JIHAD ITU MENGHIDUPKAN MANUSIA BUKAN MEMBUNUHNYA

0
211

Seringkali terorisme diklaim sebagai jihad oleh para pelakunya. Anak-anak muda yang masih hijau itu dicuci-otak dengan faham itu sehingga mau dijadikan “penganten” untuk melakukan bom bunuh diri. Maka hal yang demikian itu namanya penyimpangan makna jihad, dan penyelewengan tujuan jihad yang sebenarnya.

Sebagian ulama mendefinisikan jihad sebagai “segala bentuk usaha maksimal untuk penerapan agama Islam dan pemberantasan kedzaliman serta kejahatan, baik terhadap diri sendiri maupun dalam masyarakat.”

Ada juga yang mendefinisikan jihad sebagai “berjuang dengan segala pengorbanan harta dan jiwa demi menegakkan kalimat Allah (Islam) atau membela kepentingan agama dan umat Islam.”

Kata-kata jihad dalam al-Quran kebanyakan mengandung pengertian sebagaimana di atas. Artinya, pengertiannya tidak hanya terbatas pada peperangan, pertempuran, dan ekspedisi militer, tetapi mencakup segala bentuk kegiatan dan usaha yang maksimal dalam rangka dakwah Islam, amar makruf nahi munkar (memerintah kebajikan dan mencegah kemunkaran).

Dalam pengertian umum ini, berjihad harus terus berlangsung baik dalam keadaan perang maupun damai, karena tegaknya Islam bergantung kepada jihad.

Perhatikanlah hal-hal di bawah ini :

1. Jihad itu menghidupkan manusia, baik secara perorangan atau secara komunitas.

قال الله تعالى : ومن احياها فكانما احيا الناس جميعا ، المائدة ٣٢

Allah Ta’ala berfirman : “Dan barangsiapa menghidupkan satu jiwa manusia, maka dia seakan menghidupkan seluruh manusia”.
Ketika ada jihad yang membunuh diri sendiri atau membunuh orang lain, maka hal itu tidak termasuk jihad.

2. Membunuh diri sendiri,  membunuh orang lain dan merusak fasilitas umum tidak  mempunyai dasar dan dalil dari kitab-kitab hadits dan kitab-kitab fiqih.

3. Islam yang kita perjuangkan harus masuk di akal dan masuk di hati.

قال النبي صلى الله عليه وسلم : الدين هو العقل، ومن لا دين له لا عقل له.

Nabi SAW bersabda : “Agama adalah hal yang masuk akal. Dan orang yang tidak punya agama maka tidak ada akal baginya”.

4. Jika Islam diajarkan dengan cara yang tidak masuk di akal dan tidak masuk di hati, maka tidak akan pernah bisa menjadi agama universal atau rahmatan lil-alamin

(M.D. Royyan).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here