KUWALAT : IMPLIKASi KEKURANGAJARAN

0
72

1. Definisi Kuwalat :
Kuwalat adalah mendapat (terkena) celaka akibat dari kelakuan yang tidak senonoh kepada orangtua atau kepada kiai. Dalam tradisi NU, sikap takut kuwalat itu dipegang dengan konsisten. Sekarang ini sikap takut kuwalat itu sudah tergerus oleh kepentingan politik sesaat. Seorang kader yang terjerat bius oportunisme politik bukannya takut kepada kiai, tetapi malah memperalat para kiai untuk kepentingan politik. Orang-orang seperti itu tidak akan memperoleh barakah dalam kehidupannya, justru dikhawatirkan akan mengalami su’ul khotimah di akhir hayatnya.

2. Dalil Tentang Adanya Kuwalat :
قال الحافظ ابن عساكر يرحمه الله:[ اعلم يا أخي وفقني الله وإياك لمرضاته أن لحوم العلماء مسمومة وعادة الله في هتك منتقصيهم معلومة وأن من أطلق لسانه في العلماء بالثلب بلاه الله قبل موته بموت القلب، وقال الله تعالى : ( فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ )

 

Al-Hafidh Ibn Asakir berkata : “Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Alloh memberi taufiq kepadaku dan kepadamu untuk mencapai ridlo-Nya, bahwa daging ulama itu beracun (mematikan bagi yang mencela mereka). Sudah maklum bahwa Alloh biasanya akan merusak orang-orang yang mencela ulama. Dan barangsiapa melepas mulutnya mengucapkan kecaman kepada ulama, maka dia akan diberi bala’ oleh Alloh dengan kematian hatinya sebelum kematiannya”. Alloh Ta’ala berfirman : “Maka orang-orang yang menentang perintah-Nya itu merasa takut akan terkena fitnah atau terkena siksa yang amat pedih”. Maksudnya : mereka akan kuwalat.

3. Ulama Saja Takut Ulama :
Adalah KH. Maemoen Zubair (Mbah Mun) kiai karismatik yang paling sepuh, usianya saat ini sudah 93 tahun masih takut kuwalat kepada Gus Dur yang lebih muda. Padahal KH Hasyim Muzadi, mantan ketum PBNU dan Prof. Dr. KH Said Aqiel Siroj, ketum PBNU keduanya mengaku sebagai murid Mbah Mun.
Mbah Mun pernah berkata : “Aku ini tidak pernah setuju dengan Gus Dur. Yaah…namanya manusia. Tapi aku tidak pernah membencinya apalagi memusuhinya, takut kuwalat”.

4. Hubungan Baik Antar Ulama :
Di bawah ini dialog antara Mbah Mun dan murid tukang pijitnya yang menggambarkan hubungan antara Mbah Mun dan Gus Dur :
“Hari ini Jum’at Kliwon tanggal 11 April 2014 M setelah shalat Maghrib bersama Syaikhina Maimoen Zubair di Musholla PP Al-Anwar, saya (Kanthongumur) bersama beliau menuju kamar untuk memijat beliau. Di sela-sela memijat saya mencoba bertanya:
“Yai dalem bade tanglet” (Kyai saya mau bertanya).
Beliau menjawab: “Ono opo?” (Ada apa?).
Saya tanya lagi : “Nopo leres Yai nate ngimpi kepanggeh Gus Dur soho Mbah Hasyim, lan ma’mum sholat kalian Gus Dur?” (Apa Kyai pernah bermimpi bertemu Gus Dur, Anda serta Mbah Hasyim bermakmum kepada Gus Dur?).
Beliau menjawab: “Wektu haul Gus Dur ono wong cerito karo aku yen ngimpi kepetuk aku, Gus Dur lan Mbah Hasyim. Wong iku cerito yen aku karo Mbah Hasyim ma’mum karo Gus Dur. Yo maklum wong maqome Gus Dur nang ngarepe Mbah Hasyim, aku melu ngrumat mayite Gus Dur” (Pada waktu haulnya Gus Dur ada seseorang yang bercerita kepadaku, bahwa orang itu bermimpi bertemu aku, Gus Dur dan Mbah Hasyim. Dalam mimpi orang itu aku dan Mbah Hasyim makmum kepada Gus Dur. Ya maklum karena letak maqom Gus Dur ada di depan Mbah Hasyim dan aku juga ikut merawat jenazah Gus Dur).
Saya tanya lagi : “Tiang wau asmane sinten?” (Orang itu bernama siapa?).
Beliau menjawab: “Aku lali sopo jenenge” (Aku lupa siapa namanya).
Demikianlah, semoga bermanfaat. (MD Royyan).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here