Khutbah Jumat: Memaknai Hijrah di Masa Kini

0
183
Oleh: Moh. Muzakka Musaif

Khutbah I

 اَلْحَمْدُ للهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارْ، اَلْعَزِيْزِ الْغَفَّارْ، مُكَوِّرِ اللَّيْلِ عَلَى النَّهَارْ، تَذْكِرَةً لِأُولِى الْقُلُوْبِ وَالْأَبْصَارْ، وَتَبْصِرَةً لِّذَوِي الْأَلْبَابِ وَالْاِعْتِبَارْ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِٰلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهْ الْمَلِكُ الْغَفَّارْ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  سَيِّدُ الْخَلاَئِقِ وَالْبَشَرْ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأٰلِهِ وَصَحْبِهِ الْأَطْهَارْ. أَمَّا بَعْدُ

فَيَآأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ فِيْ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ،  بِسْمِ ٱللّٰهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيمِ

 إِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوا وَجَٰهَدُوا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أُولَٓئِكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللهِۚ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Sebelum saya menyampaikan khotbah dengan tema “Memaknai Hijrah di Masa Kini”, marilah kita memanjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmah, hidayah, dan nikmah yang tiada terhingga kepada kita sehingga kita masih dapat berkumpul di masjid ini untuk menunaikan shalat Jumat secara berjamaah. Moga dengan selalu mensyukuri nikmat-nikmat ini,  Allah akan menambah beragam nikmat lainnya kepada kita.   Selain daripada itu, shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada penghulu umat manusia, Rosulullah SAW, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya, wabil khusus pada kita yang hadir di masjid ini.

Selaku khatib saya juga selalu berwasiat kepada diri saya sendiri dan hadirin untuk senantiasa menjaga  ketakwaan kepada Allah SWT di manapun kita berada dan dalam kondisi apapun, yaitu dengan cara meningkatkan ketaatan kita pada Allah SWT, menjalankan perintah-perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. Janganlah kita mati kecuali dalam keadaan iman dan Islam.

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah,

Di penghujung bulan Muharram ini, perlu kita renungkan kembali tentang pergantian tahun, khususnya datangnya tahun baru hijriah. Sebab, di awal tahun ini, di samping kita perlu mengevaluasi diri kita atas segala amal atau perbuatan yang telah kita lakukan setahun yang lalu, kita juga perlu merenungkan kembali dan mengkaji secara mendalam terhadap hakikat makna hijrah itu di masa kini. Dua hal tersebut menjadi sangat penting bagi kita sekaligus menjadi acuan untuk meningkatkan amal-amal shalih di tahun baru ini dengan semangat hijrah.

Pergantian tahun ini pasti menandai bahwa umur kita bertambah jumlahnya, tetapi secara hakikat usia kita berkurang karena semakin dekat dengan batas akhir usia kita. Hal ini harus kita sadari sekaligus juga harus syukuri. Sebab, makin kita menyadarinya, insyaallah kita akan makin hati-hati dalam menjalani sisa-sisa usia sehingga akan menjadikan kita lebih taat dan dekat pada Allah. Kita juga harus mensyukurinya karena Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk memperbaiki hidup kita dalam beribadah pada-Nya dan diberi kesempatan untuk bermuamalah pada sesama manusia. Oleh karena itu, sebagai orang-orang beriman, momentum ini kita jadikan sebagai sarana untuk bermuhasabah dan berinstrospeksi sekaligus menjadi alat untuk mengevaluasi  ibadah kita dan kinerja kita yang telah dilakukan di tahun yang lalu. Dengan berkaca pada tahun lalu itulah kita akan dapat memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dan meningkatkan hal-hal baik yang sudah kita kerjakan.

Hadirin sidang jumat rahimakumullah,

Allah SWT memerintahkan orang-orang yang beriman untuk selalu berinstrospeksi bukan hanya setiap tahun, tetapi instrospeksi harus dilakukan setiap waktu. Hal itu mengandung maksud bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu mengevaluasi amal ibadah dan kinerja kita setiap waktu. Dari hasil evaluasi terhadap yang sudah dikerjakan itulah kita diperintah untuk memperbaiki segala yang kurang baik dan meningkatkan amalan-amalan yang sudah baik. Tentang perintah berintrospeksi dan atau bermuhasabah ini ditegaskan Allah dalam Alquran Surat Alhasyr, 18 yang berbunyi: 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dari ayat tersebut sangat jelas para hadirin, selain kita diperintah untuk bertakwa kepada Allah, juga harus memperhatikan, mengevaluasi, menghitung segala perbuatan yang telah dilakukannya. Hal demikian ini menjadi bahan yang sangat penting bagi kita dalam melakukan perbuatan-perbuatan selanjutnya di hari esok dan atau di akhirat kelak. Saking pentingnya bermuhasabah itu bagi kita, Sayyidina Umar bin Khaththab pun menegaskan dan memerintahkan pada umat Islam untuk menghisab diri

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ

Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab Allah, dan timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang oleh Allah, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal.

Hadirin siding Jumat Rahimakumullah,

Terkait dengan instrospeksi, sejelek dan sebaik apapun hasilnya sangat bermanfaat bagi kita untuk meningkatkan kebaikan-kebaikan. Sebab, dari hasil itu, secara berkelanjutan kita dapat melihat perubahan-perubahan perilaku kita dan membandingkannya dengan sebelumnya. Dengan cara inilah kita dapat menghitung apakah hasilnya sama, lebih baik, atau lebih buruk. Sebab, jika hasilnya amalan-amalan kita meningkat berarti kita beruntung. Jika hasilnya sama dengan sebelumnya berarti kita merugi. Dan, jika lebih jelek dari sebelumnya, maka kita akan rusak. Penilaian semacam ini mengacu sebagaimana hadits Rasulullah SAW  yang sangat popular

من كان يومه خيرا من أمسه فهو رابح. ومن كان يومه مثل أمسه فهو مغبون. ومن كان يومه شرا من أمسه فهو ملعون

Artinya: Barang siapa hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung. Barang siapa hari ini sama seperti kemarin, maka ia merugi. Barang siapa hari ini lebih buruk dari kemarin, maka ia celaka.

Hadirin sidang Jumat Rahimakumullah,

Muhasabah setiap waktu itu sebenarnya adalah bagian dari makna hijrah itu sendiri. Mengapa bisa begitu para hadirin? Sebab hijrah itu sebenarnya bukan pindah secara fisik semata, tetapi yang terpenting adalah hijrah mental dan spiritual. Terkait dengan peristiwa hijrah Rasulullah SAW ke Yasrib (madinah) itu juga hakikatnya adalah hijrah mental spiritual, karena hal itu didasari oleh perintah Allah SWT. Dengan menjalankan perintah Allah SWT pindah ke Yatsrib itu di samping Allah menyelamatkan Rasul dan umatnya dari berbagai terror dan acaman orang-orang kafir, juga memberikan peluang untuk menyebarkan agama di Madinah yang lebih aman dan kondusif, meski masyarakatnya multietnis dan multikultural. Di sinilah kemudian hijrah itu bukan semata-mata pindah tempat, tetapi menjalankan syariat. Hal demikian bisa juga dibuktikan, bahwa setelah peristiwa hijrah itu Rasulullah pun tidak diperintah lagi oleh Allah SWT hijrah ke tempat lain meski Mekah juga sudah dikuasai oleh umat Islam. Terkait dengan hijrah ini, Rasulullah SAW pernah ditanya oleh sahabat, “Ayyul hijratu afdholun, ya Rasulullah? Rasulullah menjawab, “Man hajaras sayyiat”. “Hijrah apa yang paling utama, Ya Rasulullah”? Beliau menjawab, “Orang yang pindah, meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk”.

Hadirin sidang Jumat Rahimakumullah,

Dengan mengacu pada jawaban Rasulullah tersebut, poin penting makna hijrah itu adalah perpindahan dan atau perubahan perilaku, mental-spiritual, serta karakter pada setiap individu. Yakni, pindah dan berubah dari hal-hal buruk menuju kebaikan; pindah dari kekurangtaatan pada perintah Allah menuju ketaatan dan ketakwaan, pindah dari setiap perbuatan dosa menuju perbuatan yang penuh pahala, pindah dari belenggu kegelapan hati menuju cahaya hidayah, serta pindah dari karakter yang kurang baik menuju akhlaqul karimah. Dengan berpindah dari semua perbuatan buruk menuju baiklah itulah, maka kita akan menjadi orang yang beruntung, fiddiny waddunya hattal akhirah.

Hadirin Sidang Jumat Rahimakumullah,

Sebagai penutup khothbah pertama ini, saya tegaskan lagi bahwa muhasabah atau instrospeksi ini sangat penting bagi kita untuk mereview sekaligus mengevaluasi segala amalan dan kinerja kita yang telah lalu. Selanjutnya, muhasabah itu harus dilakukan setiap waktu, tidak sebatas awal tahun atau akhir tahun. Dari hasil muhasabah itulah kita dapat berhijrah meninggalkan semua hal yang buruk menuju hal-hal yang baik sekaligus dapat meningkatkan hal-hal baik menjadi lebih baik lagi.

Akhirnya, melalu mimbar ini saya mengajak pada diri saya sendiri dan hadirin untuk bermuhasabah dengan semangat hijrah di tahun baru hijriyah ini.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلُقْرءَانِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بمَا  فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

نَحْمَدُ اللهَ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ، وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئاَتِ أَعْمَالِنَا. أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِٰلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهْ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.  اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةْ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إِلَى يَوْمِ النَّهْضَةْ . أَمَّا بَعْدُ. أَيُّهَا النَّاسُ! أُوْصِيْكُمْ بتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

فَقَالَ تَعَالَى مُخْبِرًا وَأٰمِرًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ  وَبَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا إِبْراهَيْمَ فِي الْعٰلَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمْؤُمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الْحاَجاَتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الِإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ بِمَا فِيْهِ صَلاَحُ الِإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ. رَبَّنَا أتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّءْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا. رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا أتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهْ! إِنَّ اللهَ يَعْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاۤءِ ذِي اْلقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ اْلفَخْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ،  فَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمٍ يَّزِدْكُمْ وَاسْئَلُوْا مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here