Keutamaan Nabi Muhammad SAW Dibanding Para Rasul

0
59

Oleh Imam Abdullah El-Rashied

Keutamaan Nabi Muhammad SAW sangat panjang untuk dibahas. Tetapi kami akan menghadirkan uraian guru kami Rektor Imam Shafie College Syeikh Muhammad Ba’athiyah tentang hal ini. Syekh Muhammad menyebutkan dalam karyanya Mujazul Kalam yang tidak lain dari penjelasan nazhom Aqidatul Awam karya Sayyid Ahmad Al-Marzuqi sebagai berikut :

نَبِيُّنَا مُحَمَّدٌ قَدْ أُرْسِلَا  –  لِلْعَالَمِيْنَ رَحْمَةً وَفُضِّلَا

Nabi kita Muhammad SAW telah diutus

Ke alam semesta sebagai rahmat dan beliau telah diberi keutamaan.

Yang dimaksud alam semesta adalah segala hal selain Allah SWT. Jadi risalah Nabi Muhammad SAW itu umum untuk semua mahluk bahkan untuk malaikat, benda mati, dan binatang di mana mereka tidak memunyai akal. Hanya saja risalahnya kepada mereka adalah risalah ta’rif (pengenalan). Sedangkan untuk malaikat adalah risalah tasyrif (kemuliaan) bukan risalah taklif (kewajiban menjalankan syariat Islam).

Syekh Ibnu Hajar berkata, “Bahkan risalahnya kepada malaikat adalah risalah taklif dengan kewajiban yang layak bagi mereka. Sedangkan risalah untuk manusia dan jin, begitu pula Ya’juj dan Ma’juj adalah risalah taklif secara ijma’.”

Siapa saja yang meniadakan keumuman risalahnya seperti sekte ‘Isawiyah adalah kafir. ‘Isawiyah adalah salah satu sekte dari Yahudi yang menganggap Nabi Muhammad SAW diutus teruntuk hanya Bangsa Arab). Hal ini berlandaskan pada Firman Allah SWT,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلَّناسِ. (سبأ : 28)

“Tidaklah kami mengutusmu melainkan untuk semua manusia”. (QS. Saba’: 28)

Begitu juga hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi sebagai berikut,

أُعْطِيْتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ قَبْلِيْ: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ, وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا, فَأَيُّمَا رَجُلٌ مِنْ أُمَّتِيْ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ, وَأُحِلَّتْ لِي الْغَنَائِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ مِنْ قَبْلِيْ, وَأُعْطِيْتُ الشَّفَاعَةَ, وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النِّاسِ كَافَّةً)). رواه البخاري ومسلم 

“Aku telah diberi 5 keistimewaan yang tidak diberikan kepada seorang pun dari para nabi sebelumku. Pertama, Aku diberi pertolongan dengan rasa takut yang ditanamkan dalam musuh dalam jangka sebulan (sebelum berperang). Kedua, bumi dijadikan masjid dan suci bagiku. Siapa pun ketika masuk waktu shalat dapat menjalankannya di mana saja. Ketiga, ghanimah (harta rampasan perang) dihalalkan untukku. Sedangkan ghanimah tidak pernah dihalalkan untuk seorang nabi pun sebelumku. Keempat, Aku diberikan syafa’at. Kelima seorang nabi hanya diutus terbatas untuk kaumnya, sedangkan aku diutus untuk semua umat manusia.  HR Bukhari-Muslim.

Bahkan sebagian ulama berpendapat akan keumuman ayat dan hadits di atas yang menyatakan Nabi Muhammad SAW diutus untuk seluruh manusia, bahkan termasuk umat-umat terdahulu dan nabi-nabi mereka. Penjelasan ini bisa ditarik dari sebuah ayat yang menyatakan bahwa Allah SWT telah mengambil janji saat pengutusan Nabi Muhammad SAW. Allah meminta para nabi untuk beriman kepadanya seperti dijelaskan dalam ayat berikut :

وَإِذْ أَخَذَ اللهُ مِيْثَاقَ النَّبِيِّيْنَ لَمَا أَتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرَنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ  وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكَ إِصْرِيْ قَالُوْا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوْا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ. (آل عمران : 81).

Ketika Allah mengambil janji para nabi terhadap apa yang Aku datangkan baik dari kitab maupun hikmah, kemudian datang seorang rasul (Nabi Muhammad SAW) yang membenarkan apa yang kalian bawa, kalian akan beriman kepadanya serta menolongnya. Allah berfirman, “Apakah kalian mengikrarkan dan akan mengambil janji-Ku?” Mereka (para nabi) menjawab, “Kami berikrar.” Allah berfirman, “Saksikanlah. Aku bersama kalian menjadi saksi.”  (QS. Ali Imran : 81)

Risalah yang diemban Rasulullah SAW adalah rahmat bagi semesta Alam. Orang-orang yang beriman pada risalahnya akan selamat di dunia dan akhirat. Sedangkan mereka yang mengingkarinya akan ditimpakan azab yang menyedihkan.

Allah SWT berfirman

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِيْنَ. (الأنبياء : 107).

“Tidaklah kami mengutusmu melainkan sebagai Rahmat untuk semesta alam”.  (QS. Al-Anbiya’ : 107).

Di antara hal yang wajib diyakini seorang yang mukallaf tentang Nabi Muhammad SAW adalah keutamaan Rasulullah SAW di atas para nabi dan rasul. Ayat tentang pengutusannya untuk segenap umat manusia sudah memadai sebagai dalil atas keutamaannya dibandingkan para nabi dan rasul. Allah SWT berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلَّناسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا. (سبأ : 28)

“Tidaklah kami mengutusmu melainkan untuk semua manusia sebagai pembawa kabar gembira dan sebagai pemberi peringatan”.  (QS. Saba’ : 28)

Berikut ini hadits yang menunjukkan keutamannya atas segenap nabi dan rasul :

أَنَا أَوَّلُ النَّاسِ خُرُوْجًا إِذَا بُعِثُوْا, وَأَنَا خَطِيْبُهُمْ إِذَا وَفَدُوْا, وَأَنَا مُبَشِّرُهُمْ إِذَا يَئِسُوْا. لِوَاءُ الْحَمْدِ يَوْمَئِذٍ بِيَدِيْ, وَأَنَا أَكْرَمُ وَلَدِ آدَمَ عَلَى رَبِّيْ وَلاَ فَخْرَ. رواه الترمذي

“Aku adalah manusia yang pertama kali keluar saat orang-orang dibangkitkan (dari kuburnya). Aku adalah khotib mereka tatkala mereka datang. Aku pemberi kabar gembira manakala mereka berputus asa (pada hari Kiamat). Bendera pujian pada hari itu ada di tanganku. Sedangkan aku adalah anak Adam (manusia) yang paling mulia di hadapan Tuhanku namun (aku) tidak bangga. ”  HR Tirmidzi.

Di antara hal yang juga menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad SAW adalah Hadits beliau berikut ini :

أَلاَ وَأَنَا حَبِيْبُ اللهِ وَلاَ فَخْرَ, وَأَنَا حَامِلُ لِوَاءِ الْحَمْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ, وَأَنَا أَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ وَلاَ فَخْرَ, وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يُحَرِّكُ حَلَقَ الْجَنَّةِ فَيَفْتَحُ اللهُ لِيْ فَيُدْخِلُنِيْهَا وَمَعِيَ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ فَخْرَ, وَأَنَا أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ وَلاَ فَخْرَ. رواه الترمذي

Ketahuilah aku adalah kekasih Allah tetapi tidak bangga. Aku adalah pembawa bendera pujian pada hari Kiamat tetapi tidak bangga. Aku adalah orang yang pertama kali memberikan syafa’at tetapi tidak bangga. Aku adalah orang yang pertama kali mengetuk pintu surga hingga Allah membuka untukku dan memasukkanku ke dalamnya. Sedangkan ada orang-orang fakir yang beriman bersamaku tetapi tidak bangga. Aku adalah orang paling mulia dari awal sampai akhir tetapi tidak bangga”.  HR Tirmidzi.

Pernyataan “Aku tidak bangga” menunjukkan ungkapan ketawadhu’an sebagai tanda ketidaksombongan.

* Imam Abdullah Ar-Rasyid, Mahasiswa Fakultas Syariah di Imam Shafie College, Hadhramaut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here