”. Artikel tersebut sempat mencengangkan dunia Islam. Para cendekiawan muslim banyak yang bernada mengecam dan tidak sedikit pula yang kebakaran jenggot. Artikel tersebut dimuat di Majalah “Almanar” milik Unversitas Al-Azhar, Mesir. Mohammad Abduh adalah rektornya.

Kenapa masyarakat muslim dunia tertinggal. Menurut Muhammad Abduh adalah umat Islam belum mengamalkan Alqu’an secara konsisten. Lihat saja, surah Alqur’an yang pertama kali diturunkan adalah seruan membaca. Bagaimana budaya membaca pada masyarakat muslim, bila dibandingkan dengan masyarakat non muslim. Adalah masih sangat jauh tertinggal kedisiplinan membaca pada masyarakat islam. Membaca pada masyarakat islam belum merupakan kebutuhan, masih sebatas kewajiban, terutama bagi Pelajar dan Mahasiswa.  Artinya mereka belajar kalau akan menghadapi ujian, di luar itu mereka sangat santai. Apalagi kondisi membaca pada masyarakat umum.

Untuk itu mari kita membenahi diri, agar masyarakat kita tidak lebih terpuruk. Karena membaca selain perintah Tuhan, juga mampu mengangkat harkat dan martabat diri dan bangsa. Mari wujudkan budaya membaca mulai diri kita. Semoga.

Drs. H. Moh. Makhrus

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here