LAPORAN KONGGRES II PERGUNU DI MOJOKERTO JAWA TIMUR

0
210

Oleh : Mukhamad Umar Said

(Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Kabupaten Kendal)

 pergunu-kongres

Mojokerto, pcnukendal.id – Konggres II PERGUNU telah dilaksanakan di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Mojokerto Jawa Timur pada tanggal 26 sampai dengan 29 Oktober 2016 yang lalu. Dalam acara itu, agenda utamanya adalah Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) PP. PERGUNU masa khidmat 2011-2016, disertai sidang komisi-komisi: komisi organisasi, komisi program, komisi rekomendasi, komisi bahtsul masail, dan pemilihan ketua umum PERGUNU selanjutnya untuk masa khidmat 2016-2021. 

Konggres II itu rencananya dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo. Namun karena beliau masih berada di luar negeri, maka kehadirannya diwakili oleh  Menteri Agama RI  Lukman Hakim Saifuddin. Ia didampingi oleh Direktur Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Nur Kholis Setiawan. Kongres itu juga dihadiri oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa, Rais Aam PBNU Ma’ruf Amin, Ktua Umum PBNU Said Aqil Siroj, mantan Wakil Kepala BIN As’ad Ali, Acep Kadarusman (Guru Besar UPI Bandung), Hasyim Aidit dari Universitas Alauddin Makassar, dan Rhoma Irama.

Asep Saefuddin Chalim, selaku Ketua Umum PERGUNU sekaligus sebagai Tuan Rumah, Pimpinan Pondok Pesantren Amanatul Ummah dan Rektor  Institut KH. Abdul Chalim, dalam sambutannya mengatakan bahwa PERGUNU selama kepemimpinannya sejak tahun 2011 hingga 2016 telah memiliki Kantor Wilayah di 34 Propinsi dan 400 Kantor Cabang seluruh Indonesia. Lebih-lebih setelah PERGUNU ditetapkan sebagai organisasi profesi oleh Ditjen PTK (Pendidik dan Tenaga Kependidikan) pada tanggal 4 Desember 2015, maka Kiai yang dikenal sebagai intelektual muslim serta milyarder itu semakin optimis bahwa PERGUNU akan maju pesat dan mengungguli organisasi profesi yang lain. Hal itu karena yang bisa menjadi anggota PERGUNU menurut PD/ART PP. PERGUNU tidak hanya guru yang mengajar di Lembaga Pendidikan Formal, tetapi juga para guru Madrasah Diniyyah (Madin), guru ngaji di pesantren  dan para dosen di Perguruan Tinggi.

pergunu-kongres2

Guru elemen terpenting

Sementara itu, Luqman Hakim Saifuddin dalam sambutannya menegaskan komitmennya untuk terus memberikan penguatan terhadap program peningkatan kualitas pendidikan, khususnya pendidikan agama dan keagamaan. Salah satu yang dilakukan Kementerian Agama adalah mengembangkan program beasiswa bagi guru. Menurutnya, sejumlah kebijakan maupun program terus ditingkatkan dalam mengafirmasi program pendidikan, baik program yang langsung bersentuhan dengan guru maupun kebijakan yang menopang eksistensi guru.

“Kementerian Agama saat ini tengah mengembangkan program-program beasiswa guru dan tunjangan professional guru,” ujar Lukman.

Meski demikian, Lukman mengakui bahwa meningkatkan kualitas pendidikan bukanlah persoalan sederhana. Karenanya, sinergi dengan berbagai pihak, termasuk PERGUNU, menjadi keniscayaan. Atas nama pemerintah, Menag mengapresiasi kontribusi para guru dan PERGUNU dalam ikut membantu mendidik masyarakat Indonesia.

Menurut Lukman, PP No 19 Tahun 20015 tentang Standar Nasional Pendidikan mengatur tentang delapan Standar Pendidikan, yaitu: Standar Isi, Standar Proses, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan dan Standar Penilaian.

“Di antara delapan parameter itu, standar tenaga pendidik dan kependidikan menduduki posisi yang paling strategis,” papar Lukman.

Karena itu, lanjut Lukman, meski sarana dan prasarana telah terpenuhi, tetapi jika tidak diimbangi tenaga pendidik yang kompeten, kualitas pendidikan yang diharapkan sulit tercapai. Sebaliknya, meski proses belajar mengajar dilakukan dengan sarana dan prasarana minim, namun jika diimbangi dengan tenaga pendidik yang kompeten, maka peningkatan kualitas pendidikan dapat tercapai.

Oleh Karena itu, Lukman menegaskan bahwa Pemerintah sangat menyadari pentingnya peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru. Menurutnya, guru adalah profesi mulia dan strategis dalam meningkatkan kualitas kehidupan keagamaan, serta peningkatan umat beragama di Indonesia. Menag berharap, Konggres II PERGUNU ini menghasilkan rekomendasi kebijakan strategis dalam konteks peningkatan mutu pendidikan nasional secara umum dan mutu pendidikan Islam secara khusus yang berkeadilan.

Guru harus kreatif

Menambahkan apa yang disampaikan Menag, Khofifah Indar Parawangsa tidak ketinggalan mendorong kepada para guru sebagai anggota PERGUNU yang telah menerima tunjangan sertifikasi guru untuk senantiasa meningkatkan kreatifitas dan dedikasinya dalam mencerdaskan anak bangsa. Sebab disinyalir, setelah guru menerima tunjangan sertifikasi guru, martabat guru dan in come serta kesejahteraan guru semakin meningkat. Hal tersebut terbukti dengan meningkatnya pendaftar calon jamaah haji tahun ke tahun, Dan ternyata, jumlah pendaftar yang paling dominan berasal dari guru.

Tetapi anehnya, dalam waktu yang bersamaan dengan meningkatnya kesejahteraan guru, prosentase angka perceraian semakin meningkat sampai sekitar 65 %. Dan anehnya lagi, perceraian itu diakibatkan oleh keretakan rumah tangga, yang kemudian digugat cerai oleh isteri.

Berbicara dari sisi lain, Ma’ruf Amin sebelum menutup Konggres II PERGUNU mengatakan, bahwa kelahiran PERGUNU diharapkan menjadi Lokomotif  bagi lembaga-lembaga di NU. Ia mendorong keaktifan  pengurus PERGUNU yang sudah terbentuk. Menurutnya, PERGUNU yang menaungi guru-guru NU memiliki peran penting.

“Para guru adalah sosok yang akan membuat perubahan besar karena mereka melahirkan tokoh-tokoh perubahan,” ujar Ma’ruf.

Ia menambahkan, perubahan tersebut terjadi karena guru-guru NU akan menyebarkan pemikiran ahlussunnah wal jamaah an nahdliyyah yang dijaga NU tidak hanya tingkat nasional, namun juga tingkat internasional. Penyebaran pemikiran juga dilakukan secara terus-menerus dan berkepanjangan. Dalam upaya itu, Ma’ruf mendorong agar PERGUNU memperhatikan pentingnya perbaikan kelembagaan. Ia mendorong agar metode yang tepat dalam pengelolaan pendidikan harus dicari dan dilakukan. Peningkatan sumber daya manusia harus dijalankan. Menurutnya dengan cara itulah PERGUNU akan berperan.

“Saya berharap hasil konggres ini dapat dijalankan. Karena ini merupakan sumbangan yang besar bagi NU,” pungkas Ma’ruf.

Guru NU : Agen ASWAJA

Dari sisi lain, Said Aqil Siroj lebih menekankan agar PERGUNU tidak bosan-bosannya menyebarkan ajaran ASWAJA di tengah-tengah masyarakat untuk mencegah paham radikalisme dan fundamentalis Islam yang membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dan NKRI. Peran PERGUNU sangat penting dalam memberi pemahaman tentang ajaran ASWAJA yang memiliki karakteristik tawassuth (moderat), tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleransi) dan i’tidal (adil). Sebab, akhir-akhir ini, ujar Said, telah berkembang di masyarakat paham “takfir” (pengkafiran) dan ibtida’ (pembid’ahan) terhadap amal ibadah orang lain yang bukan sepaham atau segolongan dengannya.

“Paham pengkafiran dan pembid’ahan ini disebabkan karena dangkalnya ilmu agama Islam yang dimiliki, yaitu pemahaman terhadap teks al-Qur’an dan al-Hadits secara langsung tanpa disertai dengan qaul/dalil-dalil para ulama ahlussunnah wal jamaah yang  telah teruji keilmuannya dalam sejarah,” tutur Said.

Kunci sukses dalam ilmu

Pada acara lain dalam Konggres II, yaitu silaturrahim dan halaqah, Asep Saefuddin Chalim yang memaparkan tentang Konsep Pendidikan yang menjadikan para murid sukses dalam menuntut  ilmu, di mana konsep itu sebagian diambil dari Kitab “Ta’lim Mutaallim” karya Az-Zarnuji, dan Kitab “Adaabul ‘aalimi wa al-mutaallimi fii maa yahtaaju ilaihi-l-mutaallimi fii ahwaali ta’allumihi wamaa yatawaqqafu ‘alaihi-l-mu’allimu fii maqaamaati ta’liimih” karya K.H. Hasyim Asy’ari.

Menurut Asep, kunci pertama adalah al-jiddu wal muwadhabah atau berkesungguhan dan ‘ajeg’ dalam berkesungguhan. Misalnya, tidak benar apabila murid tidak diberi PR, tetapi PR itu harus merangsang yang bersangkutan untuk kelanjutan dalam proses belajar mengajar, tidak berhenti saat di sekolah saja.

“PR itu harus dimulai dari yang mudah, kemudian yang setengah sulit, baru agak sulit. Tetapi yang mudah itu harus bisa menggiring pada yang setengah sulit,” kata Asep.

Kedua, taqlilul ghidza atau menyedikitkan makan. Murid harus dibiasakan jangan banyak makan atau makan tidak boleh sampai kekenyangan. Sebab menurut ilmu kedokteran, kenyang itu datang 10 menit setelah makan.

“Sementara kenyang itu menghilangkan kecerdasan,” tambah Asep.

Ketiga, mudawamatul wudhu’ yakni murid itu harus selalu mempunyai wudhu dan gurunya pun harus punya wudhu. Keempat, tarkul ma’ashi atau tidak boleh bermaksiyat.

“Di dalam al-Qur’an disebutkan ‘dosa itu membebani dirimu’. Ketika seorang murid membawa  pelajaran dari gurunya, membawa beban di pundaknya. Sementara jika sering berbuat maksiat, secerdas apa pun tidak akan mengerti dengan pelajaran yang dipelajarinya,” terang Asep.

Kelima, qira’atul Qur’ani nadhran, atau membaca al-Qur’an dengan dilihat al-Qur’annya. Ketika seseorang membaca al-Qur’an dengan melihat huruf-hurufnya, ia ita dipaksa untuk berkonsentrasi dan itu merupakan latihan kecerdasan.

Keenam, melaksanakan shalat malam. Dengan shalat malam sebagai kendaraan untuk keberhasilan cita-cita. Ketujuh, tidak boleh jajan di luar, di pasar. Dalam satu kitab kuning ada dijelaskan bahwa makanan di luar lebih mendekati kepada ketidaksucian.

“Jajan di luar itu di tempat terbuka, banyak orang yang melihatnya, lalu memiliki keinginan untuk memiliki atau menikmatinya. Namun tidak bisa membeli karena tidak punya uang. Kalau makanan terkondisikan seperti itu, hilang barakahnya. Akhirnya murid akan mengantuk dalam mengikuti pelajaran, dan hal itu menjadikannya tidak paham,” tegas Asep.

Di penghujung acara Konggres II diadakan mushafahah (bersalaman) serta poto  bersama  sebagai kenang-kenangan dan  ajang silaturrahim di antara para pengurus dan anggota PERGUNU di seluruh Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here