Maqom Orang Fakir Mukmin

0
240
Oleh: Moh. Muzakka Mussaif

Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik RA, sesungguhnya ia bercerita bahwa orang-orang fakir mengutus seseorang untuk menghadap Rasulullah SAW. Lalu berangkatlah utusan itu menghadap Rasulullah SAW dan mengatakan bahwa ia adalah utusan dari orang-orang fakir. Rasulullah menyambutnya dengan hangat penuh cinta sambil mengucapkan “marhaban bika” senang bertemu dengannya, senang bertemu dengan orang-orang yang paling dicintai Allah.

Setelah dipersilahkan oleh Rasulullah, utusan orang fakir itu pun berkata, “Wahai Rasulullah, orang-orang fakir itu mengatakan bahwa orang-orang kaya sungguh dapat beraktivitas dengan kebaikan-kebaikan semuanya. Mereka dapat menjalankan ibadah haji, sedangkan kami tak kuasa untuknya. Mereka dapat bersedekah, dan kami tak kuasa melakukannya. Mereka dapat memerdekakan budak, sedang kami tak kuasa. Saat mereka sakit, mereka dapat membelanjakan kelebihan hartanya yang ada dalam tabungan untuk berobat dan yang lainnya”.

Mendengar itu Rasulullah SAW pun bersabda, “Sampaikan dariku pada mereka ya, sesungguhnya siapapun yg sabar di antara kalian dan ikhlas karena Allah SWT, maka baginya ada tiga perlakuan lain yang tidak akan diberikan kepada orang kaya sedikit pun.”

“Pertama, sesungguhnya di surga itu ada panggung yang terbuat dari yaqut merah. Penduduk surga melihat itu sebagai mana penduduk bumi melihat bintang di langit. Tidak bisa masuk ke panggung itu kecuali para nabi, syuhada’, dan orang mukmin yang fakir”.

“Kedua, orang-orang fakir masuk surga terlebih dahulu sebelum orang kaya dengan selisih waktu kira-kira 500 tahun. Nabi Sulaiman AS masuk surga setelah para nabi masuk surga karena Allah telah memberi kemulian padanya menjadi raja saat hidup di dunia bahkan selisih waktunya kira-kira 40 tahun”.

“Ketiga, jika orang fakir itu mengucapkan ‘Subhanallah Walhamdulillah Walaa ilaaha illaahu wallahu akbar, dia mendapatkan sesuatu balasan yang besar yang tidak akan diperoleh oleh kaya meskipun ia juga berinfak 1000 dirham. Yang demikian itu adalah amal-amal kebaikan semuanya”.

Setelah mendengar sabda Rasulullah itu utusan orang fakir berpamitan pulang dan mengabarkan perihal sabda Rasulullah tadi. Mereka pun kemudian berkata, “Kami ridho Ya Robb”.

Dari hadits tersebut sangat jelas, bahwa maqom orang fakir beriman itu sangat tinggi sehingga tak pantas bagi orang alim, orang kaya, orang berpangkat, dan berkelebihan lainnya meremehkan orang fakir. Sekalipun di dunia mereka tak berkelas, bahkan cenderung diremehkan, tetapi mereka kelak punya kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT.
Maqom sejati bukanlah kedudukan kita di bumi ini. Namun, maqom sejati itu adalah maqom abadi, yakni di akhirat kelak.

Hadits dinukil dari Kitab Tanbihul Ghofiliin, dengan terjemah agak bebas
Ngaji Sabtu Shubuh di Masjid Baitun Nikmah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here