Long Life Education: Konsep Pendidikan Islam

0
253
Oleh: Muzakka Musaif

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. اَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ . فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَالَ اَيْضًا: يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِنْ جاءَكُمْ فاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصيبُوا قَوْماً بِجَهالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلى‏ ما فَعَلْتُمْ نادِمينَ

Hadirin sidang Jumat rohimakumullah,

Sebelum khatib menyampaikan khutbah dengan tema “Pendidikan Sepanjang Hayat adalah Konsep Pendidikan Islam” ini, terlebih dahulu khatib mengingatkan sekaligus berwasiat pada diri sendiri dan hadirin untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Peningkatan keimanan dan ketakwaan yang sebenar-benar itu harus diwujudkan dalam bentuk pengabdian dan peribadatan yang nyata, yaitu menjalankan semua perintah Allah dengan tujuan mengharap ridho-Nya dan menjauhi segala larangan Allah dengan cara memohon perlindungan kepada-Nya. Jangan sekali-kali kita melupakan kekuasaannya yang amat besar ini. Tiada daya upaya dan kekuatan  manusia tanpa kekuatan dan kekuasaan-Nya. Oleh karena itu, tidak sepantasnyalah  kita menyombongkan diri dihadapan-Nya.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Semua amal perbuatan manusia, termasuk amal ibadah manusia kepada Allah SWT, tanpa didasari ilmu yang benar hasilnya akan menjadi sia-sia belaka bahkan ibadahnya tidak akan diterima oleh Allah SWT. Oleh karena itu, untuk memperoleh keberuntungan dan pahala dari amal perbuatan dan ibadah tersebut, kita harus melandasinya dengan Ilmu. Tidak ada upaya lain untuk mendapatkan ilmu tersebut kecuali melalui proses pendidikan dan pembelajaran baik secara formal maupun informal sepanjang hayat ini, sebab long life education merupakan konsep ajaran Islam. Konsep itu tampak dalam berbagai hadits Rasulullah SAW, bahwa mencari ilmu itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim sejak lahir hingga mati, bahkan tempat belajarnya pun di manapun ilmu itu berada. Batasan semacam itu mengindikasikan bahwa kita sebagai muslim tidak boleh bodoh, tidak boleh berhenti belajar dan malas belajar, tidak boleh bertindak dan beraktivitas apapun tanpa berdasar pada ilmu meskipun ilmu itu harus diperolehnya dari tempat yang jauh bahkan di negara nonmuslim sekalipun. Perhatikan hadits-hadits berikut.   

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ

(Mencari ilmu itu wajib bagi muslim laki dan perempuan);

أُطْلُبِ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى الَّلحْدِ

(Mencari ilmu itu dari ayunan sang bunda sampai liang lahad);  

اُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ

(Carilah ilmu meskipun di Negara Cina).

Hadirin Sidang Jumat rahimakumullah,                                              

Ada kisah menarik yang terjadi pada masa lalu, yaitu ketika sahabat Rasul yang bernama Khalifah Ali Bin Abi Thalib karramalluhu wajhah cemburu terhadap kepandaian Rasulullah. Semua orang tahu beliau adalah sahabat Nabi yang sangat cerdas bahkan paling cerdas dibanding sahabat-sahabat Nabi yang lain. Beliau dianugerahi Allah wawasan yang luas, otak yang brillian, dan ilmu yang luas disamping beliau memang sangat senang belajar dan membaca. Namun, beliau tidak habis pikir melihat Rasulullah SAW jauh lebih pandai dibanding dirinya. Dengan perasaan yang sangat heran kepada Rasul, beliaupun mencoba bertanya kepada Rasul, “ya Rasulullah, saya sebenarnya iri padamu sekaligus heran, mengapa saya yang sepanjang waktu belajar, belajar, dan belajar tentang ayat-ayat Allah yang luas ini tidak mampu mengalahkan kepandaianmu, padahal saya tidak pernah melihatmu belajar sepanjang hari, dari mana engkau dapatkan ilmumu?. Mendengar pertanyaan itu, Rasulullah pun tidak marah, tetapi hanya tersenyum saja. Addabani Robbii, addabani Robbii (yang mengajarku Allah, yang mengajarku Allah), jawab Rosul. Sahabat Ali pun akhirnya menunduk malu.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Dari kisah itu dapat disimpulkan, bahwa ilmu pengetahuan itu diperoleh melalui proses pendidikan dan pembelajaran. Rasululullah belajar dari Allah, baik melalui  malaikat Jibril maupun secara langsung; Ali bin Abi Thalib pun demikian, beliau belajar dari ayat-ayat Allah baik secara langsung maupun lewat Rasulullah. Memang Allah SWT menciptakan Alam semesta dan menurunkan firman-firmannya untuk dipelajari manusia. Hal itu ditegaskan dalam puluhan ayat yang menyebut diakhir ayat dengan ungkapan “agar kalian berpikir”, “Agar kalian berzikir”,“bagi orang-orang yang mau berpikir”, dan sebagainya.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Dengan ilmu manusia akan berwawasan luas, kreatif, inovatif, dll. Sebab ilmu itu akan menerangi pemiliknya, lingkungannya, dan jagat raya ini. Sebab dengan ilmu, manusia mampu mengatur sesama dan alam semesta dengan baik. Dengan ilmu manusia akan dapat menciptakan segala piranti yang dibutuhkannya untuk menghasilkan berbagai produk yang bermanfaat. Oleh karena itu, jika manusia menguasai berbagai ilmu, tetapi tidak dilandasi dengan keimanan kepada Allah maka manusia akan berbuat semaunya sendiri, yakni berbuat aniaya. Akibatnya, dengan ilmunya itu, manusia akan merusak sesama dan alam semesta ini. Padahal Allah SWT jauh-jauh telah meminta kepada manusia untuk senantiasa belajar dengan menyebut nama Allah agar manusia senantiasa memahami dirinya sendiri sebagai makhluk ciptaan Allah, sehingga mereka tidak berlaku zalim ketika berkuasa dan tidak berlaku zalim dengan ilmu yang dikuasainya. Terkait dengan perintah belajar sekaligus berdzikir itu ditegaskan Allah Swt dalam QS. Al-‘Alaq: 1-5 yang berbunyi:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

Artinya: Bacalah dengan menyebut nama Tuhan-Mu yang telah menciptakan. Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-Mulah yang maha Mulia. Yang telah mengajarkan manusia dengan qalam. Mengajarkan manusia apa-apa yang dia tidak ketahui.

Hadirin Rahimakumullah,

Untuk menjadikan ilmu yang kita miliki tetap bercahaya bagi kita dan masyarakat, maka konsep pendidikan keislaman sebagaimana tersebut dalam surat Al-Alaq tersebut harus kita jadikan dasar atau pijakan. Sebab para hadirin, di era modern ini seringkali manusia lupa konsep tersebut, mereka mengira bahwa ilmu adalah ciptaan manusia belaka sehingga memandang objek alam semesta ini hanya sebagai sarana belaka. Itulah ciri pendidikan modern, pendidikan kaum kapitalis yang menciptakan manusia-manusia materialistis, manusia-manusia sekuler, yang tidak pernah menyinggung sama sekali kebesaran Allah SWT; tidak pernah mengaitkan antara ilmu dan amal, serta tidak pernah mengaitkan perbuatan dunia dengan akhirat. Oleh karena itu, para hadirin, kita harus membentengi diri kita, keluarga kita, dan anak-anak kita sebagai generasi penerus agar tidak keluar terlalu jauh dari konsep dasar pendidikan Islam sehingga kita terhindar dari siksa api neraka.

Hadirin sidang jumat rahimakumullah,

Solusi yang tepat untuk mendidik diri kita, anak-anak kita dan generasi muda adalah kembali ke konsep pendidikan Islam sebagaimana yang diajarkan Rasulullah. Tanamkan sejak dini pendidikan keislaman dan nilai-nilai Islam melalui Taman Pendikan Al-Quran, Madrasah-madrasah, majlis taklim, dan pondok pesantren disamping pendidikan formal tentunya. Sekarang waktu yang tepat untuk memilihkan lembaga pendidikan buat anak-anak kita. Mengapa kita selalu bingung ketika anak-anak kita lulus SD, SMP, SMA untuk mencarikan lembaga pendidikan lanjutannya, tetapi tidak pernah bingung ketika anak-anak kita tidak bisa membaca Alquran dan tidak tekun beribadah. Ini sangat ironis sekaligus amat memalukan bagi kaum muslimin. Seharusnya para hadirin,  pemberiaan pendidikan umum dan agama harus berimbang. Bahkan seharusnya kita memilihkan lembaga pendidikan umum yang berbasis keislaman. Sebab pemberian pendidikan yang berimbang akan mengantarkan mereka memperoleh ilmu dunia dan akhirat. Sekalipun mereka menguasai beragam ilmu, teknologi dan keterampilan untuk mengatur manusia dan alam semesta, mereka pun akan bertindak arif, adil, dan bijaksana. Disamping itu, mereka tentu akan menganggap bahwa ilmu yang dikuasainya bukan tujuan semata, tetapi merupakan sarana untuk menggapai ridho Allah SWT.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Sebagai orangtua muslim kita harus senantiasa memberikan pendidikan kepada anak-anak kita secara Islami, baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Tidak sekadar menyuruh belajar dan mengaji, tetapi kita harus melakukannya. Tunjukkan pada mereka bahwa orang tua pun tidak pernah berhenti belajar dan mengaji. Ajarkan pada mereka Alquran di rumah, pilihkanlah mereka sekolah yang baik, perhatikan pula lingkungan bermain dan bersosialisasi. Disamping itu, berikan kepada anak-anak keteladanan sebab hal itu amat menentukan keberhasilannya. Sebab, kasih sayang dan dorongan orangtualah yang mampu mendorong mereka untuk memahami nilai-nilai Islam dan mempelajari beragam ilmu.

            Akan tetapi para hadirin, bila kita tidak mampu dan tidak sempat mengajarkan mereka nilai-nilai agama dan Alquran secara kontinyu doronglah mereka untuk mengaji di lingkungan kita, atau bila perlu carikanlah mereka guru dan atau kyai atau lembaga-lembaga pendidikan dan pengkajian keislaman. Disamping itu, ajarkan pada mereka aqidah dan akhlaq, tatacara beribadah, fiqih/syariah Islam, dan sebagainya. Perlakuan seperti itu adalah ikhtiar kita dalam upaya menciptakan generasi Islam yang unggul, yaitu menciptakan anak-anak shalih yang senantiasa berbakti kepada Allah dan Rasulnya, serta berbakti  pada orangtuanya. Ingatlah anak sholeh merupakan amal yang akan kita bawa hingga kita meninggalkan dunia fana ini. Hal itu tampak dalam hadits Qudsi yang berbunyi:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: Apabila anak adam telah mati maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga perkara: shodaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta anak sholeh yang selalu mendoakannya.

Hadirin siding Jumat rahimakumullah,

Akhirnya sebagai penutup khutbah ini saya mengajak diri saya dan hadirin sekalian untuk senantiasa memperhatikan kepribadian dan pendidikan anak-anak kita. Marilah kita hiasi rumah-rumah kita dengan bacaan Alquran, kita ciptakan  rumah tangga kita dan lingkungan kita secara Islami.Berikanlah kasih sayang dan pendidikan terhadap anak-anak kita secara Islami. Tanamkan pula semangat belajar tanpa henti. Insya Allah konsep pendikan Islam Long life education yang dijadikan konsep pendidikan di Indonesia ini akan berhasil. Marilah kita berdoa kepada Allah SWT agar anak-anak kita kelak termasuk golongan orang-orang shalih.

Amin-amin-amin ya robbal alamin.

بارك الله لي ولكم في القرأن العظيم، وجعلني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم. إنه هو البَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْم. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرّاحِمِيْنَ

Khutbah II

الحمد للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزِّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here