JIDAT HITAM : IDENTITAS RADIKALISME?

0
91

Satu lagi ciri khas yang digunakan “Golongan Islam Radikal” dan dianggapnya sebagai sunnah Rasul, yaitu jidat hitam. Memang di dalam Al-Qur’an ada ayat yang menerangkan tanda-tanda pada wajah yang menjadi ciri-ciri kaum mukminin yang menjadi pengikut Rasululloh SAW, yaitu firman Allah sebagai berikut :

سيماهم في وجوههم من أثر السجود

“Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”.

Menurut Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud tanda-tanda itu adalah akhlak yang baik, menurut Mujahid, yang dimaksud adalah sikap tawadlu’, menurut ahli tafsir yang lain adalah khusyuk, dan menurut As-Suddi bahwa orang yang banyak melakukan sholat sunnah maka wajahnya akan menjadi cemerlang.

Dengan demikian, yang dimaksud “tanda-tanda” pada ayat di atas bukanlah jidat hitam. Dan tidak semua orang ahli sholat jidatnya berwarna hitam. Banyak sahabat Nabi yang ahli sholat tetapi jidatnya tidak hitam, sebagaimana riwayat-riwayat berikut ini :

عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ : مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ : أَنَا حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟

Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang lelaki datang menemui Ibnu Umar, lalu mengucapkan salam kepadanya. Ibnu Umar bertanya : “Siapakah anda?”, lelaki itu menjawab: “Aku adalah anak asuhmu”. Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Ibnu Umar berkata : “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakar, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro : 3698)

عَنْ حُمَيْدٍ هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ إِذْ جَاءَهُ الزُّبَيْرُ بْنُ سُهَيْلِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ : قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ، وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا.

Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro : 3701).

Riwayat berikut menggambarkan sahabat Ibnu Umar mencela jidat hitam :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ.

Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro : 3699).

Riwayat berikut menggambarkan sahabat Abu Dardak juga mencela jidat hitam :

عَنْ أَبِى عَوْنٍ قَالَ : رَأَى أَبُو الدَّرْدَاءِ امْرَأَةً بِوَجْهِهَا أَثَرٌ مِثْلُ ثَفِنَةِ الْعَنْزِ ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا بِوَجْهِكِ كَانَ خَيْرًا لَكِ.

Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’, semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata : “Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro : 3700).

عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ (سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ : لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.

Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah? Jawaban beliau : “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro : 3702).

Tetapi jidat hitam itu menjadi identitas kaum Khawarij sebagaimana dikatakan oleh sahabat Ibnu Abbas RA dalam riwayat sebagai berikut :

وقال ابن عباس رضي الله عنهما يصفهم حينما دخل عليهم لمناظرتهم: “دخلت على قوم لم أر قط أشد منهم اجتهادًا، جباههم قرحة من السجود، وأياديهم كأنها ثفن الإبل، وعليهم قمص مرحضة مشمرين، مسهمة وجهوههم من السهر”.

Ibnu Abbas berkata : “Aku benar-benar berada di tengah suatu kaum (khawarij) yang belum pernah kujumpai orang yang sangat bersemangat beribadah seperti mereka. Dahi-dahi mereka penuh luka bekas sujud, tangan-tangan menebal bak lutut-lutut unta (Kaplan). Di atas tubuh mereka yang mengelin pakaian itu, ada baju-baju yang kumal. Wajah-wajah mereka pucat pasi karena tidak tidur (menghabiskan malam untuk beribadah)”.

Imam Ahmad As-Showi dalam hasyiyah tafsirnya mengatakan : “Tidaklah demikian, yang dimaksud dalam ayat tersebut tidaklah sebagaimana anggapan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi, karena jidat hitam itu adalah ciri khas khawarij yang ahli bid’ah”. (Hasyiah As-Shawi 4/134, Dar al Fikr).

Jika jidat hitam oleh ulama dianggap sebagai ciri kaum Khawarij, maka benar adanya jika jidat hitam itu merupakan identitas radikalisme.

Muhammad Danial Royyan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here