JANDA BERIDDAH INGIN PINDAH RUMAH

0
59

A. Pertanyaan :
Bapak H. Ahmad Atoillah Poncorejo Gemuh bertanya :

Di kampung saya ada wanita muda yang menjanda karena ditinggal mati suaminya. Ketika masih hidup, dia dan suami nebeng di rumah kakak lelakinya yang tidak beristri. Setelah suami mati, dia ingin pulang ke rumah orangtuanya, padahal iddahnya belum habis. Karena kalau tetap di rumah itu, maka terjadi kejanggalan, yaitu seorang janda tak bersuami berada dalam satu rumah dengan lelaki tak beristri. Bagaimana hukumnya jika dia pulang ke rumah orangtuanya?

B. Jawaban :
Wanita menjanda yang masih dalam masa iddah dilarang keluar rumah selagi masa iddah belum habis, berdasarkan ayat 1 surat At-Tholaq sebagai berikut :

 
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ ۖ لَا تُخْرِجُوهُنَّ مِن بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخْرُجْنَ إِلَّا أَن يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ ۚ لَا تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَٰلِكَ أَمْرًا (1) 

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat iddahnya dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang…”(QS. At-Talak: 1)

Mengenai hal ini ulama madzhab Syafii sudah sepakat bahwa wanita beriddah tidak boleh keluar rumah ketika masih dalam masa iddah. Namun menurut Imam Nawawi, dia boleh keluar rumah apabila ada darurat atau hajat (kebutuhan mendesak). Demikian juga, ulama madzhab Maliki dan madzhab Hanbali membolehkan wanita beriddah itu keluar rumah ketika siang hari dan ketika benar-benar dalam keadaan darurat atau karena hajat (kebutuhan mendesak).

Karena jika wanita tersebut menetap di rumah kakak iparnya akan menimbulkan fitnah, maka dia diperbolehan pindah ke rumah orangtuanya karena ada hajat (kebutuhan mendesak), yaitu menghindari adanya fitnah.

C. Referensi :

فلا يجوز للمعتدة من وفاة أو طلاق الخروج من بيتها إلا لضرورة ،أو حاجة، لما روى مسلم عن جابر رضي الله عنه قال: طلقت خالتي فأرادت أن تجذَّ نخلها، فزجرها رجل أن تخرج فأتت النبي صلى الله عليه وسلم؛ فقال: “بلى فجدي نخلك فإنك عسى أن تصدقي، أو تفعلي معروفا” وروى البيهقي بسند حسن عن مجاهد قال: استشهد رجال يوم أحد فجاء نساؤهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، وقلن: يا رسول الله، نستوحش بالليل فنبيت عند إحدانا حتى إذا أصبحنا بادرنا بيوتنا، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: تحدثن عند إحداكن ما بدا لكن، فإذا أردتن النوم فلتأت كل امرأة إلى بيتها
وقال الإمام النووي يرحمه الله: (فيجوز للمعتدة عن وفاة الخروج لهذه الحاجات: شراء طعام، أو بيع، أو غزل، ونحو ذلك) وكذا لها أن تخرج بالليل إلى دار بعض الجيران للغزل والحديث، ولكن لا تبيت عندهم، بل تعود إلى مسكنها للنوم

Muhammad Danial Royyan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here