Melanggengkan Kewaspadaan dan Kesinambungan Penglihatan Hati

0
29
Oleh: KH Mohammad Danial Royyan

البحث في علم التصوف من كتاب “إيقاظ الهمم” للشيخ العلامة العارف بالله أحمد بن محمد بن عجيبة الحسنى على شرح “الحكم” للشيخ العلامة العارف بالله إبن عطاء الله السكندري رحمهما الله تعالى

دوام المراقبة و مواصلة المشاهدة إلى الله

Syeikh Ibnu Athoillah As-Sakandary ra berkata, “Sebagian dari adab orang yang makrifat kepada Allah adalah senantiasa melakukan kewaspadaan dan berusaha menghubungkan hati kepada Allah”. Tujuannya agar hati selalu hadir dan tidak terputus berhubungan serta mengingat akan Allah. Sebab orang yang jarang melakukan muraqabah dan musyahadah, ia akan mudah tertipu oleh segala urusan dunia yang tidak berujung, ia akan memutus mata rantai hubungan antara seorang hamba dengan Allah Swt.

Selanjutnya Syeikh Ibnu Ajibah RA berkata, “Jika seorang ditempatkan oleh Allah dalam kondisi dimana ia akan dikalahkan oleh urusan dunia, seperti ia sibuk dengan urusan dunia, maka hendaklah ia berjuang dengan sungguh-sungguh agar hatinya lepas dari “lupa” mengingat Allah”.

Syeikh Ibnu Ajibah ra menambahkan bahwa seorang yang menjalankan makrifat kepada Allah, ia agar tidak terkagum dan terpesona akan tajallinya Allah, baik berupa tajalli Jalal maupun tajalli Jamal-Nya sebagaimana terjadi dalam kehidupan dunia, seperti ketika diberikan kesehatan, sakit, gembira, susah, kematian, fitnah, kekacauan, bencana dan sebagainya.

Semua yang datang dari Allah berupa sesuatu yang menyenangkan maupun menyedihkan, ia terima dengan ridha dan taslim (penyerahan secara total) kepada Allah. Istilah Kiai Danial, “duwe duwit ora duwe duwit, susah lan seneng, iku podo wae ora ono bedone“. Mereka inilah orang-orang yang menjadi kekasih Allah (auliya Allah) dalam menghadapi apa saja senantiasa tegar dan istiqamah, tanpa adanya kekawatiran dan kesedihan sedikitpun. Sebagaimana Firman Allah Swt:

إن أولياء الله لا خوف عليهم ولاهم يحزنون

“Sesungguhnya para kekasih Allah itu tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak ada pula mereka merasa susah”.

Selanjutnya, Syeikh Abu Sulaiman al-Darani berkata kepada muridnya yang bernama Ahmad bin Abu al-Hawari, “Hai Ahmad!, lapar di dunia ini sebentar, miskin sebentar, hina sebentar, dan sabar juga sebentar. Sebentar lagi hari-harimu hidup di dunia akan selesai dan akan pindah ke negeri keabadian. Maka janganlah merasa heran, kagum dan terpesona terhadap segala kotoran (sampah) dunia dengan segala isinya selama engkau bertempat tinggal di sana. Dan sekali lagi jangan sekali-kali engkau merasa heran dan taajub akan dunia. Engkau wajib makrifat kepada Allah melalui sifat Jalal dan Jamal Allah serta manis dan pahitnya. Jika engkau hanya makrifat kepada Allah melalui sifat Jamal Allah, maka engkau berada pada maqam awam. Tetapi jika engkau benar-benar makrifat kepada Allah terhadap sifat Jalal Allah, maka engkau telah benar-benar al-arif billah (makrifat kepada Allah).

Allahu a’lam bish shawab.

Diintisarikan oleh: Muhammad Umar Said

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here