Kampanye Diam

0
300

Oleh: Moh. Muzakka Mussaif

Di tengah hiruk pikuk persoalan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di negeri ini, tentu semua calon sudah bersosialisasi atau “kampanye” pada masyarakat. Mereka menyampaikan visi dan misinya, bahkan juga janji-janjinya pada masyarakat. Sebab, mereka harus bisa merebut hati masyarakat dan kelak di waktu Pilkada memilihnya.

Yah, itu persoalan politik yang tengah hangat di negeri ini.

Dalam tulisan pendek ini, saya tidak bermaksud berkampanye terhadap calon tertentu. Namun, di tengah ramainya orang mengumbar janji dan bersebarannya kampanye memuji diri dan “menjelekkan” yang tidak didukungnya itu dapat menimbulkan perseteruan atau kebencian dalam masyarakat. Bahkan, di antara masyarakat yang tidak paham politik pun ikut-ikutan berseteru.

Kampanye Diam

Diam bagi yang tidak tahu politik itu sangat penting. Sebab, dengan diam suasana politik kian kondusif. Namun, jika mereka berteriak untuk saling menghasut atau menebar kebencian antar pendukung, maka akan banyak menimbulkan kegaduhan.

Terkait sikap diam ini sangat ditekankan dalam Islam. Rasulullah selalu mengaitkan bahwa indikator keimanan itu dengan menjaga mulut, yakni berbicara yang baik atau diam saja (فليقل خيرا اوليصمت). Sebab, dengan dua hal itu harmonisasi terjaga dan masyarakat menjadi kondusif.

Rasulullah SAW juga menyatakan bahwa sikap diam itu menjadi indikator puncak keimanan seseorang. Sikap diam juga menjadi puncak ibadah. Ketaatan apa pun seorang hamba pada Tuhan, tidak ada maknanya sama sekali jika seseorang itu tidak bisa menjaga lisannya.

Yah, Rasulullah menegaskan tentang sikap diam itu dalam salah satu hadits yang dinukil dalam kitab Nashoihul Ibad. Hadits itu menjelaskan bahwa sikap diam ini punya keutamaan yang luar biasa:

  1. Shalat adalah tiang agama, tetapi diam itu lebih utama
  2. Sedekah dapat memadamkan murka Tuhan, tetapi diam itu lebih utama
  3. Puasa adalah perisai dari siksa neraka, tetapi diam lebih utama
  4. Berjihad itu puncaknya agama, tetapi diam itu lebih utama

Dari kutipan hadits itu sangat jelas bahwa sikap diam itu adalah ibadah yang paling utama. Namun, jangan salah menafsirkan maknanya. Sebab, kalau logikanya tidak benar bisa berbahaya juga bagi masyarakat. Sebab jika dimaknai secara tekstual saja bisa jadi seseorang tidak akan melakukan keempat amalan ibadah utama itu lalu dia memilih diam saja.

Maksud hadits itu adalah warning bagi orang yang tidak dapat menjaga mulutnya. Makna mendalamnya adalah tidak ada artinya melakukan ibadah utama itu bagi pelakunya jika ia tidak dapat menjaga mulutnya dengan baik.

Jadi, menjaga mulut dari pembicaraan yang tidak baik atau sikap diam itu tujuannya untuk menjadikan umat Rasulullah itu menjadi umat yang terbaik. Di sinilah misi utama Rasulullah yakni menjadikan umatnya menjadi yang paling beradab.

Dalam hadits lain yang dinukil dalam kitab Durratun Naasihin Rasulullah menegaskan bahwa, “Tidaklah lurus iman seorang hamba sehingga ia meluruskan hatinya. Dan tidaklah akan lurus hatinya sehinga ia meluruskan lisannya. Dan tidak akan masuk surga seorang mukmin sehingga membuat aman tetangganya dari lisannya”.

Dari hadits-hadits Rasulullah di atas, penulis mengajak atau berkampanye untuk bersikap diam dalam menghadapi pesta demokrasi. Dengan diam bukan berarti apatis atau golput. Namun, dengan sikap menjaga lisan dan tuturan yang kurang baik akan menjadikan masyarakat lebih tenang dan harmonisasi terjaga.

Penulis adalah Pengasuh Majlis Taklim Almushlihun Kendal dan Dosen FIB Undip

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here