Konsep Tawasul

0
57

Oleh: Muhammad Umar Said

Sebagian besar orang salah dalam memahami makna tawassul. Sayyid Muhammad bin Alawi menjelaskan makna tawassul secara detail, yaitu: Pertama, tawassul adalah salah satu cara ketika berdoa dan menghadap Allah, meskipun secara hakiki berdoa hanya kepada Allah Swt. Sesuatu yang dijadikan wasilah hanya sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Barang siapa yang meyakini selain hal tersebut, maka ia telah menyekutukan Allah;

Kedua, seseorang yang bertawassul, ia tidak bertawassul kepada sesuatu yang dijadikan sebagai perantara, melainkan karena ia cinta kepada-Nya, dan ia pun meyakini bahwa sesungguhnya Allah juga cinta kepadanya. Dalam tawassul kedua ini, terdapat perbedaan pendapat, sehingga mengakibatkan sebagian orang menjauhi bahkan tidak senang dengan wasilah, sebab di dalamnya diduga terdapat unsur pengkultusan, meskipun dugaan tersebut belum juga benar;

Ketiga, sesungguhnya orang yang bertawassul tersebut meyakini bahwa seseorang atau sesuatu yang dijadikan perantara kepada Allah itu memberikan manfaat dan membahayakan terhadap dirinya maupun orang lain, jika seseorang meyakini seperti itu, maka ia telah berbuat syirik;

Keempat, sesungguhnya tawassul itu bukan sesuatu yang tetap atau primer, dan bukan pula terkabulnya doa itu bergantung kepadanya, akan tetapi sesungguhnya tawassul merupakan doa kepada Allah secara mutlak. Sebagaimana Firman Allah swt:

وإذا سألك عبادي عني فإني قريب… الأية (البقرة: ١٨٧)

“Dan apabila hamba-hambaku menanyakan tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya aku dekat… “(QS. Al-baqarah : 187).

Beberapa dalil tawassul diantaranya ialah:

1. Q.S. Al-Maidah: 35

يإيها الذين امنوا اتقوا الله وابتغوا أليه الوسيلة… الأية

“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang dapat mendekatkan diri kepadaNya… “.

Kata “wasilah” di atas memiliki makna umum (اللفظ العام), mengandung beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai perantara seperti wasilah kepada para nabi/rasul, orang-orang shalih, baik mereka masih hidup ataupun sudah meninggal dunia.

2. Hadits nabi yang menceritakan tentang tiga orang yang terjebak ke dalam gua, dan pintunya tertutup sehingga ketiganya tidak dapat keluar dari gua. Kemudian satu persatu dari ketiganya berdoa kepada Allah dengan perantara amal sholih yang pernah mereka lakukan. Maka bertawassulah salah satu diantara mereka dengan amal shalih birrul walidain, orang kedua dengan amal shalih menjauhi perbuatan zina, dan orang ketiga menunaikan amanah terhadap harta orang lain sehingga harta itu bermanfaat bagi orang lain tersebut. Dari wasilah mereka bertiga, Allah melapangkan ketiganya sehingga mereka dapat keluar dari gua itu.

3. Tawassulnya Adam AS kepada Nabi Muhammad SAW sebelum Nabi SAW wujud, yaitu:

عن عمر بن الخطاب رضي اللَّه عنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : “لما اقترف ادم الخطيئة قال: يا رب! أسألك بحق محمد لما غفرت لي. فقال الله : يا أدم! وكيف عرفت محمدا ولم أخلقه؟ قال : يا رب! لأنك لما خلقتني بيدك ونفخت في من روحك، رفعت رأسي فرأيت قوائم العرش مكتوبا: لاإله إلا الله محمد رسول الله، فعلمت أنك لم تضف إلى اسمك إلا أحب الخلق إليك، فقال الله : صدقت يا أدم، إنه لأحب الخلق إلي، أدعني بحقه فقد غفرت لك، ولولا محمد ماخلقتك”. (رواه الحاكم في المستدرك)

Dari Umar bin Khattab RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Ketika Adam AS mengakui kesalahannya ia berkata, “Wahai Tuhanku, aku memohon kepadamu dan bersumpah dengan haq Muhammad SAW agar Engkau mengampuniku”. Maka Allah berfirman, “Hai Adam! bagaimana engkau tahu Muhammad sedangkan ia belum Aku ciptakan?”. Adam berkata, “Sesungguhnya ketika Engkau menciptakan aku dengan kekuasaanmu, dan Engkau tiupkan ruh-Mu ke dalam jasadku, aku mengangkat kepalaku dan aku melihat penyangga -penyangga Arsy tertulis “la ilaha illallah- Muhammadurrasulullah”. Maka aku tahu, sesungguhnya tidak mungkin nama Muhammad disandarkan kepada nama-Mu, kecuali ia adalah mahluk yang paling Engkau cintai. Maka Allah berfirman, “Engkau benar hai Adam! Sesungguhnya ia adalah makhluk yang paling Aku cintai. Berdoalah engkau dengan haknya, maka sungguh aku ampuni kesalahanmu. Dan jika saja tidak ada Muhammad, maka Aku tidak akan menciptakanmu”.
(HR. Hakim dalam kitab Al-Mustadrak).

(الكتابة المذكورة مأخوذة من كتاب “مفاهيم يجب أن تصحح”، صحيفة: ١٢٣-١٢٥)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here