KITAB KUNING DAN RADIKALISME

0
110

IMG-20160406-WA0004_resized

oleh : Ahmad Mulazim, S.Ag

Islam di Indonesia kini dihadapkan pada situasi pelik dan mengkhawatirkan. Aksi kekerasan dan terorisme yang dimotori sebagian kelompok Islam masih menjadi permasalahan serius. Padahal, Indonesia adalah dikenal memiliki paham keagamaan yang toleran sejak berabad-abad lalu.

Paham keagamaan yang lama yang dibentuk oleh para ulama pesantren kini mulai terkoyak oleh paham baru yang berasal dari Timur Tengah. Akibatnya paham keagamaan masyarakat pun mulai bergeser ke arah yang militan dan radikal. Fenomena ini telah menjadi tantangan baru bagi masyarakat Islam yang memiliki paham keagamaan moderat.
Maraknya aksi radikalisme dan terorisme di Tanah Air sejatinya bentuk dari perubahan gerakan Islam di Indonesia. Muslim Indonesia yang dulunya dikenal sebagai muslim yang toleran, moderat, dan damai, sekarang ini telah berubah menjadi radikal dan militan. Ini terlihat dari aksi kekerasan dan terorisme yang menghiasi gerakan Islam di Indonesia. Tak henti-hentinya Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri menangkap para pelaku terorisme.

Kini situasi bertambah sulit seiring perkembangan gerakan Islam, radikalisme di Indonesia telah bertransformasi dalam sejumlah gerakan. Radikalisme tidak hanya bertransformasi ke dalam gerakan terorisme, tetapi juga telah mengarah pada gerakan radikal yang berorientasi pada kekhalifahan Islam. Sebut saja ISIS yang berhasil merebut sejumlah kota dengan jalan kekerasan. Pertanyaannya sekarang, mengapa  situasinya begitu cepat berubah ?

Tanpa disadari atau tidak berkembangluasnya gerakan radikal-transnasional di Tanah Air, menurut pandangan penulis tak lepas dari perubahan orientasi umat Islam terhadap sumber pengetahuannya, khususnya setelah menurunnya minat umat Islam terhadap kitab kuning. Padahal kitab kuning sejak berabad-abad yang lalu telah menjadi sumber rujukan pengetahuan Islam. Kitab kuning adalah sumber utama umat Islam setelah Al Quran dan Sunnah. Para ulama telah menumpahkan seluruh pengetahuannya dalam kitab kuning sehingga umat Islam dapat memahami ajaran Islam dengan baik.

Tapi, pada zaman seperti sekarang ini umat Islam mulai meninggalkan kitab kuning. Ini karena sulitnya mereka mengakses pengetahuan dalam kitab kuning akibat tidak memiliki seperangkat ilmu pengetahuan yang memadai. Di samping itu, mudahnya umat Islam mengakses pengetahuan keagamaan melalui internet juga menjadikan mereka lebih sering menggunakan internet. Akibat itu, pengetahuan mereka sangat instan dan tidak memiliki fondasi yang kuat. Anak anak muda zaman sekarang mencari pengetahuan Islam dengan jalan mengakses di internet.

Pada gilirannya mereka tidak mampu memfilter mana pengetahuan yang sesuai ajaran dasar Islam. Merekapun mudah dipengaruhi ajakan untuk berbuat kekerasan atas nama agama. Di sinilah ruang yang terbuka bagi pembentukan pemahaman keagamaan yang radikal. Aksi terorisme juga banyak dipengaruhi oleh paham keagamaan yang tersebar di internet.
Karena itulah, penguatan kitab kuning sebagai sumber rujukan umat Islam mesti terus dilakukan. Kitab kuning tidak hanya diajarkan di pesantren-pesantren, tapi juga ditransformasikan ke dalam wacana publik yang mudah dipahami dan mudah diakses oleh publik.
Kitab kuning tidak hanya menjadi buku yang dibaca di pesantren, tapi juga menjadi aplikasi teknologi informatika yang sekarang ini digemari generasi muda.

Ini perlu dilakukan agar generasi muda memiliki pengetahuan keagamaan yang kuat sehingga dapat membentengi diri dari ajakan dan pengaruh gerakan radikal apapun. Dengan dasar-dasar keagamaan yang kuat, mereka mampu memfilter paham keagamaan yang datang sehingga mereka tidak mudah terjebak dan terlibat dalam jaringan radikalisme dan terorisme.
Di sinilah transformasi kitab kuning menemukan peran vitalnya dalam membentuk faham keagamaan masyarakat secara kontekstual sesuai zamannya.

Dengan begitu, kitab kuning akan selalu diakses sebagai bagian dari pembentukan paham keagamaan yang sejalan dengan nilai-nilai ke indonesiaan, sehingga Islam di Indonesia tampil dengan karakternya yang adaptif dan kontekstual. Dengan kata lain, Islam tidak tampil dengan wajah yang keras dan cenderung melakukan aksi kekerasan, tapi tampil dengan wajah yang moderat.(oji)

Penulis adalah  Aktivis NU dan Pemerhati Sosial, tinggal di Ringinarum

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here