KAMBING KURBAN HABIL DISEMBELIH NABI IBRAHIM AS.

0
215

Ternyata bentuk ibadah itu adalah hal yang diwarisi oleh orang-orang kemudian dari orang-orang terdahulu. Kambing yang disembelih oleh Nabi Ibrahim AS sebagai pengganti Ismail ternyata adalah kambing yang dijadikan kurban oleh Habil bin Adam yang disimpan Malaikat Jibril di surga. Hal itu difirmankan Allah dalam surat As-Shooffàt ayat 107 s/d 110 sebagai berikut :

 
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107)وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ (108)سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ (109)كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110)

“Dan Kami menebusnya (Ismail) dengan kambing sembelihan yang besar (gemuk). Dan Kami meninggalkan (mewariskan pujian) atas Ibrahim kepada orang-orang kemudian. Keselamatan atas Ibrahim. Demikianlah Kami membalas orang-orang yang berbuat kebaikan”.

Penyajian kurban itu bermula dari pernikahan Qabil dan Habil. Qabil anak pertama Adam yang tampan dan ganteng mempunyai saudara kembar perempuan bernama Iqlima yang cantik jelita.

Sedangkan Habil adik Qabil yang tidak tampan dan tidak ganteng mempunyai saudara kembar perempuan bernama Labuda yang tidak cantik dan tidak jelita.

Dalam syariat Nabi Adam tentang pernikahan, lelaki boleh dinikahkan dengan perempuan yang mempunyai hubungan persaudaraan, karena belum ada perempuan lain yang tidak mempunyai hubungan persaudaraan. Akan tetapi untuk memperbaiki keturunan, maka  lelaki harus dinikahkan dengan perempuan yang hubungan persaudaraannya lebih jauh. Saat itu anak manusia yang ada hanya dari keturunan Nabi Adam, sehingga mereka dikawinkan secara silang.

Oleh karena itu, Qabil diperintahkan menikah dengan Labuda, saudara kembar Habil, dan Habil diperintahkan menikah dengan Iqlima saudara kembar Qabil. Tetapi Qabil menolak menikahi Labuda, dan justru ingin menikahi Iqlima saudara kembarnya sendiri, karena lebih cantik daripada Labuda saudara kembar Habil. Dan dia menganggap Habil merebut calon istrinya.

Untuk menentukan siapa yang berhak menikahi Iqlima, maka Allah menurunkan wahyu pada Nabi Adam AS. agar memerintahkan mereka berdua berkurban. Siapa yang kurbannya diterima, maka dia yang berhak menikahi Iqlima.

Habil sebagai seorang peternak, mempersembahkan kambing yang terbaik, gemuk dan sehat. Sementara Qabil yang bekerja sebagai petani, malah mempersembahkan hasil pertanian yang buruk (buah-buahan yang busuk).

Dan kurban yang diterima adalah kurban dari Habil, kambing yang dikurbankan Habil kemudian diangkat ke surga. Di sana dia dipelihara, sampai kemudian diturunkan lagi ke bumi pada saat peristiwa pengorbanan Ismail. Kambing itu dijadikan pengganti bagi Ismail yang hendak disembelih Nabi Ibrahim atas perintah Allah.

Perbuatan Qabil dan Habil mempersembahkan kurban itu telah difirmankan Allah dalam surat Al-Maidah 27 s/d 31 sebagai berikut :

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (27) لَئِن بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ (28)إِنِّي أُرِيدُ أَن تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ (29)فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ(30) فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْءَةَ أَخِيهِ ۚ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَٰذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْءَةَ أَخِي ۖ فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ (31)

27. Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa”. (QS. 5:27)

28. Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb seru sekalian alam”. (QS. 5:28)

29. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim”. (QS. 5:29)

30. Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi. (QS. 5:30)

31. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya 410. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. (QS. 5:31).

Syits AS, anak Adam yang bungsu telah diwasiati untuk memerangi saudaranya, Qabil. Dia pergi memerangi Qabil dan akhirnya perang itu pun berkecamuk. Itulah perang pertama yang terjadi antara anak-anak Adam di muka bumi. Dalam peperangan itu, Syits AS memperolehh kemenangan dan dia menawan Qabil. Qabil sebagai tawanan berkata : “Wahai Syits, jagalah persaudaraan di antara kita”. Syits AS berkata : ”Mengapa engkau sendiri tidak menjaganya? Engkau telah membunuh saudaramu, Habil”. Kemudian Qabil ditawan oleh Syits AS, kedua tangannya dibelenggu di atas pundaknya, dan dia ditahan di tempat yang panas sampai akhirnya meninggal.

Muhammad Danial Royyan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here