Jangan Sekali-Kali Meninggalkan Sejarah, Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah

0
71
Oleh: Shuniyya Ruhama

Salah satu ciri khas santri Nusantara adalah senantiasa dididik untuk ikhlas, tidak mewartakan kebaikan yang telah dilakukan, tidak menyiarkan jasa yang telah dipersembahkan. Sebesar apapun jasa tersebut.

Dalam urusan pribadi sebagai bagian dari hablun minallah, hal ini pastinya sangat baik dilakukan. Namun, dalam tataran hablun minannas sebagian kecil diantaranya wajib dikaji ulang. Sebab, jika diperlakukan sama dengan hablun minallah, maka bisa mengakibatkan generasi penerus menjadi kepaten obor sejarah santri tempo dulu.

Dan hal ini telah terjadi dengan sangat sistematis. Ketika peran santri dalam perjuangan mencapai dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dianggap tidak ada. Tidak ada penulisan sejarah yang memadai, bahkan terkesan disembunyikan rapat-rapat.

Hingga tidak heran ketika terjadi Pertempuran 10 November, maka kisah heroik ini hanya menyisakan satu tokoh yang memang sangat hebat, yakni Bung Tomo. Padahal secara logika, beliau ini tidak mungkin mampu menggelorakan semangat jihad semesta jika tidak ada orang-orang hebat disekitaran beliau. Siapa saja mereka?

TNI baru saja terbentuk, dengan persenjataan hasil rampasan Jepang, seadanya saja. Hingga jelas sama sekali tidak mampu menandingi Sekutu sebagai pemenang Perang Dunia II. Dan tidak mungkin pula Bung Tomo mampu mengumpulkan orang hingga ratusan ribu pasukan dari berbagai daerah di Indonesia dalam waktu bersamaan.

Di satu pihak, penulisan sejarah resmi menyembunyikan fakta dan dengan sukses dilahap oleh generasi muda di semua sekolah di segala jenjang. Di pihak lain, secara sengaja para pelaku sejarahnya baik Kyai maupun Santri malah bersyukur karena dengan disembunyikannya peran mereka, maka keikhlasan bisa senantiasa terjaga.

Dan…. jamanpun berubah. Tuntutan untuk mengungkap sejarah secara jujur menggelora, terutama dari kalangan santri masa kini yang mengetahui sedikit sejarah santri tempo dulu yang luar biasa. Akhirnya, mulailah digali sejarah yang luar biasa ini, dan terungkaplah fakta yang mencengangkan. Santri Indonesia di tahun 1945 adalah salah satu penyumbang saham terbesar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia!!!

Bahwa yang menewaskan Jendral Mallaby pra-10 November adalah santri. Bahwa Bung Tomo juga santri dari Hadlrotussyaikh Hasyim Asy’arie. Bahwa soko guru pasukan dari Indonesia ialah Barisan Mujahidin pimpinan Guru Mulia Simbah KH Wahab Hasbullah, Barisan Sabilillah pimpinan Guru Mulia KH Masjkoer dan Laskar Hizbullah pimpinan Guru Mulia KH Zainul Arifin, di bawah komando Guru Mulia KH Bisri Syansuri Jombang. Bahwa yang memimpin perlawanan di lapangan adalah Guru Mulia KH Abbas Buntet Cirebon.

Bahwa pejuang sipil yang bergerak membanjiri Surabaya ialah para santri baik yang diutus oleh pengasuh pondok maupun secara spontan hampir keseluruhan ialah para santri. Bahwa Guru Mulia KH Mahrus Aly Lirboyo memimpin santri Lirboyo bergerak ke Surabaya. Bahwa Guru Mulia KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo bergerak mengkoordinasi para santri dari Tapal Kuda ke Surabaya.

Bahwa Kyai dari ponpes Krapak Jogja mengeluarkan perintah supaya para santri bergerak ke Surabaya. Bahwa Guru Mulia KH Bisri Mustofa Rembang mendukung penuh jihad ini. Bahwa ribuan santri yang sudah tidak mondok lagi langsung spontan menuju Surabaya membawa celurit, pedang, golok, bambu runcing, dan tombak serta senjata apapun setelah mendengar berita fatwa jihad dari Hadrotussyaikh. Bahwa ribuan warga NU bergerak tak terbendung ke Surabaya setelah mendengar siaran radio berapi-api dari Bung Tomo.

Lebih tidak masuk akal lagi, di luar puluhan ribu santri yang memenuhi janji syahidnya, ada cerita yang tidak bisa dinalar dengan akal sehat. Tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, juga tidak didukung data akurat. Sehingga tidak mungkin masuk dalam kajian buku sejarah.

Bagaimana para Santri berangkat menggunakan Kereta Api Ekspress, pada jaman itu belum ada Kereta Api tersebut. Bagaimana bisa satu rangkaian Kereta menampung puluhan ribu santri dari Barat hingga Timur dalam waktu bersamaan.

Bagaimana Santri dari berbagai kesatuan bisa kebal terhadap berondongan peluru otomatis Sekutu. Bagaimana senjata berat lawan tiba-tiba tidak berfungsi ketika diteriaki takbir. Bagaimana ada bambu runcing bisa menembus tank lapis baja. Bagaimana santri bisa mengangkat truk dan panser.

Bagaimana bisa alu dan lumpang (peralatan tradisional penumbuk padi) serta peralatan dapur se Kota Surabaya bergerak sendiri menyerang lawan. Bagaimana Guru Mulia KH Abbas Buntet meledakkan pesawat Musquito dengan lemparan sandal bakiak. Bagaimana kerikil dan batu kecil diberi doa bisa difungsikan sebagai granat. Dan tentu masih banyak sekali kisah yang luar biasa lagi.

Ah, sudahlah. Bahkan itu tidak masuk di akal. Namun, semua itu nyata. Tidak mungkin para Ulama sepakat dalam kebohongan yang serupa. Subhanaka ya Allah… la ‘ilma lana illa ma ‘allamtana.

Dan kini, peran itu mulai terungkap satu persatu. Dan telah diakui secara resmi oleh pemerintah Republik Indonesia.

SELAMAT HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER
Semangatmu akan selalu hidup dalam sanubariku.

Penulis adalah Alumni FISIPOL UGM Yogyakarta , NU Kultural dan Pengajar Ponpes Tahfidzul Quran Al Istiqomah Weleri

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here