Khutbah Jumat: Perang Besar Melawan Hawa Nafsu

0
372
Oleh: Moh Muzakka Musaif

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَناَ أَنْ نُصْلِحَ مَعِيْشَتَنَا لِنَيْلِ الرِّضَا وَالسَّعَادَةِ، وَنَقُوْمَ بِالْوَاجِبَاتِ فِيْ عِبَادَتِهِ وَتَقْوَاهْ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ الله، اُوْصِيْنِي نَفْسِي بِتَقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يَا أَيُّهَا الّذين آمنوا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Sebelum saya menyampaikan khutbah dengan tema “Perang Besar Melawan Hawa Nafsu”, terlebih dahulu marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang selalu memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita dapat hadir berkumpul di masjid ini untuk melaksanakan shalat Jumat bersama-sama. Selain itu, shalawat serta salam semoga selalu Allah limpahkan kepada Rasululllah SAW, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya, khususnya kita yang hadir di masjid ini. Amin ya robbal ‘alamin.

Selaku khatib, saya juga berwasiat kepada diri saya dan hadirin untuk selalu menguatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan cara meningkatkan ketaatan kita pada Allah SWT, yakni melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Jangan sekali-kali hati kita lalai kepada-Nya, janganlah kita mati kecuali dalam keadaan iman dan berserah diri pada-Nya.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Bulan syawwal telah meninggalkan kita, artinya nilai-nilai fitrah yang kita peroleh melalui gemblengan Ramadhan telah diuji oleh berjalannya waktu. Nilai-nilai fitrah itu pasti sudah bermacam-macam wujudnya. Ada yang masih terjaga bersih, ada yang tercoreng sedikit atau banyak, mungkin ada juga yang kian hilang nilai-nilai kesucian itu. Semua amat tergantung dari setiap individu dalam mempertahankannya. Sebab, setiap individu pasti menghadapi berbagai persoalan hidup, menghadapi berbagai godaan duniawi, serta menghadapi berbagai keinginan, harapan, bahkan ambisi-ambisi. Dari sinilah, nilai-nilai fitri yang sebelumnya diperoleh orang-orang beriman menjadi berubah-ubah wujudnya. Oleh karena itu, pemertahanan diri melawan berbagai tekanan, godaan, dan berbagai keinginan syahwat harus diperjuangkan, sebab jika dilepaskan pasti kita akan kehilangan nilai-nilai kesucian itu.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Kita harus selalu bersyukur pada Allah jika nilai-nilai kesucian atau kemenangan Idul Fitri itu masih bersemayam dalam hati kita. Namun jika nilai-nilai itu mulai berubah, pudar, meredup, atau nyaris hilang segeralah menuju ampunan Allah SWT. Sebab perkara demikian ini bukan persoalan mudah atau ringan untuk dihadapi karena musuh kita tidak di hadapan kita, tetapi bersemayam di dalam diri kita. Kalau dulu para pejuang bangsa dapat merebut kemerdekaan RI dengan berperang mengangkat senjata melawan penjajah dengan mengorbankan jiwa, raga, dan harta-bendanya, tetapi sekarang anak bangsa yang merdeka ini tidak lagi berhadapan dengan musuh-musuh yang bersenjata lengkap. Namun, Musuh besar kita sebagai hamba Allah dan anak bangsa yang merdeka ini adalah syahwat dan hawa nafsu kita untuk menguasai sesama dan haus akan harta benda yang menggoda.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Musuh-musuh yang tampak dapat kita halau atau kita tepis dengan kekuatan fisik kita, tetapi musuh-musuh yang tidak tampak ini justru sangat sulit dilawan. Sebab, para hadirin hawa nafsu yang bersemayam dalam diri kita itu selalu bertarung dengan hati kita yang fitrah. Di sinilah kemudian Rasulullah SAW menyampaikan bahwa perang yang paling berat adalah perang melawan hawa nafsu. Hal ini pernah ditegaskan Rasulullah SAW kepada kaum muslimin setelah selesai berperang melawan kaum kafir, “kita kembali dari perang/jihad yang kecil menuju perang yang besar”, seorang sahabat bertanya perang besar apa ya Rasulullah? Jawab Nabi “perang melawan hawa nafsu”. Dari hadist tersebut tampak bahwa perang melawan musuh atau penjajah yang tampak itu dikategorikan sebagai perang kecil yaitu perang yang mudah kita selesaikan dan kita tangani sedangkan perang melawan hawa nafsu atau musuh yang tidak tampak dikategorikan sebagai perang besar yakni perang yang sangat berat dan sulit untuk diatasi dan diselesaikan.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Hawa nafsu merupakan sebuah daya dan kekuatan internal individual yang luar biasa yang muncul pada mahluk hidup termasuk manusia untuk melakukan aktivitas tertentu. Lebih-lebih lagi kondisi semacam itu dipicu dengan faktor internal seperti berita dan tayangan-tayangan media cetak dan elektronik yang menggoda serta tayangan sadistis, pornoaksi, dan pornografi yang kian merebak. Dorongan keinginan yang kuat tersebut bagi manusia pada umumnya dapat menutup intelektualitas, moralitas, bahkan spiritualitas. Akibatnya, kobaran hawa nafsu tersebut menguasai manusia untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma sosial, susila, dan agama. Kobaran hawa nafsu tersebut menjadikan manusia melakukan perbuatan-perbuatan keji seperti berselingkuh, berzina, berjudi, membunuh sesama, mabuk-mabukan, mencuri, manipulasi, korupsi, kolusi, nepotisme, dengki, hasut, memeras, suka memfitnah, mengadudomba, dan masih banyak lagi. Naudzubillah min dzalik.

Pendeknya parahadirin, kobaran nafsu tersebut terus menjajah dan menguasai manusia sehingga dapat menutup telinga, mata, dan hati manusia dari hal-hal yang baik. Oleh karena itu para hadirin, sebagai muslim yang beriman kita harus berjuang melawan hawa nafsu tersebut dengan cara meningkatkan kadar keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Mulailah dari diri kita sendiri, keluarga kita, lingkungan kecil kita, dan lingkungan yang lebih luas lagi sehingga negeri kita dan alam semesta, terutama kaum muslimin menjadi aman, damai, dan sejahtera.

قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا 

“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Sebab dalam diri kita terdapat dua sifat yang saling bertentangan yaitu dorongan untuk berbuat keji dan berbuat takwa.

فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ

Artinya: Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya (QS. Assyams: 8).

Oleh karena itu kita harus memilih jalan takwa sebab semakin kita meningkatkan ketakwaan  kepada Allah maka dorongan untuk berbuat keji itu dapat direduksi atau ditepis, tetapi jika kita mengikuti hawa nafsu atau dorongan berbuat keji tersebut maka kadar ketakwaan kita semakin lenyap.

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Kita tahu, sampai sekarang ini negeri kita belum stabil pasca pilpres dan pemilu. Gejolak kecil dan besar yang muncul diberbagai tempat itu, tidak terlepas dari dorongan nafsu kita untuk berebut kekuasaan, kedudukan, dan harta benda. Akibatnya, kita menjadi lengah ketika ada pihak ketiga yang ingin mengacaukan negara kita dan ingin menjajah kita. Melihat fenomena semacam itu, kita harus waspada. Sebagai hamba Allah dan warganegara yang baik, kita harus waspada dan berpikir keras dalam melihat fenomena disintegrasi bangsa dan berbagai masalah isu SARA yang muncul di negeri ini baik yang pernah terjadi dan yang masih terjadi di penjuru negeri. Kejadian semacam itu amat mudah terjadi di negeri majemuk ini dan akan terus berlangsung sepanjang diri manusia masih dikuasai oleh kobaran nafsunya. Bila hal itu terus berkembang dan tidak teratasi, maka negeri ini menjadi tidak aman dan tidak kondusif bagi penduduknya maupun bangsa lain yang akan berkunjung di negeri ini.

Hal demikian pasti akan berdampak buruk, yakni negara kita akan hancur, kaum muslimin dikambinghitamkan, dan kemerdekaan bangsa pun akan lenyap. Oleh karena itu, sebagai muslim yang cerdas, kita harus berhati-hati, cerdik, dan arif dalam menyikapi persoalan bangsa yang besar ini. Hilangkan negative thinking (su’udzon) serta hindari perbuatan saling tuduh dan fitnah.Janganlah sekali-kali kita memandang negatif saudara kita sendiri sebab Islam senantiasa mengajarkan keselamatan, cinta kasih, dan perdamaian. Ingatlah kita tak akan dapat memerangi tukang fitnah dan provokator kalau kita juga menjadi tukang fitnah dan provokator. Ingatlah bahaya fitnah dan dosa fitnah yang sangat besar sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Alquran:    

الفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ القَتْلِ

(Sesungguhnya fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan).

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Siapakah sebenarnya yang berdiri di balik itu semua?. Mereka itulah setan-setan yang terlaknat, mereka itulah manusia yang bersekutu dengan setan, mereka itulah orang-orang yang kurang waras hatinya, mereka itulah manusia yang dikuasai oleh hawa nafsu, mereka itulah kaum imperialis yang ingin menguasai dunia dengan cara-cara keji. Oleh karena itu, sebagai bangsa yang berdaulat, dan sebagai muslim sejati kita harus bersatu padu untuk berjihad melawan kobaran hawa nafsu dengan berpegang teguh pada ajaran Allah SWT. Ingatlah firman Allah :

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا

Artinya: Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.

Di samping kita merapatkan barisan tersebut para hadirin, kita juga harus bergotong royong, memerintahkan kepada sesama untuk berbuat baik dan mencegah perbuatan-perbuatan munkar. Pendeknya kita harus tolong-menolong untuk memperbaiki citra bangsa dan negeri ini. Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Sebab para hadirin, kondisi yang kurang kondusif ini tidak akan menjadi kondusif apabila kita berpangku tangan, bermalas-malasan, lebih-lebih mengikuti gejolak hawa nafsu. Allah menegaskan dalam Alquran yang berbunyi:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ 

Artinya: Sungguh Allah tidak akan merubah keadaan sesuatu kaum (bangsa) sebelum mereka berusaha  merubah keadaan yang ada pada diri mereka (QS. Arra’du:11).

Hadirin sidang Jumat rahimakumullah,

Sebagai penutup khutbah pertama ini, marilah kita berintrospeksi secara individual maupun kolektif. Sebagai hamba Allah dan warga negara yang baik, sudahkah kita melakukan yang terbaik buat bangsa ini, sudahkah kita berjuang untuk bangsa ini dengan sebaik-baiknya, sudahkah kita berupaya untuk memerangi tindakan-tindakan kotor dan keji pada diri kita,  sudahkah kita berupaya menundukkanhawa nafsu yang bersemayam dalam diri kita?. Kalau belum mari bersegeralah.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here