KEPALA PLONTOS, HUKUM DAN PERMASALAHANNYA

1
78

Kepala plontos, kepala gundul, kepala botak atau rambut kepala yang dicukur habis, maka hukumnya tergantung kepada maksud dan tujuannya :

1. Jika maksud dan tujuan menggundul kepala adalah untuk tahallul haji atau umrah, maka hal jtu baik dan diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan didukung dengan dalil Al-Quran dan Hadits serta ijma’ (kesepakatan) para ulama. Allah Ta’ala berfirman :

لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ

“Sungguh kamu pasti memasuki Masjidil Harom dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut”.(QS. Al Fath: 27).

Ada hadits yang mutawatir dari Nabi SAW bahwasanya beliau menggundul rambutnya saat tahallul dari haji dan umrahnya. Begitu pula, hal ini juga dilakukan oleh para sahabatnya. Di antara mereka ada yang menggundul habis saat tahallul, dan ada pula yang memendekkannya.

2. Jika maksud dan tujuannya karena ada hajat (kebutuhan) seperti untuk tujuan berobat, atau karena gatal atau penyakit kulit, atau bahkan bawaan lahir, maka hukumnya mubah (dibolehkan). Hukum kebolehan ini didasarkan pada Al-Qur’an, hadits dan ijma’ (kesepakatan para ulama). Karena Allah Ta’ala memberikan keringanan bagi orang yang berihram yang pada asalnya dilarang menggundul rambut, namun boleh jika memang ada gangguan di kepalanya. Allah Ta’ala berfirman :

وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ

“Dan janganlah kalian mencukur kepala kalian, sebelum korban sampai ke tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kalian yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka wajiblah dia berfidyah, yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkorban”. (QS. Al Baqarah : 197).

Sebagaimana disebut pula dalam hadits Ka’ab bin ‘Ujrah ketika Nabi SAW lewat, ada kutu-kutu yang jatuh dari kepala Ka’ab maka Nabi SAW bertanya kepadanya : “Apakah kutu-kutu itu mengganggumu?” Ka’ab menjawab : “Iya.” Nabi SAW bersabda : “Cukurlah rambutmu kemudian sembelihlah seekor kambing atau berpuasalah selama tiga hari atau berilah makan seukuran satu faroq untuk enam orang miskin.” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Sedangkan jika maksud dan tujuannya untuk syiar agama atau menganggap hal itu sebagai ibadah, seperti yang kita saksikan pada para pendeta Budha, maka ini termasuk perbuatan bid’ah. Demikian juga jika menjadikan kepala plontos sebagai tanda kesempurnaan zuhud atau kesempurnaan dalam ibadah, sampai menganggap orang yang berkepala gundul lebih afdhol daripada orang yang tidak berkepala gundul, termasuk pula menganggap bahwa taubat itu mesti dengan menggundul rambut, maka ini semua termasuk bid’ah yang tidak diperintahkan oleh Allah.

Hal seperti itu tidak dianggap wajib atau sunnah oleh para ulama, dan tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, tabi’in, dan para ulama yang zuhud dan ahli ibadah.

Di masa silam, menggundul habis rambut kepala adalah syiar Khawarij yang biasa menggundul habis rambut kepala mereka. Sebagian mereka menganggap bahwa menggundul kepala seperti itu adalah tanda sempurnanya taubat dan ibadah. Dalam hadits yang shahih  dari Imam Bukhari sebagai berikut :

عن أبي سعيد الخدري عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم قال: يخرج ناس من قبل المشرق يقرأون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية ثم لا يعودون فيه حتى يعود السهم إلى فوقه قيل ما سيماهم قال:سيماهم التحليق. رواه البخاري

Dari Abi Said Al-Khudri dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Akan lahir kelompok manusia dari arah timur, mereka membaca Al-Qur’an tetapi isi Al-Qur’an tidak melewati tenggorokan (tidak masuk ke dalam hati) mereka, mereka lepas dari agama sebagaimana anak panah lepas dari binatang buruan yang tertembus panah, mereka tidak akan kembali ke dalam agama, sehingga anak panah kembali ke atasnya (lubang yang ditembusnya)”, Nabi ditanya : Apa tanda-tanda mereka, Nabi menjawab: “Tanda-tanda mereka adalah kepala plontos”. (H.R. Bukhari).

Oleh karena itu, tidaklah benar pengakuan sekelompok muslim yang menganggap bahwa kepala plontos atau gundul itu termasuk sunnah Rasul. Dengan berdasarkan kepada hadist dan khabar di atas, justru kepala plontos atau gundul tanpa alasan tahallul haji atau umroh, atau alasan sakit atau sejenisnya, merupakan identitas radikalisme. Semoga dapat difahami !!

(Muhammad Danial Royyan)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here