Jargon Kembali ke Quran dan Sunnah, Gagah atau Gegabah?

0
25
Oleh: Shuniyya Ruhama

Masih ingat ketika ada pendakwah yang bersikukuh tidak mau dibilang menghalalkan anjing dengan argumen bahwa Al Qur’an-lah yang tidak mengharamkannya?

Masih ingat ketika ada pendakwah “sunnah” membid’ahkan Tahlilan, Yasinan, Maulidan dengan argumen tidak ada contohnya dari Rosulullah, lalu malah menyimpulkan buaya halal?

Dan masih ada “keanehan-keanehan” lain yang menghenyakkan bagi kita semua. Yang terakhir adalah tatkala ada seorang selebritis yang baru hijrah tertangkap memakai dan mengedarkan narkoba. Dia berkilah bahwa hal tersebut adalah takdir Allah.

Serta merta kita tidak terima. Sebab, seakan-akan nama besar Gusti Allah dibawa-bawa dalam hal yang haram dan merupakan dosa besar.

Padahal, kitalah yang keliru menyimpulkan hal ini secara langsung. Mengapa? Karena letak kesalahannya memang pada pemahannya. Bukan semata-mata membawa nama Gusti Allah.

Perlu diketahui, ada aliran dalam Islam yang hanya menggunakan dasar Qur’an Hadits sebagai sumber hukum. Mereka tidak mengenal Ijma’ yang pada masa kini ada turunannya yakni Ijtihad dan Fatwa. Mereka juga tidak menerima Qiyas sebagai sumber hukum Islam.

Di sinilah letak salah satu kita sering konslet dan berseberangan dengan pengikut aliran ini.

Seorang selebritis hijrah pemakai narkoba dan tidak merasa bersalah, bahkan merasa bagian dari takdir Allah sebenarnya bukan suatu hal yang baru.

Jauh sebelumnya, kita mendapat pemberitaan bahwa salah satu kelompok separatis pemberontak menjual ganja demi memperoleh senjata.

Demikian pula kelompok Taliban menjadi pemasok Opium terbesar dunia, yang uangnya dipakai untuk membiayai pengadaan senjatanya.

Ingatlah, Opium, Ganja dan jenis Narkoba lainnya TIDAK ADA nash yang langsung mengharomkannya. Sebab dalam Quran maupun Sunnah, yang nyata-nyata disebut haram ialah KHOMR. Dan semua ulama terdahulu merujuk khomr adalah Arak, Ciu dan sejenisnya. Tak ada satupun yang mengatakan narkoba.

Sementara itu, Narkoba diharamkan oleh para Ulama masa kini dengan menggunakan Qiyas. Salah satu dasarnya ialah titah Sayyidina Umar RA, bahwa segala sesuatu yang memabukkan berarti khomr.

Khomr yang dahulu selalu dirujukkan ke minuman keras yang memabukkan sepadan efeknya dalam menghilangkan akal kesadaran dengan jenis narkoba. Sehingga hukum narkoba secara naqli hampir keseluruhan merujuk pada hukum khomr.

Bagi yang tidak mengakui adanya Qiyas, tentu saja akan sangat mudah terjebak seperti tersebut di atas. Karena itu, tidak perlu terkejut dengan fenomena ini.

Bahkan bisa dijadikan rujukan awal untuk melakukan penelitian lebih lanjut, antara anti Qiyas khomr dan narkoba dengan keterlibatan mereka dalam pengedaran, penggunaan dan produksi narkoba beserta turunannya.

Jadi, dalam hal ini tidak ada hubungan dengan aliran Jabariyah, Qodariyah, Najariyah atau sejenis itu.

Ini murni sempalan dari efek samping kembali ke Qur’an dan Sunnah tanpa dilandasi pemahaman yang memadai sebagaimana yang dimiliki generasi salafus sholih yang asli.

Sehingga tak heran, jargon ini tampak sekali gagah, namun di balik itu semua, sering sekali membuat penganutnya menjadi gegabah. Dan tidak jarang nabrak arahan Ulama Muktabaroh selaku pengayom umat dan peraturan Pemerintah selaku penyelenggara negara.

Justru tugas kita adalah merangkul mereka untuk belajar kembali pemahaman salafus sholih melalui para Ulama masa kini yang nyata-nyata bersambung sanadnya hingga Rosulullah SAW.

Jangan lupa selalu bergandengan tangan, merapatkan barisan dan saling mendoakan. Hindari cacimaki dan hujatan kepada mereka yang belum faham.

Mbah Wali Gus Dur pernah bertitah: Manusia hanya ada dua macam. Yakni manusia yang baik, dan manusia yang sedang berproses menjadi baik.

Penulis adalah Alumni FISIPOL UGM, Santri Gus Dur, NU Kultural, dan Pengajar PPTQ Al Istiqomah Weleri

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here