Melihat Allah dengan Mata Batin

0
44

Manusia itu dalam melihat sesuatu memiliki 2 alat penglihatan, yaitu البصر (mata lahir) dan البصيرة (mata batin). Mata lahir digunakan untuk melihat sesuatu yang bersifat inderawi (الحسية), sedangkan mata batin digunakan melihat sesuatu yang bersifat abstrak ( المعنوية). Contoh melihat dengan mata lahir misalnya: saya melihat gunung, rumah, laut dan lain sebagainya.
( رايت الجبل، رابت البيت، رايت البحر وغير ذلك). Tetapi ketika manusia melihat sesuatu yang bersifat maknawi, ia menggunakan bashiroh, tidak lagi menggunakan al’ain.

Syeikh Ibnu ‘Athoillah As Sakandary membagi mata batin (البصيرة) menjadi 5, yaitu:

Pertama:
البصيرة للعمياء وهي للكافرين
Mata batin orang-orang buta, yaitu orang-orang kafir. Orang-orang kafir selamanya tidak akan dapat melihat kebenaran.
لأن قلوبهم قد كُفرت
“Karena sesungguhnya hati mereka benar-benar telah tertutup”.

Kedua:
البصيرة للمحجوبين وهي للعوام المسلمين
Mata batin orang-orang yang terhijab (tertutup hatinya dari cahaya Allah), karena banyak melakukan dosa dan maksiat. Mata batin ini bagi orang-orang awam atau kebanyakan.Yaitu ibarat seperti seekor kelelawar yang tidak melihat sinar matahari. Bukan ia tidak bisa melihat sinar matahari, akan tetapi ia tidak melihat sinar matahari karena tertutup oleh penglihatannya sendiri.

Ketiga:
نور البصيرة لأهل العلم والبرهان
Mata batin bagi orang-orang yang memiliki ilmu dan dalil. Dengan ilmunya ia meyakini adanya Allah, alam kubur, surga neraka dll. Meskipun ia baru mendengar, ia sudah yakin tentang adanya Hakekat. Alat untuk mengetahui tentang hakekat itu disebut cahaya mata batin (نور البصيرة), sedangkan ilmu keyakinan yang ia rasakan di dalam hatinya adalah نور اليقين (cahaya keyakinan) atau علم اليقين (ilmu keyakinan), mata batinnya tersinari oleh cahaya Allah, sehingga tersingkaplah hijab yang menutupi mata batinnya.

Keempat:
عين البصيرة وهي للمكاشفين
Mata batin yang telah benar-benar melihat hakekat, yaitu hatinya orang-orang yang telah mukasyafah. Hatinya telah mampu melihat alam malakut, meskipun raganya berada di alamul mulki (عَالم الملك) atau alam dunia, tetapi mata batinnya mampu menembus alam malaikat.

Kelima:
حق البصيرة وهي لأهل الفناء
Mata batin yang telah benar-benar melihat Al-Haqq, dan mampu berada di alam Jabarut, dan telah mampu berkomunikasi dengan Allah. Mata batin yang terakhir ini merupakan tingkatan tertinggi yang hanya dimiliki orang-orang ahli fana’ yaitu orang-orang yang sudah tidak sadar terhadap eksistensi dirinya dan alam sekitarnya, yang ia rasakan adalah rasa cinta dan rindu karena telah bertemu dengan Al-Haqq. Ia telah merasakan kebahagiaan sejati, karena mata batinnya telah mampu berada (التمكن) di alam Hakekat. Ia telah merasakan apa yang disebut dengan
حق اليقين
“Yakin senyata-nyatanya”.

(Diambil dari kitab “Iqadhul Himam” karya Syeikh Ibnu Ajibah Al-Hasany).

Diasuh oleh: KH. Mohammad Danial Royyan
Diintisarikan oleh: Muhammad Umar Said

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here