Kisah KH.Ibadi Berdoa di Lokalisasi Alaska

3
418

Oleh : Fahroji

Ada kisah menarik  sebelum meletus peristiwa sweeping Front Pembela Islam (FPI) di lokalisasi Alaska Patean Kendal (17 Juli 2013). Insiden  di siang bolong di bulan suci Ramandhan  itu sempat menjadi berita nasional lantaran memakan korban jiwa seorang guru SD yang harus meregang nyawa terseret mobil FPI yang hendak kabur dikejar masa.

Sejak peristiwa itu nama lokalisasi Alaska sempat  mencuatkan  menyamai lokalisasi Dolly  Surabaya yang sudah ditutup beberapa waktu lalu.Padahal, lokalisasi Alaska sesungguhnya  masih ilegal dan  tidak sebesar lokalisasi di tempat lain

Lokalisasi Alaska adalah daerah perbatasan kecamatan Patean dan Sukorejo.  Nama Alaska sendiri diambil dari singkatan alas karet (Alaska) karena terletak di pinggir perkebun karet yang dikelola PTP Nusantara IX Sukomangli.
Secara adminitrative, lokalisasi Alaska masuk wilayah desa Gedong  kecamatan  Patean, namun kampung sekitarnya terutama sebelah Selatan dan Barat merupakan wilayah desa Sukorejo kecamatan Sukorejo seperti dusun Ngrancah, Sapen dan Sentul.

Di dusun Sentul itulah   KH. Ibadi bermukim dan berdakwah membina umat Islam dan  masyarakat  sekitarnya. Sebagai kyai sudah menjadi hal  lumrah kalau beliau sering dimintai bantuan baik mengisi pengajian maupun sekedar dimintai doa.

Penampilan keseharian kyai Ibadi yang sederhana membuat banyak orang  merasa nyaman untuk bersilaturrahim dan  bercengkrama  dengannya, baik tua maupun muda. Tidak hanya kaum santri,  orang awam dan  abanganpun sering sowan ke kyai Ibadi.

Suatu saat ia kedatangan tamu yang sudah dikenalnya. Setelah berbicara bla…bla… bla…  secukupnya,  maksud kedatangan tamupun diutarakan.
“Saya minta didoakan untuk memasuki rumah baru  kyai” kata si tamu.
“Di mana tempatnya ?” tanya kyai Ibadi. “Alaska” jawab si tamu.

Mendengar  jawaban itu kyai Ibadi sempat berpikir sebentar. Dipandangnya tamunya dengan senyuman khasnya. Entah kekuatan dari mana yang dimiliki si tamu sehingga punya keberanian untuk minta doa pada kyai Ibadi padahal rumah yang didirikan jelas-jelas untuk maksiat.

Bagaimana kyai Ibadi menyikapi permintaan itu? Pro dan kotra dalam hatinya sempat bergumul menjadi satu antara ya dan tidak memenuhi undangan itu. Ia sempat berpikir, jika ia menolak undangan itu sudah pasti si tamu akan kecewa berat dan tidak mau lagi bersilaturrahim padanya. Itu artinya ia akan kehilangan kesempatan untuk tetap berkomunikasi dan berdakwah pada si tamu.

Jika undangan diterima, bagaimana pandangan masyarakat? Tentu bermacam-macam. Mendukung dan mendoakan maksiat dan sebagainya.  Atau mungkin ada orang yang mengatakan kyai amplop. Karena tentu si tamu akan menyiapkan segala sesuatunya. Beragam konsekuensi dari pilihannya tentu harus hadapi kyai Ibadi.

“Kapan harinya?” tiba-tiba kyai Ibadi bertanya pada tamunya yang mengisyaratkan kesediaannya. Setelah ada kesepakatan akhirnya si tamu berpamitan dengan senyum mengembang.

Kakak ipar kyai Ibadi, mbah Sutari, demikian orang sering menyapa, yang juga sering dimintai doa ketika diceritakan hal itu oleh kyai Ibadi sempat marah terutama tentang keputusan kyai Ibadi menyanggupi undangan itu.

Namun keputusan kyai Ibadi nampak sudah bulat. Ada pertimbangan tersendiri untuk ia tetap memenuhi undangan itu. Dalam benaknya ia berpikir tidak mungkin ia akan datang ke Alaska kalau tidak ada undangan untuk berdoa. Inilah kesempatan langka yang tidak boleh dilewatkan.

Nampaknya Hadits Nabi innamal a’malu binniat yang sering ia sampaikan saat pengajian kitab Arbain Nawawi juga semakin menguatkan tekadnya.

Sampai pada hari yang telah ditentukan kyai Ibadi datang ke lokalisasi Alaska di rumah baru yang sudah ditentukan dengan mendapat sambutan secukupnya dari sohibul hajat. Setelah berdoa dan hajat tuan rumah selesai kyai Ibadi berpamitan pulang. Sebagai rasa terima kasih tak lupa sohibul hajat membawakan tas berisi berkat ( nasi box) lengkap dengan amplop bisyarohnya.

Dalam perjalan pulang kyai Ibadi merasa lega karena merasa tidak mengecewakan orang sekaligus berkesempatan berdoa di lokalisasi Alaska. Dalam perjalan pulang kebetulan ia bertemu dengan orang yang akan mencari kayu bakar di perkebunan karet. Kepada orang tersebut kyai Ibadi memberikan nasi box dan uang bisyarohnya.

Bukan main senangnya orang itu menerima pemberian kyai Ibadi. Nasi box nya dapat menghilangkan laparnya. Sementara jumlah uangnya tidak kalah dari hasil penjualan kayu bakar selama tiga hari.

Seminggu kemudian terdengar berita yang menghebohkan sweeping lokalisasi Alaska oleh FPI yang menewaskan Seorang Guru SD yang terseret mobil FPI. Konon yang tewas tersebut masih ada hubungan kerabat dengan pemilih rumah di lokalisasi alaska yang minta didoakan kyai Ibadi.

Adakah hubungannya antara doa kyai Ibadi dengan aksi sweeping FPI di lokalisasi Alaska yang hanya berselang satu minggu? Apakah hanya kebetulan saja ? Wallahu a’lam bi showab.

Yang jelas KH. Ibadi yang saat ini menjabat sebagai Rais Syuriyah MWC NU Sukorejo 2016-2021 ketika ditanya doa apa yang dibaca di lokalisasi Alaska? ia hanya menjawab dengan senyuman.

Sukorejo, 15 Februari 2017

3 KOMENTAR

  1. Kalau cma berdakwah di kampung mah dah biasa….nah di tempat seperti alaskalah seharusnya dakwah dibutuhkan…..mereka butuh pembrlajaran..bukan hujatan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here