Khutbah Jumat: Pentingnya Ilmu dalam Beramal

0
34

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتَابِهِ: يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (سورة المجادلة: ١١) ـ

Hadirin sidang Jumat Rahimakullah,

Ketakwaan adalah indikator utama dimuliakannya seorang hamba oleh Allah SWT. Oleh karena itu, mengawali khutbah Jumat ini, mari kita tingkatkan ketakwaan dan ketaatan kita pada Allah SWT dengan sungguh-sungguh, yaitu menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah semaksimal mungkin sampai akhir hayat kita. Dan ingatlah Allah telah menegaskan pada kita agar janganlah sampai kita mati nanti kecuali dalam keadaan berserah diri kepada-Nya.

Hadirin sidang Jumat Rahimakumullah,

Ilmu itu sangat mendasari keberterimaan sebuah amal atau perbuatan. Artinya, amal atau perbuatan yang kita lakukan ini diterima atau tidak oleh Allah itu harus didasari ilmu. Sebab, jika tanpa ilmu orang bisa jadi berbuat atau beramal melampaui batas yang telah ditentukan. Bisa jadi pula orang berbuat sekehendaknya, bahkan bisa jadi berbuat sesuatu dengan mengikuti hawa nafsunya. Terkait hal ini, seorang Sahabat Rasulullah, Muadz bin Jabbal berkata bahwa “ilmu itu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu”.

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ

Bertolak dari Sahabat Muadz tersebut, maka kita harus mempelajari ilmu terlebih dahulu kemudian baru berbuat atau beramal. Artinya, ilmu yang kita peroleh dari belajar itu harus kita gunakan sebagai dasar bagi kita untuk beramal atau berbuat sesuatu. Terkait ilmu pulalah Rasulullah SAW menyuruh umatnya untuk mencari sebanyak-banyaknya sepanjang hidup ini. Sebab, Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu dengan derajat yang tinggi sebagaimana firman-Nya dalam Alquran Surat Almujadalah: 11

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ

Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”

Hadirin sidang Jumat Rahimakumullah,

Dalam mencari ilmu, terlebih ilmu agama, kita juga harus berhati-hati dan selektif. Jika tidak selektif maka akan memunculkan perbuatan yang ekstrem, seperti radikalisme dan terorisme yang sering kita dengar dan baca beritanya. Di sisi lain, bisa jadi dengan dalih ilmu, juga bisa menimbulkan perbuatan yang bersifat liberal atau sebebas-bebasnya. Kedua kutub yang bertentangan itu sangat ditolak dalam agama Islam, terlebih oleh paham ahlussunnah waljamaah. Sebab Allah berfirman dalam Alquran Surat Albaqarah: 143

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا

Artinya: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai “umat pertengahan”

Terkait ayat ini Imam an Nasafi dalam Tafsir Annasafi: Madarik at Tanzil wa Haqa’iq at Ta’wil menjelaskan makna wasath dengan detil.

Artinya: “Kami (Allah) telah menjadikan kalian umat pertengahan antara sikap melampaui batas, dan sikap teledor dan meremehkan. Sesungguhnya kalian wahai umat Muhammad tidaklah melampaui batas seperti sikap kaum Nasrani yang menyifati ‘Isa dengan sifat ketuhanan, dan tidak pula bersikap merendahkan seperti sikap kaum Yahudi yang menuduh Maryam sebagai pelaku zina dan ‘Isa sebagai anak zina”

Terkait dengan dengan sikap wasathiyah ini pun Rasulullah Saw menegaskan dalam hadistsnya yang sangat popular:

خَيْرُ الْأُمُوْرِ أَوْسَطُهَا

Artinya “Sebaik-baik perkara adalah perkara yang tengah.” (HR al Baihaqi dalam Syu’ab al Iman)

Hadirin sidang Jumat Rahimakumullah,

Dari ayat dan hadist tersebut jelaslah bahwa Allah menjadikan kita sebagai umat Nabi Muhammad bersifat wasathiyah, yaitu tidak bersifat ekstrem kanan dan tidak ekstrem kiri, tidak melampaui batas yang digariskan oleh syariat, dan tidak bersikap menyepelekan agama. Artinya, Islam tidak mengajarkan kita sikap berlebihan seperti ekstremisme, radikalisme, dan terorisme. Sebab, penyebab ekstremisme dan terorisme adalah sikap berlebih-lebihan dalam masalah agama di samping juga karena kebodohan pelakunya. Rasulullah Saw  mengingatkan kita dalam sebuah hadits yang artinya:

“Wahai manusia, hindarkanlah diri kalian dari sikap berlebih-lebihan dalam agama, karena sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama.” (HR Ahmad, an Nasa’i dan Ibn Majah).

Jadi, para hadirin, jika kita melihat atau mendengar kabar terkait dengan tindakan pembinasaan manusia di berbagai tempat, juga tindakan meledakkan diri atau bunuh diri di tengah kerumunan umat manusia dengan dalih jihad atau keinginan mati syahid, itu adalah tindakan ekstremisme dan terorisme. Penyebabnya, sangat jelas yakni sikap berlebih-lebihan dalam beragama atau karena kurangnya ilmu agama yang dikuasainya.

Hadirin sidang Jumat Rahimakumullah,

Penguasaan terhadap ilmu agama itu  sangat penting bagi umat Nabi Muhammad SAW dalam rangka meneruskan misi risalahnya, khususnya dalam menebar cinta kasih bagi alam semesta dan menyempurnakan akhlak. Oleh karena itu, untuk memperoleh ilmu agama dengan baik tentu harus melalui pewaris para Nabi, yakni para ulama yang sanad dan keilmuannya jelas dan tersambung sampai Nabi Muhammad SAW. Bukan belajar pada orang-orang yang sedikit ilmunya, terlebih sanad keilmuannya tidak jelas. Dengan banyak belajar pada orang alim maka wawasan akan terbuka luas, sehingga agama itu tidak mempersempit kita dalam beribadah, tetapi agama bisa memberi solusi ketika kita dalam kondisi kesulitan. Sebab, Allah menghendaki kemudahan bagi hambanya bukan mempersulitnya. Dengan keluasan ilmu semua akan menjadi mudah, tetapi dengan sedikit ilmu maka akan mempersulit kita.

Hadirin sidang Jumat Rahimakumullah,

Sebentar lagi bulan suci Ramadan akan tiba. Untuk menghadapi bulan suci yang di dalamnya kita diwajibkan berpuasa sebulan penuh ini, tentu kita tidak hanya bersuka cita saja dalam menyambut bulan Ramadhon tahun ini. Namun, yang terpenting kita harus mempersiapkan diri dengan bekal ilmu agama. Dengan berpegang pada ilmu agama, insyaallah ibadah puasa kita secara syariat menjadi benar, dan dengan syariat yang benar insyaallah ibadah kita akan mudah diterima oleh Allah Swt.

Untuk mencapai tujuan itu, kita harus memahami betul hal-hal yang paling mendasar terkait ibadah puasa. Misalnya, rukun puasa, syarat puasa, larangan bagi orang yang berpuasa dan atau hal-hal yang membatalkan puasa, amalan sunnah puasa sampai pada hal-hal yang menghilangkan pahalanya puasa.

Oleh karena itu, di akhir khutbah singkat ini, saya mengajak pada hadirin untuk menyambut bulan suci Ramadan dengan penuh suka cita. Mari makmurkanlah masjid dan musala dengan salat berjamaah lima waktu dan salat tarawih. Hadirilah majlis-majlis taklim di sekitar kita. Bacalah Alquran dengan tartil. Berinfak dan bersedakahlah yang terbaik, di samping kewajiban membayar zakat. Serta selalu berdzikir dan berdoa dengan khusyu’ pada Allah Swt setiap waktu. Semoga Allah Swt menerima amal ibadah serta mengabulkan doa-doa kita di bulan suci Ramadan tahun ini. Amin, Amin, Amin Ya Robbal ‘aalamiin.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا،

     أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. ـ

Moh Muzakka Mussaif, Ketua PC LDNU Kabupaten Kendal

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here