Kesabaran Amirul Mukminin Sayyidina Umar R.A.

0
334
Oleh: Moh. Muzakka Mussaif

Siapa yang tak kenal Sahabat Nabi SAW yang menjadi khalifah kedua pasca wafatnya Rasulullah SAW? Semua pasti tahu Sahabat Nabi yang paling tegas dan berani, ya beliau adalah Sayyidina Umar bin Khaththab RA. Beliau terkenal dengan sebutan Singa Padang Pasir. Rasulullah pun memberi gelar Asadullah, Singa Allah.

Namun, di balik nama besar Beliau sebagai Amirul Mukminin, Beliau pun mempunyai kesabaran yang tinggi dalam menghadapi persoalan keluarga. Semua pasti bertanya-tanya, seberapa besar tingkat kesabaran Singa Padang Pasir itu. Mari kita ikuti kisahnya berikut ini.

Pada suatu hari ada seorang laki-laki datang ke rumah Sayyidina Umar bin Khaththab RA bermaksud mau melaporkan dan minta solusi terkait istrinya yang cerewet dan suka marah-marah kepadanya. Sesampainya di rumah Amirul Mukminin ia berucap salam sampai tiga kali tak juga ditemui oleh beliau. Ia pun duduk di depan rumah untuk menunggunya. Saat duduk menunggu itu, ia tak sengaja mendengar suara istri Amirul Mukminin bersuara agak keras lagi ngomel atau marah-marah, tetapi tak terdengar sepatah katapun keluar dari mulut Amirul Mukminin. Karena mendengar suara istri beliau begitu itulah kemudian ia memutuskan pulang karena ia mau melaporkan perihal istrinya, ternyata istri Amirul Mukminin juga demikian.

Sesaat setelah lelaki itu pulang, Amirul Mukminin pun keluar dari rumahnya untuk menemui tamu yang menunggunya. Eee ternyata tamu itu pun sudah tidak ada di depan rumah beliau. Beliau sebagai khalifah yang terkenal amat tegas dan bijaksana itu pun akhirnya memanggil seorang lelaki itu.

Ketika lelaki itu datang, beliau menanyakan maksud dan tujuannya untuk menemui beliau. Seorang lelaki itu pun dengan jujur menyampaikan semua hal tersebut.

Mendengar laporannya itu, Amirul Mukminin pun berbicara dengan tulus bahwa beliau sebagai kepala negara bersabar menghadapi istrinya yang cerewet itu karena beliu merasa berhutang budi pada istrinya. Ia mengatakan pada tamunya, “Aku biarkan istriku begitu karena aku berhutang budi padanya. Sebab, ia selalu memasak untukku, mencuci pakaianku, menyusui anakku, dan menentramkan jiwaku. Aku menerima ini dengan ikhlas dan sabar”. Lelaki itu pun mengangguk-angguk senang lalu pamit pulang sambil mengatakan, “Aku akan mengikutimu wahai Amirul Mukminin”. Sang Khalifah pun menimpalinya, “Sabarkanlah, hal itu pun waktunya tak akan lama. Seperti kehidupan kita di dunia pun juga terbatas”.

Dari kisah itu kita dapat mengambil pelajaran bahwa seorang pemimpin itu harus mempunyai watak sabar, dapat menahan diri, dan tidak emosional. Sebab, sabda Rasulullah menyebutkan bahwa kita adalah pemimpin dalam kapasitasnya masing-masing. Maka kita pun kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

Disadur bebas dari Kitab Al-Azwadul Mushtofawiyyah fi Tarjamati Al-Arbain Nawawiyyah karya Kyai Bisri Musthofa

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here