KAJIAN KHUSUS : KAJIAN TERHADAP KITAB “HAQIQATU AHLIS SUNNAH WAL JAMAAH” KARYA K.H. MUHAMMAD DANIAL ROYYAN

0
122

(H. Muhammad Umar Said)

  1. Pendahuluan

Pada awalnya kitab tersebut merupakan hadiah dari  Kyai Danial – begitu panggilannya- kepada penulis untuk dipelajari. Kitab yang ditulis dengan Bahasa Arab (Arab Gundul) itu  begitu menarik untuk dikaji. Setelah penulis membaca satu per satu bab dari kitab itu, muncullah niat penulis untuk menelaah dan ikut menjelaskan tentang pentingnya Ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah kepada Muslimin-Muslimat, khususnya Warga Nahdliyyin (orang-orang NU), sebagaimana yang ditulis Kyai Danial dalam kitab tersebut. Untuk mempermudah pemahaman pembaca, kitab itu penulis terjemahkan dengan terjemahan ‘sedikit’ bebas.

Dalam isi kitab “Haqiqotu Ahlis Sunnah wal Jamaah”  Kyai Danial  menjelaskan, bahwa akhir-akhir ini telah banyak berkembang golongan  (firqoh) dan paham-paham (isme) yang belum pernah ada sebelumnya,  yang telah menyimpang dari sunnah (jalan) Rasulullah saw. yang secara tidak sadar telah mempengaruhi pemikiran, pemahaman bahkan aqidah sebagian orang-orang Muslim, yaitu golongan yang menamakan dirinya sebagai “Mazhab Salafi”, Hizbut Tahrir, Jamaah Islamiyyah dan Organisasi Terselubung (Sirriyyah) yang disebut dengan “al-Qa’idah” dan lain-lain yang mengajarkan paham “kekerasan” dan “radikalisme”. Selain itu,  juga terdapat komunitas yang menamakan dirinya Kaum Liberalis, yaitu suatu komunitas yang mendewakan akal, sehingga mereka bebas (liberal) dalam menafsirkan ajaran Islam yang tidak terikat lagi dan  atau  keluar dari kungkungan mazhab.

Namun demikian, karena cakupan materi pembahasan (al-bahtsu) dalam kitab tersebut begitu luas, maka penulis mencoba mengambil dari 28 bab, diambil hanya  beberapa bab saja yang penulis anggap telah merepresentasikan jawaban tentang pemahaman terhadap  ajaran Aswaja, seperti : Pengertian Ahlus Sunnah wal Jamaah, Biografi Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Muhammad bin Muhammad al-Maturidi, Sejarah Keluarnya Imam Abu Hasan Al-al-Asy’ari dari Aliran Mu’tazilah, Perdebatan antara Abu Hasan al-Asy’ari versus Ali al-Jubba’i, Golongan yang termasuk Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Golongan yang Menyimpang, dan Khittah Nahdlatul Ulama.

  1. Pembahasan
  2. Pengertian Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Secara harfiyah sunnah berarti ‘jalan’ dan ‘jamaah’ mengandung arti sekumpulan manusia. Adapun secara istilah ‘sunnah’ adalah jalan Nabi Muhammad saw., sedangkan yang dimaksud ‘jamaah’ adalah para sahabat nabi. Jadi, Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah orang-orang yang memegang teguh sunnah nabi dan para sahabatnya. Pengertian ini diambil dari sabda Nabi Muhammad saw. yang   artinya,  “ segala apa yang aku lakukan dan para sahabatku hari ini”. Adapun orang yang pertama kali menguatkan pendapat tersebut adalah Imam Ahmad bin Hanbal kemudian diikuti oleh Imam abu Hasan al-Asy’ari. Pada kesempatan lain Imam Abu Hasan al-Asyari pernah berkata, “ Aqidahku adalah aqidahnya Imam Ahmad bin Hanbal. Menurut Kyai Danial, pada waktu itu banyak golongan yang mengaku golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan masing-masing golongan meng-claim yang paling benar (claim of truth), sehingga para ulama berusaha meluruskan bahwa aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah-lah  golongan yang selaras dengan sunnah nabi dan para sahabatnya, yaitu golongan yang mengikuti manhaj al-asy’ary dan al-matuturidy. Imam Sayyid Abdullah bin Alawy al-Haddad mengatakan, “ Perbaikilah keyakinanmu, dan perbaikilah serta tegakkan ia di atas manhaj golongan yang selamat, yang dikenal dengan golongan Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu golongan yang berpegang teguh terhadap apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya. “Jika anda memperhatikan pemahaman yang lurus dan benar  terhadap nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah dan golongan yang melaksanakan ajaran Salafus shalih dari para sahabat dan tabi’in, maka golongan yang benar adalah golongan “al-Asy’ariyah” dan “al-Maturidiyyah” – golongan yang di-nisbah-kan kepada Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi”, demikian menurut  pendapat Abu Qasim al-Qusyaery.

Selanjutnya Imam al-Haddad menguatkan, bahwa aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah golongan yang mengikuti dua manhaj yaitu “al-asy’ariyyah” dan “almaturidiyyah” bukan golongan lain dari keduanya. Demikan juga Imam Taqiyyuddin As Subuky menguatkan dan diikuti pula oleh Sayyid Murtadho az-Zubaedy yang telah meneliti beberapa manhaj para imam, keduanya mengatakan, “jika yang dikatakan itu Ahlus Sunnah wal Jamaah, maka yang dimaksud adalah al-Asy’ariyah dan al-Maturiyyah”, di mana al-Asy’ariyah golongan yang mengikuti mazhab Syafi’i dan al-Maturidiyyah sebagai pengikut mazhab Hanafi”. Selanjutnya para ulama sepakat (ittifaq), bahwa sesungguhnya keduanya dijadikan dasar aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

  1. Biografi Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi
  2. Imam Abu Hasan al-Asy’ari

Imam Abu Hasan al-Asy’ari lahir di Bashrah pada tahun 260 H. Ia tinggal di Baghdad dan meninggal pada usia 64 tahun. Adapun kematiannya diperselisihkan oleh para ulama. Menurut Ibnu Fauruk, dan Ibnu Hazm ia meninggal pada tahun 324 H., sedangkan ulama lain mengatakan ia meninggal 330 H. dan ada juga yang berpendapat Imam Abu Hasan al-Asy’ari wafat tahun 320 H.

       Imam Abu Hasan al-Asy’ari adalah guru tarikat Ahlus Sunah wal Jamaah, dan pemimpin para ulama Mutakallimin serta penolong sunah Rasulullah saw. Ia telah berhasil menjaga akidah orang muslim dari pengaruh akidah yang menyimpang dari sunnah Rasulullah. Ia adalah pengikut mazhab Syafi’i dalam bidang fiqh, ia juga pengikut setia akidah Imam Ahmad bin Hanbal, meskipun sebelumnya pernah menjadi pengikut aliran Mu’tazilah dan belajar pada seorang tokoh Mu’tazilah Al-Jubba’i yang merupakan ayah tirinya, lalu karena berbeda pendapat dengan gurunya itu, ia pun menyatakan keluar dari pengikut Mu’tazilah.

  1. Imam Abu Manshur  al-Maturidi

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Dia lahir di desa Maturidi sebuah desa yang berada di daerah Samarkand. Dia lahir sebagai imam yang mempertahankan akidah Ahlus sunnah dan memotong mata rantai aliran Mu’tazilah dan para ahli bid’ah pada zamannya. Dia adalah pengikut mazhab Hanafi dalam bidang mazhab fiqh. Dia telah menyusun beberapa tulisan seperti : Bayaanu Wahmi al-Mu’tazilati, Ta’wilaatu Ahlis Sunnnati, Ad-Duroru fii Ushuliddin, Ar- Roddu ‘alaa tahdzibil ka’by fil- Jidaali, Aqidatul Maturidiyyati, Kitabut-Tauhidi wa Itsbaatus-Sifaati, Kitabul Judali, Al-Maqaalaati, dan lain-lain. Adapun Kitab yang paling mashur di bidang akidah Ahlus Sunnah ala thariiqil imam al-Maturidiyyati adalah kitab “Hushunul Hamidiyyah” yang disusun oleh Husein al-Jasr atas perintah Sultan Abdul Hamid al-Utsmani di Istanbul Turki.  Imam Abu Manshur al-Maturidi meninggal pada tahun 330 H. selang tidak lama setelah wafatnya Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan dimakamkan di Samarkand.

  1. Sejarah Keluarnya Imam Abu Hasan al-Asy’ari dari Aliran Mu’atazilah

Sebagaimana ditulis Kyai Danial pada fashalFii ibtidaa’i amril Imam al-Asy’ari” di halaman 10, pada mulanya sebelum Imam Abu Hasan al-Asy’ari mendirikan akidah Ahlus Sunah wal Jamaah, ia pernah menjadi murid Abu Ali al-Jubba’i seorang tokoh Mu’tazilah. Al-Jubba’i selain menjadi guru Imam Abu Hasan al-Asy’ari juga menjadi ayah tirinya, sebab setelah suami ibu Imam Abu Hasan al-Asy’ari meninggal, al-Jubba’i menikah dengan ibunya.

Setelah Imam Abu Hasan al-Asy’ari belajar ilmu Kalam dan menjadi pengikut aliran Mu’tazilah, karena kecerdasannya ilmu Imam Abu Hasan al-Asy’ari dapat menyamai bahkan melebihi ilmu gurunya (al-Jubba’i), sehingga akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan aliran Mu’tazilah. Sesuatu hal yang membuat ia ragu terhadap ajaran Mu’tazilah yaitu tentang pendapat Mu’tazilah, bahwa al-Qur’an itu “makhluk” (diciptakan) dan bukan “kalam qadim”. Sayyid Murtadho az-Zubaedi dalam kitab “al-Ittihaaf” mengatakan, bahwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari pada awalnya belajar ilmu Kalam kepada Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahhab al-Jubba’i yang merupakan tokoh Mu’tazilah yang paling mashur. Lalu ia keluar dari aliran Mu’tazilah setelah muncul keraguan di dadanya tentang persoalan aqidah.  Setelah melakukan shalat sunah dua rakaat pada suatu malam, dan ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan ke jalan yang lurus (at-thoriqotul-mustaqiim), lalu ia tertidur dan bermimpi melihat Rasulullah saw. dan ia mengadukan sebagian permasalahan yang menimpanya, maka Rasulullah saw. berkata kepadanya,  “Wajib bagimu untuk mengikuti sunnahku”. Maka ia terbangun dan sadar serta muncullah secara tiba-tiba berbagai persoalan ilmu Kalam dalam hatinya dan ia  temukan dalam al-Qur’an dan al-Hadits, sehingga ia menjadi mantap dan ia pun membuang jauh-jauh aqidah yang tidak sesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadits.

Dalam riwayat lain, yaitu menurut pendapat Imam As-Syahrastani, bahwa faktor penyebab keluarnya Imam Abu Hasan al-Asy’ari dari aliran Mu’tazilah adalah ketika terjadi diskusi antara ia dengan gurunya (al-Jubba’i) tentang permasalahan perbuatan baik dan buruk yang dilakukan oleh seseorang dan tentang nasibnya kelak di akhirat. Karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan, maka ia keluar dari aliran Mu’tazilah, dan mendirikan mazhab sendiri.

  1. Perdebatan antara Imam Abu Hasan al-Asy’ari versus Imam Abu Ali al-Jubba’i (Ahlus Sunnah wal Jamaah vs Mu’tazilah).

Dalam sejarah ilmu Kalam, telah terjadi perdebatan (mujadalah/munadharah) antara seorang murid (Abu Hasan al-Asy’ari) dengan gurunya (al-Jubba’i), dan inilah faktor terbesar yang menyebabkan keluarnya Imam Abu hasan al-Asy’ari dari paham Mu’tazilah. Sebagaimana ditulis oleh Kyai Danial pada fashal : “Fii Manaadhira baenal Imam al-Asy’ari wal Jubba’i”halaman 13 sebagai berikut:

Imam Abu Hasan : “Hai Guru, apa pendapatmu tentang tiga orang yang meninggal dunia: seorang  mukmin meninggal pada usia tua, orang kafir meninggal pada usia tua, dan anak kecil (belum baligh) yang meninggal dunia?”

Al-Jubba’i : “Orang mukmin akan berada di surga dan mendapat derajat tinggi di sana, dan orang kafir akan masuk ke neraka, sedangkan anak kecil (shoby) berada di tempat yang selamat, yaitu di satu tempat di antara dua tempat (al-manzilatu baenal manzilatain), yaitu bukan di surga dan bukan pula di neraka”.

Imam Abu Hasan, “jika anak kecil itu menginginkan masuk surga apa mungkin?”

Al-Jubba’i : “Tidak mungkin”, Allah akan berkata kepadanya (anak kecil) itu. “sesungguhnya orang mukmin bisa masuk surga karena ketaatannya, dan tidak seperti kamu”.

Imam Abu Hasan : “Maka jika anak kecil itu berkata, “ya Allah, aku tidak akan melakukan sesuatu hingga Engkau beri aku hidup hingga masa tua, maka pasti aku akan melakukan ketaatan sebagaimana orang mukmin itu?”

Al-Jubba’i : “Allah menjawab kepada anak kecil itu, “Aku lebih tahu sesunguhnya, jika aku biarkan kamu hidup, maka kamu akan menjadi ahli maksiyat sehingga menyebabkan kamu masuk neraka, maka untuk kebaikan kamu, aku tetapkankan kematianmu sebelum sampai masa tuamu  agar kamu tidak masuk neraka”.

Imam Abu Hasan, “Jika orang kafir itu berkata, “hai Tuhan, sesungguhnya Engkau mengetahui keadaanku sebagaimana Engkau mengetahui keadaan anak kecil itu, maka apakah Engkau tidak menjaga akan kebaikanku sehingga Engkau tetapkan kematianku pada waktu masih kecil agar aku tidak Engkau masukkan ke neraka?”. Maka al-Jubba’i terdiam dan tidak bisa menjawab, maka menanglah Imam Abu Hasan al-Asy’ari dalam perdebatan ini.

Dialog di atas, menunjukkan bahwa sebagian aqidah Mu’tazilah adalah mewajibkan Allah  menjaga kebaikan hambanya dengan menggunakan dalil akal dan pendapatnya sendiri, Allah dituntut wajib berbuat adil kepada hambanya. Sedangkan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, bahwa sesungguhnya Allah berbuat atas segala sesuatu yang ia kehendaki, dan tidak bisa dipengaruhi oleh siapa pun. “Tidak wajib bagi Allah terbebani sesuatu, dan Allah tidak wajib pula melakukan sesuatu atas sesuatu”. “Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu, dan atau Allah Maha Kuasa untuk membatalkannya”.

Untuk mempertahankan aqidahnya, setelah keluar dari aliran Mu’tazilah Imam Abu Hasan al-Asy’ari menyusun banyak kitab di antaranya: kitab “al-Mujaz” kitab yang menolak terhadap paham Jahamiyah dan Mu’tazilah, dan kitab “Maqaalatul-Islamiyyiin” serta kitab “al-Ibaanah”, dan masih banyak lagi kitab yang disusunnya hingga mencapai 90 kitab.

  1. Golongan yang termasuk Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan Golongan yang menyimpang

Sesungguhnya Ahlus Sunnah wal Jamaah terdiri dari banyak golongan orang Muslim. Setiap golongan memiliki spesifikasi disiplin ilmu keislaman seperti: Fiqh, Ushul fiqh, Kalam, Tafsir, Hadits, Tasawuf, Bahasa dan lain-lain, yang kesemuanya itu berdasarkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah. Menurut pendapat Syaikh Abdul Qohir al-Baghdadi ada 8 golongan yang termasuk golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan 8 golongan yang bertentangan dengan golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu:

  1. Kelompok yang menguasai beberapa keilmuan tentang ilmu tauhid, kenabian, hukum wa’d dan wa’id, pahala dan siksa, syarat ijtihad, imamah, dan zuamah. Kelompok tersebut berjalan dalam keilmuannya seperti sifat-sifat para Mutakallimin yang bebas dari paham tasybih, ta’thil, dan perbuatan bid’ahnya golongan Rafidhah, Khawarij, Jahamaiyyah, Najjariyyah dan semua golongan yang menuruti hawa nafsu yang menyesatkan;
  2. Kelompok para imam ilmu fiqh dan hadits yang meyakini tentang Qadim-nya Dzat Allah dan Sifat-Nya yang bebas dari paham Qadariyah dan Mu’tazilah, meyakini tentang melihat Allah dengan mata kepala tanpa tasybih (penyerupaan) dan ta’thil, meyakini adanya hari kebangkitan, pertanyaan malaikat di alam kubur, meyakini telaga, shirath, syafaat, pengampunan dosa selain syirik. Kelompok ini masuk kelompok ashhaab Imam malik, Syafi’i, Auza’i, Sufyan al-Tsauri, Abu hanifah, dan Ahmad bin Hanbal, bukan kelompok yang pemahaman (fiqh) -nya bercampur dengan golongan yang menuruti hawa nafsunya;
  3. Kelompok yang menguasai ilmu Hadits yang diambil dari Rasulullah saw., yang dapat membedakan antara yang shahih dan cacat, serta mengetahui sebab terjadinya al-Jurhu wat-ta’diil, dan keilmuannya tidak bercampur dengan segala sesuatu yang datang dari ahli bid’ah yang sesat;
  4. Kelompok yang menguasai keilmuan bidang bahasa Arab meliputi sastra, nahwu sharaf yang mengikuti  beberapa imam ahli bahasa Arab seperti : Imam Khalil, Abi Umar bin al-‘Allaa’, Imam Sibawaih dan lain-lain dari para Imam ilmu Nahwu dari golongan Kuffah dan Bashrah yang keilmuannya tidak bercampur dengan ahli bid’ah yang berdasarkan pada hawa nafsu yang menyesatkan;
  5. Kelompok yang menguasai keilmuan dalam bidang beberapa cabang ilmu Qira’atul Qur’an, beberapa ilmu tafsir dan ta’wil al-Qur’an yang berdiri di atas mazhab Ahlus Sunnah, dan bukan berdasarkan pada ta’wil-nya ahli yang menuruti hawa nafsu yang menyesatkan;
  6. Kelompok yang menamakan dirinya sebagai para ulama zuhud dan sufi, yaitu orang-orang yang membersihkan hatinya melalui tarikat yang berdasarkan pada tauhid dan penyerahan diri serta tawakkal kepada Allah;
  7. Kelompok yang mengikatkan diri ke dalam kelompok umat Muslim di depan orang-orang kafir, serta berjuang pada jalan Allah untuk menegakkan Islam dan melindungi umat Muslim berdasarkan mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah;
  8. Kelompok umat Islam yang berada di beberapa Negara yang menjunjung tinggi serta mensyiarkan paham Ahlus Sunnah, dan bukan kelompok yang menampakkan diri sebagai kelompok yang menuruti hawa nafsunya yang menyesatkan, seperti paham radikalisme dan terorisme.
  9. Khittah Nahdlatul Ulama

Dalam bab ‘Khitamur Risaalah’ (penutup) dari kitab “Haqiqotu Ahlis Sunnah wal Jamaah”, Kyai Danial menyebutkan pula beberapa hal yang harus dilakukan oleh Warga Nahdliyyin (orang-orang NU) untuk melaksanakan Garis-garis ajaran NU yang meliputi:

  1. Kewajiban mengakui dan mengikuti salah satu mazhab dari empat mazhab, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali;
  2. Kewajiban melestarikan (iltizam) mazhab ilmu kalam (ilmu Tauhid) yang berdasarkan pada mazhab Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi;
  3. Kewajiban melestarikan (iltizam) mazhab Sufi yang berdasarkan manhaj dua Imam seperti : Imam Junaedi al-Baghdadi, Abu Hamid Muhammad al-Ghazali.

Demikian ringkasan tulisan ini, penulis berharap ada manfaatnya bagi pembaca terutama warga Nahdliyyin dengan harapan tetap konsisten (istoqomah) melaksanakan ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan tidak terpengaruh pada ajaran-ajaran yang menyesatkan. (Allahu a’lam bis Shawaab).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here