Khutbah Idul Adha: Hakikat Idul Adha

0
209
Oleh: Moh Muzakka Mussaif

Khutbah I

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.  الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Allahu Akbar x3 walillahilhamd

Sebelum khatib menyampaikan khutbah Idul Adha dengan tema “Hakikat Idul Adhha” ini, marilah kita bersama-sama  senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmah dan hidayah kepada kita sehingga di pagi yang bahagia ini kita diberikan kekuatan dan kesempatan oleh Allah SWT berduyun-duyun menuju masjid ini untuk menjalankan ibadah shalat Ied secara berjamaah sambil mengumandangkan takbir, tahmid, dan tasbih.

Di samping itu, saya juga mengingatkan sekaligus berwasiat pada diri sendiri dan hadirin  yang berada di masjid ini untuk selalu meningkatkan kadar keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya  dengan disertai bentuk ibadah yang nyata, yaitu menjalankan semua perintah Allah dengan tujuan mengharap ridho-Nya dan menjauhi segala larangan Allah dengan cara memohon perlindungan kepada-Nya. Jangan sekali-kali kita melupakan kekuasaannya yang amat besar ini. Dialah penguasa dunia fana ini, Penguasa surga dan neraka, serta Penguasa dunia abadi atau akhirat. Tiada daya dan  upaya  manusia  tanpa kekuatan dan kekuasaan-Nya. Oleh karena itu, tidak sepantasnyalah  kita menyombongkan diri di hadapan-Nya.

Allahu Akbar x3 Walillahil hamd

Setelah kita peroleh nilai-nilai kesucian Idul Fitri sebagai hasil gemblengan ibadah puasa Ramadan dua bulan lalu, tentu nilai-nilai kesucian itu kini berubah bermacam-macam, ada yang tetap terjaga kesuciannya karena kadar keimanan dan ketakwaan kita meningkat, ada juga yang tercemari sedikit atau banyak karena kontrol kita yang sedikit-banyak kurang diperhatikan, bahkan juga ada yang menjadi sangat kotor karena kita tak mampu menjaganya akibat merosotnya kadar keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, sebelum kita benar-benar merugi, kita harus berbenah dan memperbaiki keimanan dan ketakwaan kita pada Allah SWT di hari raya Idul Idha ini. Mari jadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan kadar keimanan dan ketakwaan kepada-Nya sebab dalam moment Idul Adha sangat terbuka bagi kita untuk memperoleh derajat tertinggi di hadapan Allah SWT. Dan ingatlah selalu bahwasannya indikator kemuliaan manusia di sisi Allah Swt adalah kadar ketakwaannya.

Allahu Akbar x3 walillahil hamd,

Pada momen Idul Adha ini ada dua bentuk ibadah besar sebagai upaya taqarrub lillah (pendekatan diri pada Allah)  sekaligus peristiwa  bersejarah bagi umat Islam, yaitu ibadah haji dan  penyembelihan hewan kurban. Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam  yakni rukun Islam yang kelima sehingga ibadah ini wajib dilakukan oleh seluruh umat Islam, khususnya bagi yang mampu atau yang kuasa menempuhnya. Dasar hukum haji ini sangat jelas dalam banyak ayat dan surat dalam Alquran. Misalnya tampak dalam Surat Ali Imron ayat 97 yang berbunyi

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ ٧

Artinya: …..Mengerjakan haji merupakan kewajiban umat manusia kepada Allah, yaitu bagi yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya…

Adapun ibadah qurban merupakan ibadah sunah muakad, yakni ibadah yang bernilai sunnah yang ditegaskan dan ditekankan untuk melaksanakannya bagi umat Islam. Dasar hukum perintah untuk berkurban juga tampak dalam berbagai ayat dan surat dalam Alquran misalnya tampak dalam Surat Alkautsar ayat 1dan 2 yang berbunyi

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ ١  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ ٢

Artinya: Sesungguhnya Aku (Allah telah memberimu serba banyak, maka dirikanlah sholat untuk Tuhanmu dan sembelihlah kurban.

Allahu Akbar x3 Walillahil hamd,

          Ibadah haji bukan semata-mata aktivitas fisik seperti berkeliling ka’bah, lari-lari kecil dari shofa ke marwa, melemparkan batu-batu kerikil (mbalang jumrah), memotong rambut, memakai kain putih tanpa jahitan (pakaian ihram), dan sebagainya. Akan tetapi,  ibadah haji merupakan ibadah lahiriah dan batiniah, material dan spiritual, fisik dan psikis yang berpadu dan menyatu dalam rangka berkomunikasi pada Allah, untuk taqorrub lillah, sekaligus untuk menghadap Sang pencipta alam semesta dengan penuh keikhlasan. Oleh karena itulah, Allah mensyaratkan tiga hal yang wajib dipatuhi oleh orang-orang yang berhaji yakni la rafatsa (tidak melakukan hal-hal yang bersifat sensualitas dan seksualitas), la fusuqa (tidak boleh berbuat fasiq), dan la jidala (tidak boleh berbantah-bantahan). Hal ini sangat tegas difirmankan oleh Allah dalam Alquran surat Albaqarah ayat 197 yang berbunyi.

ٱلۡحَجُّ أَشۡهُرٞ مَّعۡلُومَٰتٞۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلۡحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي ٱلۡحَجِّۗ ٩٧

Artinya: Barangsiapa yang yang menetapkan niatnya akan mengerjakan haji maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.

Allahu Akbar x3 Walillahil hamd

Dari ayat itu cukup jelas, bahwa orang yang akan menyempurnakan Islamnya cukup berat sebab ketiga hal tersebut sulit dihindari oleh kebanyakan orang. Ayat tersebut secara tersirat juga dapat dimaknai bahwa orang yang akan mendekatkan diri kepada Allah harus bersih diri dan sudah bertaubat. Oleh karena itu, sebagai hamba Allah yang sudah berhaji maupun yang belum berhaji kita harus dapat mengambil pelajaran dari ayat tadi.

La rafatsa  janganlah sekali-kali kita mengatakan, melakukan, dan mempertontonkan hal-hal yang mengarah pada nafsu birahi juga kata-kata kotor lainnya. La fusuqo, janganlah berbuat fasik sebab fasik itu berupa gunjingan dan fitnahan juga pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum syara’ lainnya. Dalam pandangan Islam gunjingan dan fitnah serta melanggar hukum syara’ adalah termasuk dosa besar. Kita harus menghindar dari sifat fasiq janganlah sekali-kali kita melakukannya lebih-lebih untuk tujuan tertentu seperti pangkat, jabatan, dan harta benda. Selanjutnya yang ketiga para hadirin, la jidala, janganlah berbantah-bantahan, bertengkar, atau berdebat pada sesama, baik langsung maupun lewat medsos, sebab jidal ini akan mengantarkan manusia pada permusuhan, perpecahbelahan, pertikaian, bahkan bisa jadi saling bunuh. Oleh karena itu, jika kita ingin menyempurnakan keislaman dan ketakwaan kita pada Allah maka kita wajib menjauhi ketiga larangan tadi.

Allahu Akbar x3 walillahil hamd,

Bentuk peribadatan kedua pada bulan haji ini adalah ibadah kurban, yakni penyembelihan binatang ternak seperti onta, sapi, kerbau atau kambing. Ibadah ini bukanlah formalitas semata, yakni memotong kambing dan membagikannya kepada fakir miskin lalu sebagian digunakan untuk makan-makan. Akan tetapi ibadah ini sesuai dengan namanya Qurban yakni untuk mendekatkan diri pada Allah dengan penuh keikhlasan dan keimanan. Ingatlah kembali para hadirin sejarah ibadah ini.

Dulu, Nabi Ibrohim As sangat menginginkan lahirnya seorang anak sebab sudah amat sangat tuanya beliau berumah tangga tidak kunjung dikaruniai anak, beliau berdoa kepada Allah sepanjang hari, bulan, dan tahun hingga akhirnya Allah SWT memberinya seorang anak yang amat cerdas, tampan, dan salih bernama Ismail As. Namun, ketika Ismail menjelang remaja, Ibrohim bermimpi mendapat perintah Allah untuk menyembelih putranya yang amat dikasihinya itu.

Walhasil, Ibrohim AS melaksanakan perintah itu dengan dukungan dari putranya meskipun akhirnya Allah menggantikan Ismail dengan seeokor domba. Betapa ikhlasnya Ibrohim AS dan Ismail AS melaksanakan perintah Allah, jangankan hartanya, nyawa anak satu-satunya bahkan jika dimungkinkan nyawanya sendiripun beliau serahkan pada Allah. Oleh karena itu para hadirin, karena keikhlasan dan kesabaran Nabi Ibrahim AS, Nabi Muhammad SAW mensyariatkan ibadah ini sebagai taqarrub lillah di hari Idul Adha dan di hari tasyriq sebab pahala Qurban sangat banyak sebagaimana hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majjah berikut ini,

عَنْ زَيْدِ بْنِ اَرْقَمَ قَالَ: قَالَ اَصْحَابُ رَسُوْلِ الله ص: يَا رَسُوْلَ الله ، مَا هىذِهِ اْلضَاحِيُّ؟:قَالَ: سُنَّةُ اَبِيْكُمْ ِابْرَاهىِيْمَ. قَالُوْا: فَمَا َلَنا فِيْهَا يَا رَسُوْلَ الله؟ قَال: بِكُلّ شَعَرَةٍ حَسَنةٌ. قَالُوْا: فَالصُّوْفُ يَا رَسُوْلَ الله؟ قَالَ: بِكُلّ شَعَرَةٍ مِنَ الصُّوْفِ حَسَنةٌ

Artinya: Dari Zaid bin Arqam, ia berkata : Para shahabat Rasulullah SAW bertanya, “Ya Rasulullah, apakah udlhiyah itu?”. Jawab Nabi SAW, “Itulah sunnah ayahmu, Ibrahim”. Mereka bertanya, “Apa yang kita peroleh dari udlhiyah itu, ya Rasulullah?”. Jawab beliau, “Pada tiap-tiap helai bulunya kita peroleh satu kebaikan. Lalu para shahabat bertanya, “Bagaimana dengan bulu domba, ya Rasulullah?”. Beliau SAW bersabda, “Pada tiap-tiap helai bulu domba kita peroleh satu kebaikan” (HR. Ibnu Majah)

Allahu Akbar x3 walillahilhamd

Dari uraian tadi cukup jelas, bahwa pelajaran qurban yang terpenting adalah pendekatan diri pada Allah dengan penuh keikhlasan, kesabaran, dan ketakwaan bukan karena terpaksa dan dipaksa, bukan karena gengsi, bukan untuk dipamerkan, bukan untuk tujuan politik tertentu. Sebab Allah tidak akan menerima ibadah kurban yang seperti itu. Hal ini ditegaskan dalam Alquran Surat Alhajj ayat 37.

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ

Tiadalah Allah akan menerima daging-daging hewan yang menjadi qurban dan tidak pula darahnya, melainkan Allah akan menerima ketakwaanmu

Allahu Akbar x3 walillahil hamd

Dalam konteks Indonesia, para hadirin, contoh-contoh pengurbanan dengan penuh keikhlasan dan ketakwaan tersebut tampak dalam perjuangan para pahlawan dan syuhadak dalam merebut kemerdekaan RI. Mereka rela mengorbankan harta, benda, keluarga, dan nyawa untuk merebut kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. Karena segala bentuk penjajahan itu sangat bertentangan dengan agama Islam. Oleh karena itu, sebagai anak bangsa kita harus bisa meneladani perjuangan dan keikhlasan mereka. Kita harus mengisi kemerdekaan ini dengan membangun bangsa sebaik-baiknya, baik fisik maupun mental spiritual.

Allahu Akbar x3 Walillahil hamd

Akhirnya, saya mengajak diri saya dan kaum muslimin-muslimat untuk senantiasa lebih mendekatkan diri kepada Allah, melaksanakan perintah-perintahnya dengan penuh keikhlasan. Makmurkanlah dan syiarkanlah Idul Adha sekarang dan yang akan datang dengan ibadah haji, qurban, dan amal-amal salih. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita. Amin ya robbal alamin.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here