Gus Dur Penjaga dan Penerus Cita-Cita Pendiri NU

0
250
Oleh: Irdia Azidar, S.Pd

Gus Dur berasal dari keluarga pendiri NU dan pendiri Republik Indonesia. Kakeknya adalah KH Hasyim Asy’ari, kiai besar dan juga pendiri NU. Ayahnya, KH A Wahid Hasyim adalah tokoh yang memiliki peran penting dalam kemerdekaan Indonesia. Ia juga salah satu tokoh pendiri Republik Indonesia.

Kiai Hasyim, Kiai Wahid dan Gus Dur mempunyai peran yang sangat besar terhadap masyarakat bahkan bangsa Indonesia. Pemikiran kakek, anak dan cucu tersebut telah menjadi pengikat dan sekaligus dinamisator bangsa. Mereka menjadi panutan Gus Dur untuk konsisten dalam menjaga NKRI dan Pancasila dari rong-rongan kelompok yang ingin melemahkan bahkan mengganti ideologi bangsa.

Sumbangan dan investasi politik Kiai Hasyim dalah fatwa keagamaannya menyangkut eksistensi bangsa Indonesia, diantaranya adalah:

Pertama, pada Muktamar NU di Banjarmasin tahun 1935, Kiai Hasyim memelopori keluarnya fatwa tentang status tanah jajahan Hindia Belanda sebagai “kawasan Islam”, tetapi bukan Negara Islam. Kawasan Islam adalah negara dimana masyarakat diberi kebebasan untuk menjalankan syariat dan keyakinannya, walaupun negara dan penguasanya sendiri bukan Islam. Sedangkan Negara Islam adalah negara yang berdasarkan Islam dan penguasanya harus Islam. Dalam setatus kawasan Islam, umat Islam wajib membela tanah airnya jika ada serangan militer dari luar, meskipun penguasanya adalah non-muslim.

Kedua, pada pertemuan ulama dan konsul-konsul NU di Surabaya tanggal 21-22 Oktober 1945. Setelah melalui perdebatan panjang, Kiai Hasyim dan para kiai-kiai NU memutuskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan Sukarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, adalah SAH secara Fiqih. Karena itu, umat Islam wajib membela kemerdekaan dan martabat bangsa jika mendapat ancaman dari luar. Sikap demikian dikeluarkan sebagai respon atas mendaratnya pasukan sekutu di Jakarta dan Surabaya. Fatwa ini dikenal dengan Resolusi Jihad NU.

Apa yang telah diputuskan para pendiri NU itu kemudian dijaga secara konsisten oleh Gus Dur dan warga NU. Pada Muktamar ke-27 di Situbondo, NU memutuskan bahwa NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 adalah sah secara fiqh dan karenanya tidak perlu lagi dipertentangkan antara Islam dan Pancasila.

Refrensi;
Muzadi, KH A Muachit, NU Dan Fiqih Kontekstual, Yogyakarta; LKPSM,1994.
Dhakiri M. Hanif, 41 Warisan Kebesaran Gus Dur, Yogyakarta; LkiS, 2010

Penulis adalah anggota IPNU Rowosari

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here