Mbah Yusuf, Pendiri NU Sukorejo, Masih Hidup

0
222

1

Meski Nadlatul Ulama sudah berdiri sejak tahun 1926. Namun tidak serta merta di tingkat provinsi, kabupaten maupun kecamatan dan desa keberadaan pengurus NU langsung ada. Pendirian NU di suatu daearah tertentu nampaknya masih terus berproses sampai saat ini. Keberagaman berdirinya NU di tingkat bawah dipengaruhi banyak faktor.

Di wilayah pantura yang dekat dengan laut dan mudah tranportasinya rata-rata NU lebih dulu eksis dibanding dengan daerah pegunungan dan pedalaman. Hal ini dapat dipahami karena NU juga lahir di kota Surabaya yang merupakan daerah pesisir laut.

Sementara di daerah pegunungan dan pedalaman yang waktu itu terkendala komunikasi dan mobilisasi relatif lebih lambat dibanding daerah pantura. Sukorejo yang merupakan kota kecil kecamatan di Kendal yang berada di daerah pegunungan, ternyata NU di sana baru berdiri sekitar tahun 1956 atau 28 tahun setelah berdirinya NU di Surabaya. Lantas siapa sosok yang telah berjasa mengukir sejarah NU Sukorejo?

Menurut KH. Ibadi, rois syuriyah MWC NU Sukorejo yang baru. Dalam suatu abrolan dengan penulis mengatakan bahwa sebenarnya sosok pendiri NU kecamatan Sukorejo itu masih hidup. Namanya Yusuf, karena sudah sepuh biasa dipanggil mbah Yusuf.

Keterangan rois syuriyah itu mematahkan informasi yang saya pegang selama ini dan mungkin generasi muda lainnya bahwa pendiri NU kecamatan adalah almarhum mbak Khoirun.

Nah….lebaran hari ketiga tahun ini (1437 H) saya berkesempatan lagi silaturrahim ke rumah mbah Yusuf. Saya katakan berkesempatan lagi karena sebenarnya setiap lebaran saya sering silaturrahim ke sana. Dulu diajak mertua almarhum H. Ahmad Juwari sekarang saya lanjutkan dengan istri dan anak serta adik-adik ipar, meskipun saya sendiri juga kurang tahu urut-urutanya. Namun dulu tidak pernah tahu kalau mbah Yusuf ternyata tokoh pendiri NU Sukorejo.

Mbah Yusuf saat ini tinggal di dusun Dakah desa Gedong kecamatan Patean, tepatnya depan masjid Dakah. Usianya sudah 83 tahun karena menurut pengakuannya beliau lahir tahun 1933. Saat ini ia tinggal bersama istrinya. Anak-anaknya sudah berkeluarga, diantara yang saya kenal bernama, Syamsudin, tinggal di dusun Ngrancah desa Sukorejo.

Meski sudah berusia 83 tahun beliau belum menunjukan tanda kepikunan. Pada lebaran tahun inilah saya memberanikan diri mengkonfirmasi info dari KH. Ibadi. Ketika saya tanya apakah mbah Yusuf pendiri NU kecamatan Sukorejo? Beliau mengiyakan dan menjawab betul. Selanjutnya ia berusaha membuka memorinya yang sudah puluhan tahun. Mbah Yusuf mulai bercerita kepada saya. Menurutnya bahwa dulu beliau santrinya mbah Nur Fatoni Pondok Kersan Pegandon. Karena hubungan kyai santri itulah informasi tentang NU mengalir. Singkat cerita ia kemudian membentuk pengurus NU Sukorejo pada tahun 1956.

Menurut mbah Yusuf, sebelum NU Sukorejo berdiri dulu yang besar adalah Masyumi dan PKI. Dituturkan juga bagaimana pahit getirnya memperjuangkan NU Sukorejo pada masa-masa awal pendirianya.

Namun perjuangan mbah Yusuf merintis NU Sukorejo nampaknya harus diteruskan oleh yang lain, karena sekitar lima tahun berikutnya mbah Yusuf Harus hijrah ke dukuh Dakah, Gedong, kecamatan Patean hingga saat ini. Kepindahan mbah Yusuf ke Patean tampuk kepemimpinan NU Sukorejo kemudian beralih ke almarhum mbak mbah Khoirun. Belum diketahui, berapa tahun mbah Khairun memimpin NU Sukorejo.

Setelah mbah Khairun tidak lagi menjadi ketua MWC NU, estafet kepemimpinan NU dikomandoi almarhum Bp. Ahmad Suda’an Yang juga belum ada data diketahui berapa tahun menjadi ketua MWC NU Sukorejo.

Kepemimpinan NU berikutnya dipegang oleh KH. Ahmad Masjhadi, alumni Lirboyo. yang memimpin NU Sukorejo sekitar enam belas tahun. Pada masa kepemimpinannya berhasil mendirikan MTs NU 13 Ar Rahmat Sukorejo.

Periode berikutnya konferensi periodik mulai teratur tercatat berturut-turut; H. Pawit Nur Hidayat, KH. Abdullah, ky Nurudin berhasil memjadi ketua MWC NU Sukorejo masing-masing satu periode.

Kini pasca Konferensi bersama MWC NU dan Banom, 15 Mei 2016 lalu tampuk kepemimpinan MWC NU Sukorejo sudah berada ditangan generasi IPNU era 90 an. Yang siap meneruskan apa yang pernah di perjuangkan mbah Yusuf dan pendahulu yang lain. Semoga mbah Yusuf selalu dalam limpahan rahmat dan lindungan Allah SWT. Aamiin.(reportase lebaran : Fahroji)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here