MELURUSKAN NIAT BELAJAR SISWA

0
77

Untitled-TrueColor-021122

Oleh: H.Moh. Makhrus Alie

Belajar merupakan aktifitas ilmiah yang dilakukan oleh individu maupun kelompok yang sedang menempuh jenjang studi di suatu lembaga pendidikan tertentu. Aktifitas ilmiah, karena berkaitan dengan apa yang dilakukan itu rasionalitas dan dilakukan secara sistematis. Kegiatan yang biasanya dikaitkan dengan upaya menguasai berbagai mata pelajaran yang ada di lembaga pendidikan. Dalam jangka pendek, aktifitas ini dilakukan pelajar karena adanya ulangan harian, mid semester, semester maupun kenaikan kelas.

Selain belajar yang bersifat teoritis, yang ada di ruang kelas atau di rumah, ada juga belajar yang ada di ruang praktek. Belajar jenis ini sering dilakukan oleh pelajar- pelajar di sekolah kejuruan maupun pelajar SMA yang berkaitan dengan mata pelajaran IPA [ilmu pengetahuan alam]. Belajar praktikum merupakan upaya untuk mempertajam ranah psikomotorik anak, agar nantinya anak tersebut secara teori memahami secara mendalam sebuah ilmu pengetahuan, dan dalam aspek psikomotorik anak tersebut dapat lebih terampil. Belajar jenis ini berada di ruang praktikum atau di lapangan.

Bukan suatu rahasia lagi, bahwa anak belajar, tertutama di era virtual ini, kebanyakan“niat”nya untuk menggapai suatu ijasah. Memiliki ijasah, sama dengan memiliki masa depan. Karena selembar kertas tersebut dapat untuk mencari pekerjaan. Apakah pekerjaan itu ada pada instansi pemerintahan, instansi swasta maupun di pabrik- pabrik. Bahkan bisa untuk agunan kredit di Bank. Tipe belajar demikian bukan tipe pencari ilmu. Kenapa?.

Kesalahan Awal

Niat belajar yang demikian itu merupakan kesalahan awal yang dilakukan oleh anak. Anak pada umumnya melakukan proses belajar, kalau ada momentum yang mengharuskan dia untuk belajar; seperti ulangan harian, mid semester, semester, maupun kenaikan kelas. Lepas dari itu semua mereka tidak melakukan aktifitas belajar. Kesehariannya, baik di Sekolah maupun di rumah banyak waktu yang tersita untuk melakukan aktifitas yang kurang bermanfa’at. Seperti main game one line, mendengarkan musik, “facebook”kan, WAnan dan lain sebagainya.

Karena yang diutamakan belajar untuk mencari ijasah, maka proses belajar itu sendiri diwarnai oleh perilaku- perilaku kecurangan. Seperti nyontek, tanya pada teman di saat ulangan dan lain sebagainya. Suasana seperti ini sudah menjadi pemandangan umum di dunia pendidikan kita. Dalam pikiran anak, yang penting lulus dan dapat ijasah. Prosesnya, apakah nyontek atau tanya pada teman, bukan persoalan yang harus disikapi.

Lain halnya kalau anak belajar sudah menjadi “budaya”, artinya belajar itu sudah merupakan bagian dari sisi kehidupannya. Belajar itu kebutuhan hidup. Bukan kewajiban yang harus dilakukan. Belajar karena kebutuhan, maka tidak mengenal apa ada ulangan atau tidak.

Tidak terpengaruh oleh kondisi. Seperti layaknya badan butuh makan, maka otakpun perlu asupan gizi.

Budaya atau Kebudayaan, menurut Koencoroningrat, adalah segala sesuatu yang diciptakan, dikarsakan, maupun dikaryakan oleh manusia. Sehingga pada tataran ini anak belajar tidak lagi ada pada hal yang menjadikan dia “belajar”, tapi belajar sudah menjadi “kebutuhan” hidup. Sudah menjadi kebiasaan setiap harinya. Kalau sehari tidak membaca, anak akan merasa “haus”, bagaikan tubuh perlu minum. Akan merasa kehausan kalau tidak dipenuhinya kebutuhan minum. Jenis belajar ini perlu dikembangkan dan diperluas.

Guru harus menanamkan “nilai” pada anak, agar anak menjadikan membaca merupakan kebutuhan hidup, bukan kewajiban hidup. Jadi, anak dalam proses belajar pada jenjang sedini mungkin harus ditekankan atau ditanamkan “nilai”, bahwa belajar itu juga mencari ilmu. Konsekwensi mencari ilmu, maka proses belajar tidak lagi berkutat pada momen- momen tertentu, tapi dilakukan sepanjang hidup [ long life education]. Juga, yang lebih penting adalah belajar itu bisa bernilai “ibadah”.

Belajar bisa bernilai ibadah, kalau diawali dengan niat melaksanakan perintah Allah SWT. Niat melaksanakan atau mengaplikasikan ayat Alqur’an; iqro’ yang berarti“bacalah”. Dan juga melaksanakan perintah hadis; “mencari ilmu itu wajib bagi muslim laki- laki maupun perempuan”. Mencari ilmu itu kunci utamanya adalah membaca. Nah, kalau membaca itu diniati sebagai mencari ilmu, maka dapat pahala. Dan jangan sampai proses mencari ilm dinodai dengan perilaku curang. Nyontek maupun minta jawaban pada teman, selain tidak berpahala, malah dapat dosa. Wallahu a’lam.

Drs.H.Moh.Makhrus

Penulis Buku “Menyisir Cakrawala” dan “NU dan Muhammadiyah Di Mata Kang Bejo”

Guru SMA NU 03 Muallimin, MA 02 Muallimin dan MA NU 06 Cepiring, Kendal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here