Istidraj

0
77

Diasuh oleh: KH. Mohammad Danial Royyan

بحث علم التصوف من كتاب إيقاظ الهمم للشيخ الإمام العلامة أحمد بن محمد بن عجيبة الحسنى في شرح كتاب الحكم الذي صنفه الشيخ العلامة العارف بالله أحمد بن محمد بن عطاء الله السكندري رحمهما الله تعالى

Sebagai lanjutan dari bab sebelumnya yaitu Syukur, akan dikaji tentang “Istidraj” (Bahasa Jawa: “dilulu“, “disolu“).

Syeikh Ibnu Athaillah As-Sakandary RA berkata, “Apabila seseorang diberikan kenikmatan oleh Allah, tetapi ia lupa tidak mensyukuri atas nikmat tersebut, tetapi di sisi lain justru nikmatnya semakin bertambah, maka ketahuilah, yang demikian itu disebut istidraj. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syeikh Ibnu Athaillah As-Sakandary RA :

“خف من وجود إحسانه إليك، ودوام إساءتك معه أن يكون ذلك إستدراجا”

“Takutlah adanya kebaikan Allah kepadamu yang disertai langgengnya kemaksiatanmu kepada-Nya, itulah yang dinamakan “istidraj“.

Apa yang disampaikan oleh As- Syeikh tersebut berdasarkan pada firman Allah SWT:

والذين كذبوا بأياتنا سنستدرجهم من حيث لا يعلمون ( ألأعراف: ١٨٢)

“Dan orang-orang yang mendustakan Kami, maka akan Kami tunda-tunda mereka dengan berangsur-angsur (sampai pada kebinasaan), dengan cara yang mereka tidak mengetahuinya”. (Q.S. Al-A’raf: 182).

Istidraj itu berasal dari tasrif fiil: إستدرج- يستدرج- إستدراجا yang berasal dari kata dasar درج yang secara etimologi berarti: menilai, meningkat, berlatih sedikit demi sedikit. Contoh seperti seorang bayi yang berlatih berjalan sedikit demi sedikit. Sedangkan secara istilah (terminologi) berarti kenikmatan bersifat materi yang diberikan kepada seseorang yang secara lahir semakin bertambah, tetapi kenikmatan yang bersifat immaterial semakin dikurangi atau dicabut, sementara ia tidak merasa sama sekali. Sehingga, apabila seseorang mendapatkan kenikmatan berupa kesehatan, kesempatan dan kelapangan rejeki yang melimpah dan semakin bertambah, tetapi tidak dibarengi dengan perilaku syukur atas kenikmatan tersebut, tetapi malah sebaliknya ia semakin kufur dan lupa kepada Dzat Pemberi nikmat, maka sesungguhnya yang demikian disebut istidraj. Hati-hatilah! demikian kata Syeikh Ibnu Ajibah RA.

Sementara di sisi lain Syeikh Al-Imam Sahal bin Abdullah RA. mengatakan:

نمدهم بالنعم وننسيهم الشكر عليها، فإذا ركنوا إلى النعمة وحجبوا عن المنعم أخذوا

“Kami (Allah) telah memberi banyak kenikmatan kepada mereka, dan Kami jadikan mereka lupa bersyukur atas nikmat itu. Apabila mereka cenderung pada nikmat itu, dan hati mereka tertutup dari Dzat Pemberi nikmat, maka diambillah mereka”.

Kemudian Syeikh Ibnu Athaillah As-Sakandary RA mengingatkan, betapa banyak orang yang berbuat kesalahan (dosa) lalu mereka diberikan kenikmatan, dan mereka lupa beristighfar atas perbuatan dosa yang mereka lakukan. Lalu Allah terus memberi kenikmatan berupa kesehatan dan lainnya, hingga Allah mencabut nikmat tersebut secara tiba-tiba, baik dicabut orangnya ataupun kenikmatan yang telah mereka peroleh.

Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa ketika seseorang mendapatkan kenikmatan, baik nikmat materi maupun non materi, hendaklah ia bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Dzat Pemberi nikmat, dan bukannya lupa kepadaNya. Dan segera ikutilah bersyukur kepadaNya, baik secara lisan, perbuatan maupun keyakinan dalam hati. Realisasi syukur itu bisa berupa semakin rajin beribadah, bersedekah maupun perilaku-perilaku yang bermanfaat bagi orang lain. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadits:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من لم يشكر الناس لم يشكر الله، أشكركم الناس أشكركم لله

“Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah. Yang paling bersyukur diantara kamu kepada manusia adalah yang paling bersyukur diantara kamu kepada Allah SWT.”.

Allahu ‘alam bishawab.

Diterjemahkan oleh: Muhammad Umar Said

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here