MEDIA SOSIAL MENJADI BRUTAL KETIKA ULAMA SUDAH DIHUJAT

0
259

A. Asababul Wuqu’ :
Di tengah hiruk pikuk aksi 4 November atau “aksi 411” dan aksi 2 Desember atau “aksi 212” yang menuntut kepada polri agar Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang diduga menistakan agama segera ditahan, jagat media sosial dipanaskan oleh caci maki masyarakat kepada para ulama bangsa ini.
Jika melihat kasus ini, tampak benar apa yang diugkapkan oleh Clay Shirky dalam bukunya, Here Comes Everybody: The Power of Organizing Without Organizations, bahwa media sosial bukanlah alat yang akan memperbaiki kehidupan modern, tetapi justru menjadi tantangan untuk diatasi. Twitter, Facebook, Instagram dan sejenisnya seolah tidak lagi bisa melakukan fungsi yang dibayangkan untuk menciptakan pola komunikasi yang lebih mudah dan positif antar kawan, kerabat, kolega, penggemar, atau idola. Media sosial sudah menjadi medan pertempuran sesungguhnya, yang di dalamnya penghinaan dan cacian saling seliweran secara brutal tanpa pengadil. Di dalamnya, kehidupan dan harga diri seseorang bisa dirusak bahkan dirampas.

B. Ulama Yang Dihujat :
Tokoh-tokoh ulama Nusantara yang dihujat di media sosial sebagai berikut :
1. KH Maemun Zubair.
Beliau adalah salah satu uama NU paling alim dan paling sepuh, disegani oleh ketum PBNU, oleh ketum MUI dan oleh ulama NU. Gara-gara mengatakan Ahok sudah minta maaf jangan didemo, oleh Syaibah Mawal di akun facebook dihujat habis-habisan seperti membantai binatang dengan mengatakan : “sesat nii orang jgan diikutin yg beginian.kecual klo islam lo cuma KTP cm diakui negara bukan Allah.kitab suci dihina kok maaf slsai,goblog.dah mau masuk liang lahat aj msih keblingerr”.

2. KH Mustofa Bisyri, mantan Rais Aam PBNU.
Gus Mus yang juga penyair kondang dan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Rembang, Jawa Tengah melalui akun @gusmusgusmu, dia mengkritik rencana aksi shalat Jumat di jalan yang akan digelar 2 Desember. Dia menulis tujuh poin yang intinya, belum memperoleh landasan soal pelaksanaan shalat Jumat di jalanan. “Aku dengar kabar di Ibu Kota akan ada Jum’atan di Jalan Raya. Mudah-mudahan tidak benar,” kata Gus Mus lewat cuitannya di Twitter, Rabu (23/11). “Kalau benar, wah dalam sejarah Islam sejak zaman Rasulullah SAW baru kali ini ada Bid’ah sedemikian besar. Dunia Islam pasti heran,” Gus Mus melanjutkan kicauannya, Tak semua pihak suka dengan pernyataan Gus Mus. Alhasil, akun Gus Mus ramai dicemooh. Misalnya, ‏@jfalyasmin1. @gusmusgusmu ….kok aku merasa kasihan lihat pak tua ini,” cuitnya, yang tidak sependapat kalau shalat Jumat di jalan termasuk bid’ah alias perbuatan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.

3. Prof. Dr. KH. Quraish Shihab.
Benarkah surat Al-Maidah ayat 51 menyerukan penolakan “pemimpin kafir”? Menurut pakar tafsir Al-Qur’an Prof. Quraish Shihab, “Dalam ayat ini, jangan angkat mereka –Yahudi dan Nasrani- yang sifatnya seperti dikemukakan pada ayat sebelumnya menjadi wali atau orang dekatmu. Sehingga engkau membocorkan rahasia kepada mereka”. Dengan demikian, ‘awliya’ bukan sebatas bermakna pemimpin. “Itu pun, sekali lagi, jika mereka enggan mengikuti tuntunan Allah dan hanya mau mengikuti tuntunan Jahiliyah seperti ayat yang lain”. Quraish Shihab kembali bertanya, jika ada pilihan antara pilot pesawat yang pandai namun kafir dan pilot kurang pandai yang Muslim, “pilih mana?”. Atau, pilihan antara dokter kafir yang kaya pengalaman dan dokter Muslim tapi minim pengalaman. Dalam konteks seperti ini, bagi Quraish Shihab, tidak dilarang. Yang terlarang ialah melebur sehingga tidak ada lagi perbedaan termasuk dalam kepribadian dan keyakinan. Karena tidak ada lagi batas, kita menyampaikan hal-hal yang berupa rahasia pada mereka. “Itu yang terlarang”.

Selanjutnya ayat ini berbicara tentang sebagian mereka adalah awliya bagi sebagian yang lain. Artinya, sebagian orang Yahudi bekerjasama dengan orang Nasrani yang walaupun keduanya beda agama namun kepentingannya sama, yaitu mencederai kalian. Oleh sebab itu, Al-Qur’an berpesan, “Siapa yang menjadikan mereka itu orang yang dekat, yaitu meleburkan kepribadiannya sebagai Muslim sehingga sama keadaannya (sifat-sifatnya) dengan mereka, oleh ayat ini diaggap sama dengan mereka.”

Dalam mereaksi keterangan di atas, Syaibah Mawal di akun facebook menghujat Prof. Quraish dengan mengatakan : “saya gk ngerti ma aliran pa quraish ni.stelah blang jilbab tak wajib bagi muslimah.skrg menafsirkan laen surat almaidah.jgan diikutin kawan,ni sesat.dia pinter tp keblingerr”.

4. KH. Ma’ruf Amin, Ketum MUI
Pada Selasa (22/11), pengamat politik UI Boni Hargens mengunggah foto lama pernikahan Ketua MUI KH. Ma’ruf Amin diTwitter…. Tak hanya itu, di dalam foto tersebut juga terdapat tulisan, “Kami ucapkan selamat kepada Bapak Wakil Ketua MUI Ma’ruf Amin yang berusia 73 tahun. Hari ini menikahi wanita cantik Wury Estu Handayani, yang berusia 30 tahunan semoga kedua mempelai berbahagia dan langgeng sampai akhir hayat. Amin Yra”.

Kontan, postingan Boni tersebut mendapat respons negatif dari sejumlah tokoh, termasuk yang mengenal Boni. Mereka secara umum menyayangkan cara Boni menyeret-nyeret privasi Ma’ruf. Gambar tersebut dinilai secara sengaja diunggah Beni untuk memojokkan kiai yang juga Rais Aam PBNU itu.
Akhirnya, Boni menghapusnya setelah foto pada 2014 itu dua jam bertengger di akun Twitternya. Boni mengaku dirinya mengunggah foto dan tulisan tersebut karena kesalahan teknis, dia salah pencet. Boni pun meminta maaf dan mengaku akan bersilaturahmi ke Ma’ruf sekembalinya dari luar negeri. Foto yang diunggah pria asal Flores itu adalah foto pernikahan Ma’ruf dengan seorang janda asal Depok, Wuri Estu Handayani. Keduanya menikah di Masjid Sunda Kelapa Jakarta pada 31 Mei 2014. Saat itu, Ma’ruf berusia 70 tahun dan Wuri 39 tahun. Ma’ruf berstatus duda setelah istri pertamanya meninggal.

5. Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, ketum PBNU
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj mengatakan bila perkataan Ahok tidak menistakan agama secara nyata tetapi membuat umat Islam tersinggung. “Menyinggung umat Islam. Sama seperti misalnya saya mengatakan jangan mau menggunakan ayat Markus Matius,” kata Said di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jumat (28/10). Gara-gara sikapnya itu dia di-bully di dunia maya, sampai ada yang mengatakan, Said Aqil menjilat bokong Ahok.

6. Prof. Dr. Syafi’i Maarif
Mantan Ketum PP Muhammadiyah Syafi’i Maarif mendapat komentar pedas di dunia sosial setelah sikapnya yang menilai Ahok tidak menistakan agama. Misalnya, @dusrimulya. Syafii Maarif: “Ahok gak menista agama dan ulama, gak ada dia sebut Ulama..hanya Orang”. Pak tua mulai pikun, Ulama bukan Orang yaa pak?”, cuitnya. Setelah itu, tak sedikit netizen yang membagikan foto saat Ahok makan bersama dengan Syafi’i Maarif dan memberikan komentar-komentar negatif.

C. Brutalnya Media Sosial :
Pola menyerang kepribadian seseorang karena berbeda pendapat sepertinya sudah menjadi budaya di media sosial. Pasalnya, hal itu dilakukan tidak hanya oleh orang awam, tetapi juga intelektual. Orang-orang seperti ini sangat mudah mengekspresikannya melalui media sosial.

Apa yang mereka lakukan dan reaksi yang mereka terima adalah bukti kebrutalan media sosial. Orang sering lupa jika akun media sosial bukan kamar pribadi. Oleh karena itu, orang harus memakai “pakaian” jika ingin tampil di dalamnya, dan pakaian tersebut adalah logika, etika dan kesantunan.

Ketika tokoh-tokoh ulama senior Indonesia yang telah disebut di atas, keilmuaan mereka tidak diragukan lagi  dan mereka menginginkan Indonesia yang sejuk dan tetap utuh tanpa ada perpecahan, telah dibantai dan dihujat melalui media sosial, sehingga terkesan bangsa Indonsia sudah tidak beradab, maka pertanyaan berikutnya, adakah skenario yang mengatur supaya bangsa ini tidak mendengar ulama yang ilmunya mumpuni, tetapi malah mendengar dai-dai karbitan yang sering tampil di TV dan mengusai dunia maya?. Ada indikasi yang sangat kuat yang menunjukkan bahwa memang ada skenario itu.

D. Larangan Menghujat Ulama :

شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ، آل عمران:18

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian). Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana”

قال ابن عساكر: إن لحوم العلماء مسمومة، وسنة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة، فمن أطلق لسانه في العلماء بالانتقاص والثلب، ابتلاه الله عز وجل قبل موته بموت القلب

Ibnu Asakir berkata : “Daging ulama itu beracun. Kebisaan Allah dalam menghancurkan para pencela ulama sudah diketahui. Oleh karena itu, siapa melepas mulutnya untuk mencela dan menghujat ulama maka Allah pasti memberinya cobaan berupa kematian hatinya sebelum kematiannya”

 وروي عن الإمام أحمد رحمه الله تعالى أنه قال: “لحوم العلماء مسمومة؛ من شمها مرض، ومن أكلها مات”؛ المعيد في أدب المفيد والمستفيد: ص 71

Dan diriwayatkan dari Imam Ahmad RA (pendiri madzhab Hanbali) bahwa beliau berkata : “Daging ulama itu beracun, siapa yang menciumnya pasti sakit dan siapa yang memakannya pasti mati”. Dari kitab Al-Mu’id Fi Adabil Mufied Wal Mustafied, halaman 71.

Maka sangat disayangkan apabila warga NU ikut-ikutan termakan issue murahan dan terjebak ke dalam kubangan penghujatan kepada ulama panutannya sendiri. Semoga kita tercerahkam. Amien.

Muhammad Danial Royyan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here