Konsep Pendidikan Anti Oligarki Menurut Al-Ghazali

0
25

Oleh: KH Mohammad Danial Royyan, diintisarikan oleh Muhammad Umar Said

Menurut Ketua PCNU Kendal, KH Mohammad Danial Royyan Oligarki memiliki makna sebagai berikut:

فئة قليلة تتسلط على الدولة من جانب الإقتصاد والسياسة والجوانب المختلفة.

“Sekelompok kecil yang menguasai negara di bidang ekonomi, politik dan bidang lain yang bermacam-macam”.

Pemaknaan oligarki di atas merupakan interpretasi dari pemikiran Al-Ghazali yang terdapat dalam Kitab Ihya Ulumiddin dan yang mendukung pendukungnya, diantaranya seorang aktivis Partai Ba’ts dari Syuriah yang bernama George Tarabichi yang antusias membela pemikiran Al-Ghazali dari serangan pemikir Maroko M. Abid Al-Jabiri yang mengkritisi pendapat Al-Ghazali tentang oligarki.

Kiai Danial menjelaskan, bahwa Oligarki sebenarnya sudah ada sejak zaman Mesir Kuno yaitu adanya istilah “Farainah” (فراعنة) yaitu rezim Fir’aun. Oligarki di era Fir’aun ini puncaknya di era Walid Al-Mughirah beserta kroni-kroninya yaitu, Qarun, Haaman dan Bal’am. Fir’aun seorang raja yang ditopang oleh Qarun seorang konglomerat, Haaman seorang ilmuwan/teknokrat dan Bal’am adalah ahli agama (ulama). Mereka ini bahu membahu untuk mempertahankan oligarki dari ancaman sang reformis Nabi Musa As.

Dalam sejarah Quraisy Mekkah pun oligarki sudah ada, yaitu adanya sekelompok Borjuis yang menguasai perekonomian Mekkah, mereka disebut “shanadid Quraisy” (para Borjuis Quraisy) yang terdiri dari Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufyan, dll. Mereka memusuhi Muhammad Saw bukan hanya menolak kebenaran ajaran agamanya, akan tetapi mereka juga sangat takut jika kekuasaan ekonominya terancam sirna.

Setelah Rasulullah SAW wafat dan digantikan oleh Al-Khulafa al-Rasyidun, Tabiin, Tabi’ al-tabiin dan seterusnya hingga sampai pada abad ke 3 Hijriyah, dimana telah terjadi degradasi nilai spiritual dan pengetahuan ke dalam titik nadir. Hal tersebut diakibatkan karena para ulama terutama para fuqaha telah kehilangan semangat berijtihad, karena mereka telah terjangkit penyakit cinta dunia, dan gila kekuasaan yang dilakukan dengan mendekati kepada para penguasa. Saat itulah muncul pemikiran tajam dan kritikan dari Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghazali terhadap praktik oligarki, yang disebut sebagai “Salathin” yaitu sistem oligarki yang mendapat dukungan dari para fuqaha yang dekat dengan para penguasa pada masa itu sebagaimana yang ia tulis dalam kitab Ihya Ulumiddin terutama pada juz pertama dalam “kitab al-Ilmi“.

Kritikan Al-Ghazali terhadap para fuqaha tersebut bukan masalah yang terkait dengan ilmu, tetapi lebih karena para fuqaha pada saat itu lebih suka mendekati para penguasa untuk mendapatkan keuntungan duniawi (التكسب للمال) dan strata sosial yang tinggi (الترقى الإجتماعي). Kritikan Al-Ghazali tersebut sesuai dengan Hadits Nabi Saw yang cukup populer yaitu:

شرار العلماء الذين يأتون الأمراء وخيار الأمراء الذين يأتون العلماء

“Sejahat-jahatnya ulama adalah mereka yang mendatangi penguasa, dan sebaik-baiknya penguasa adalah mereka yang mendatangi ulama”. Hal senada juga dikatakan oleh Imam Malik RA:

العلم يؤتى ولا يأتي

“Ilmu itu didatangi bukan mendatangi”

Oligarki di masa Al-Ghazali ini sudah menggurita secara sistemik di berbagai wilayah negara yang disebut sebagai Daulat al-Murabithin yang didirikan oleh Yusuf bin Tasyifin. Wilayahnya meliputi Andalusia, Maroko, Tunisia dan Al-Jazair dengan ibu kotanya bernama Sevilla. Setelah kitab Ihya Ulumiddin tersebut beredar di Maroko pada tahun 503 H. Apa reaksi para fuqaha terhadap Al-Ghazali? Sebagaimana disampaikan narasumber, para fuqaha mem-bully, mencaci bahkan mengkafirkan Al-Ghazali beserta para pengikutnya, tanpa adanya usaha membaca dan menganalisa lebih dalam isi kitab Ihya serta tabayyun terhadap pengarangnya. Perbuatan mereka sungguh melewati batas. Kitab yang disusun Al-Ghazali dengan susah payah (mujahadah) selama 10 tahun lebih dibakar oleh sekelompok orang atas perintah para fuqaha. Al-Ghozali dianggap ancaman serius terhadap praktik oligarki. Mereka terusik akibat tulisan Al-Ghazali. Sedemikian parahnya virus oligarki telah merasuk ke dalam jiwa mereka yang membuat spiritualitas agama yang mulia menjadi sirna (إندرست روحانية الدين) sebagai akibat dekatnya mereka dengan penguasa dan terjangkitnya penyakit cinta dunia serta kedudukan di kalangan para fuqaha itu.

Setelah Al-Ghazali meninggal pada tahun 505 H, ternyata perjuangan dan perlawanan Al-Ghazali terhadap oligarki tidaklah surut. Para pengikutnya semakin gencar melakukan gerakan melawan terhadap oligarki. Ibnu Toumrat adalah salah satu penerus Al-Ghazali yang menjadi garda terdepan melawan oligarki yang dibangun oleh Daulat al-Murabithin. Akhirnya perjuangan yang dilakukan oleh Ibnu Toumrat tidaklah sia-sia, karena oligarki yang dibangun di atas Daulat al-Murabithin berhasil ambruk, sehingga didirikanlah negara baru yang oleh Ibnu Toumrat diganti namanya menjadi Daulat Al-Muwahhidin, yaitu sebuah negara yang dibangun di atas dasar Tauhid kepada Allah dan Anti Oligarki.

Ambruknya oligarki di atas tidak lain karena konsep tasawuf yang dibangun oleh Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin. Tasawuf menjelma sebagai obat yang manjur dalam mengobati virus oligarki yang ada di lingkaran kekuasaan pada masa itu.

Setelah ambruknya Daulat al-Murabithin dan berganti nama Daulat al-Muwahhidin, konsep tasawuf yang anti oligarki ini semakin diterima di kalangan kaum muslimin, sehingga ajaran tasawuf semakin berkembang dan kitab Ihya Ulumiddin dijadikan referensi oleh para ulama sedunia. Sayid Al-Allamah Abdullah bin Alawy Al-Haddad adalah satu-satunya ulama yang meneruskan ajaran tasawuf Al-Ghazali tersebut. Melalui para ulama dan Habaib dari Yaman, mereka menyebarkan Islam bercorak tasawuf tersebut hingga sampai ke bumi Nusantara yang dibawa oleh Walisongo dan dilestarikan oleh KH. Hasyim Asy’ari, para ulama NU serta kaum Nahdliyyin pada umumnya hingga sekarang ini. Sehingga dengan demikian, Islam datang ke bumi Nusantara ini berjalan secara damai tanpa adanya kekerasan (perang) karena Islam dikenalkan dengan bercorak sufistik non politik. (نزعة الإسلام بإندونيسيا نزعة صوفية)

Hal tersebut bisa kita saksikan dari berbagai budaya dan adat istiadat yang berkembang di negara kita, seperti syair dan bacaan tahlilan, manaqiban, muludan dan sebagainya semuanya mengandung makna tasawuf.

Lalu bagaimana hubungan NU dengan kekuasaan seperti sekarang ini?

Menjawab pertanyaan di atas, pada dasarnya NU didirikan atas dasar anti Oligarki sebagaimana ideologi yang dianut oleh KH. Hasyim Asy’ari yang menganut ajaran Ahlussunah wal Jamaah, di mana dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam Junaedi al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali dimana kedua imam ini sangat anti oligarki. Namun demikian, NU selalu berijtihad, tidak kaku dan selalu dinamis mengikuti arus perubahan tanpa harus meninggalkan misi utamanya adalah amar makruf nahi mungkar dengan cara bil- hikmah wa al-mauidhah hasanah dalam rangka menuju perbaikan-perbaikan demi kemaslahatan bangsa.

Jadi, jika NU digandeng penguasa dan masuk di lingkaran kekuasaan itu tidak dimaknai sebagai sikap mendukung oligarki, tetapi dalam rangka ikut serta memperbaiki sistem dan ikut andil dalam menentukan kebijakan penguasa yang bermanfaat bagi negara dan bangsa. Yang dijauhi oleh NU adalah sikap tamalluq dan mendekati kekuasaan dalam upaya mencari keuntungan pribadi yang bersifat duniawi yang sama sekali tidak menguntungkan bagi NU dan masyarakat secara luas. NU selalu hadir dengan cara memelihara nilai-nilai lama yang relevan dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik dan merenovasinya dengan sesuatu yang lebih baik dan seterusnya. Hal tersebut sesuai dengan kaidah Ushul fiqh:

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح والإصلاح إلى ما هو الأصلح فالأصلح ثم الأصلح

“Melestarikan sesuatu yang lama yang masih relevan dan mengambil sesuatu baru yang lebih baik, dan mengadakan perbaikan-perbaikan menuju pada sesuatu yang lebih baik, yang lebih baik, dan seterusnya”.

Jadi jika ada warga Nahdliyyin yang masuk ke dalam sistem oligarki itu merupakan riak-riak kecil yang tidak perlu dirisaukan, karena dimanapun dan kapanpun hal tersebut pasti ada dan mereka adalah oknum. Sebagai warga NU, hukumnya wajib mengingatkan kepada mereka agar kembali kepada jalan yang benar sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para pendiri NU.

Kiai Danial berpesan kepada kaum nahdliyyin yang terlibat di lembaga pendidikan khususnya Ma’arif NU baik formal maupun non formal agar tidak terjebak pada pergeseran nilai yang mengarah pada sistem oligarki.

Tulisan di atas merupakan intisari dari Pengajian Selapanan PCNU Kendal, Sabtu Wage (27/2/2021) di Aula BPR Nusamba Cepiring bertepatan dengan peringatan Harlah NU ke-98, HUT PT Bank Nusamba Gondang ke-31, dan Harlah NU Kendal Online ke-2.

Referensi:

  1. Abu Hamid Al-Ghazali Al-Imàm, Ihya’ Ulumiddin Juz I, Kitàb Al-Ilmi.
  2. Ibn Khaldùn Al-Imàm, Tàrikh Ibn Khaldùn.
  3. M. Àbid Al-Jabiri, Naqdu Al-Àqli Al-Arabi Al-Islami.
  4. George Tarabichi, Naqdu Naqdi Al-Aqli Al-Arabi Al-Islami.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here