ISLAM NUSANTARA: SUATU KENISCAYAAN WARGA BANGSA

0
69

PAK MAHRUS copy

Oleh: Drs. H. Moh. Makhrus Alie

Kata Islam Nusantara secara substansi sudah dicanangkan dan diupayakan membumi oleh K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri jamiyyah Nahdlatul Ulama, suatu Ormas terbesar di Indonesia. Saat itu kata Nusantara belum begitu populer, diantara gugusan pulau di Nusantara yang sudah populer adalah pulau Jawa, sehingga beliau menggunakan istilah Jawa, sebagaimana yang beliau usung dengan terma “Muslimul Aqtharil jawwiyyah” (Masyarakat Islam jawa dan Sekitarnya) pada tahun 1912 M. ( Prof. Dr. M. Isom Yusqi: Islam Nusantara. Meluruskan Kesalahpahaman. 2015)

Istilah Jawa, pada saat itu, tidak hanya sebatas makna geografis an sich, tapi, maknanya melingkupi geografis Nusantara sekarang, bahkan sampai wilayah Singapura, Malaysia, Patani (Thailand). Karena secara historis wilayah- wilayah tersebut pernah menjadi bagian wilayah kerajaan Majapahit. Jadi upaya membumikan Islam yang dicanangkan K.H. Hasyim asy’ari adalah seluruh kepulauan Nusantara dan sekitarnya.

Islam Nusantara sendiri menyeruak di penghujung tahun 2012. Gagasan ini lahir dari pergumulan akademik para elit intelektual NU, terutama Prof. Dr. K.H. Said Agil Siroj, MA (Ketum PBNU) dan para akademisi STAINU (Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama) serta UNU (Universitas Nahdlatul Ulama) Jakarta, terhitung sejak dibukanya program pasca sarjana Kajian Islam Nusantara. Kendati lahir dari rahim NU, Islam Nusantara akan dipersembahkan untuk peradaban dan keadaban seluruh umat manusia. (Prof. Dr. M. Isom Yusqi: 2015). Dan “booming”nya pada muktamar NU ke 33 1- 5 Agustus 2015 di Jombang, dan sekaligus Islam Nusantara dijadikan tema muktamar.

Para walisongo dalam menyiarkan Agama Islam di Jawa secara aplikatif sudah membumikan “islam nusantara”. Islam dihadirkan oleh para wali di tengah masyarakat dengan ramah, santun dan adaptif dengan budaya lokal. Sembahyang, slametan atau kenduren, langgar merupakan istilah yang sangat kental dengan budaya pra Islam. Namun lambat laun secara evolutif mengalami pergeseran istilah. Sembahyang menjadi solat, slametan menjadi tahlilan, dan Langgar atau Surau menjadi Musolla. Itulah metode walisongo dalam mendakwahkan islam di tanah jawa. Tidak hitam putih, kaku maupun frontal. Bahkan mampu berakulturasi dengan budaya lokal. Barangkali akan lain keadaan, bila walisongo dulu dalam berdakwah, tidak dengan metode adaptif dengan budaya masyarakat setempat.

Islam Nusantara, terdiri dari Islam dan nusantara. Dua kata itu bukan kata sifat dan yang disifati, seperti yang disalapahami oleh sebagian masyarakat kita. Mereka memaknai islam nusantara adalah islam yang “diwarnai” oleh budaya nusantara yang penuh asesori oleh idiom kemusyrikan, ketakhayulan dan lain sebagainya. Bahkan kesalahpahaman mereka semakin mengerucut dan melakukan tindakatan antisipatif dengan menuduhnya sebagai “agama baru”.

Sebenarnya istilah islam Nusantara merupakan rangkaian kata idhofah, sebagaimana tata bahasa Arab (grammar/ nahwu sorof). Seperti air gelas, atau cincin besi, yang berarti air di gelas, dan cincin dari besi. Secara ketatabahasaan idhofah mengadung “di” atau “dari”. Jadi Islam Nusantara adalah islam yang ada di Indonesia, atau yang bertabiat/ berbudaya Indonesia. Islam yang ramah, santun, penuh toleransi, menghargai keberagaman dan lain sebagainya.

Membumikan Islam, kalau ditarik kebelakang ujung mata rantainya, ya pada awal Islam itu sendiri. Ketika Islam mulai berkembang pada era akhir kerasulan Muhammad S.A.W, beliau mengutus sahabat Muadz ibn Jabal untuk berdakwah ke negeri Yaman. Sebelum berangkat, sahabat Muadz ditraining, dites kepatutan dan kelayakan. Sebagian materi tesnya adalah; Nabi Muhammad bertanya: Seandainya kamu menemukan masalah di masyarakat Yaman, dengan apa kamu selesaikan. Muadz menjawab, dengan Alqur’an. Nabi bertanya, kalau dalam Alqur’an tidak kamu temukan. Dengan Al Hadis. Kalau dalam Al Hadis tidak kamu temukan. Saya akan berijtihad,Ya Rasulullah. Dengan jawaban tersebut sahabat Muadz dianggap lulus, akhirnya beliau diberangkatkan ke Yaman untuk mengemban penyiaran Islam.

Berdasarkan substansi tes kelayakan dan kepatutan yang dijalani sahabat Muadz tersebut, bisa kita tarik benang merah. Bahwa norma islam tidak bersifat kategoris an sich, artinya ada sisi ruang yang bisa kita masuki secara genius. Misalkan dengan ijtihadi, mengintrodusir dengan budaya lokal, sepanjang tidak melanggar syariat yang bersifat universal. Syariat yang bersifat universalpun pada akhirnya bisa diikuti/ disandingkan, disempurnakan dengan yang parsial (local genius). Misalkan syariat sholat (universal), dalam pelaksanaannya memakai jubah, sarung, kain batik dan songkok itu sama sahnya. Zakat (universal) pelaksanaan dengan kurma, beras, gandum, jagung (semuanya parsial), itu sama sahnya. Haji (universal) dilaksanakan menggunakan Unta, Bis, Kereta api, Pesawat (parsial) semua sama sahnya. Islam itu memang syareat dari Tuhan yang universal, dalam melaksanakan syareat tersebut tidak bisa lepas dari budaya setempat yang bersifat parsial. Sebagaimana beberapa contoh di atas. Karena kehadiran islam ke dunia untuk mewarnai dan menyelesaikan persoalan hidup itu sendiri, hadirnya tidak pada ruang yang kosong.

Penyempurna Ahlak

Islam hadir tidak pada ruang hampa. Kedatangannya merupakan kebutuhan atau sebagai solusi berbagai problematika hidup (problem solving). Sebagai problem solving dengan performa yang ramah, santun dan tidak hitam putih atau rigid. Bila bertemu dengan budaya lokal bisa adaptif dan mampu berakulturasi. Selagi budaya lokal itu tidak berforma pada kemusyrikan, Islam hadir sebagai penyempurna.

Sebagai penyempurna, tentu saja tidak merombak secara ekstrim, atau bahkan menghilangkan. Tetapi, sebagaimana yang sudah dipaparkan di depan, yaitu merubahnya secara evolutif, bahkan dapat berakulturasi dengan budaya setempat. Sebagaimana sabda Kanjeng Rasul Muhammad SAW; “Innama buitstu li utammimal ahlaq”. Sesungguhnya kami diutus untuk menyempurnakan ahlak.

Sehingga islam yang didakwahkan para Walisongo tidak alergi kalau berhadapan dengan budaya lokal. Sebagaimana yang dilakoni oleh baik Sunan Kalijogo, Sunan Kudus maupun Sunan Bonang. Sunan Kalijogo yang berkreasi dalam dakwah islam dengan media Wayang Kulit. Mengapa?. Karena masyarakat, terutama Jawa Tengah bagian selatan dan Jogjakarta sangat “institusionalized” maupun “internalized” dalam kehidupan mereka terhadap wayang kulit. Sunan Kudus sangat menghargai masyarakat Kudus, yang pada sa’at itu mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Dimana masyarakat Hindu sangat mensucikan Sapi. Sehingga sampai sa’at ini masyarakat Kudus tidak menyembelih Sapi. Berkat sikap toleran yang begitu tinggi yang dilakukan oleh Sunan Kudus terhadap masyarakat Kudus sa’at itu.

Untuk itu sangat beralasan kalau sekarang hadirnya Islam Nusantara yang dibidani oleh tokoh- tokoh PBNU. Karena Islam Nusantara pada substansinya Islam yang diajarkan oleh Rasul Muhammad SAW dan secara mutawali dilanjutkan oleh para Walisongo dan para Kiai NU. Suatu yang sangat niscaya sebagai warga bangsa Indonesia untuk tetap istiqomah memegang Islam Nusantara tersebut. Islam yang ramah, santun yang sangat sepadan dengan karakter bangsa Indonesia.

Sunan Bonang sangat inten dalam melakukan dakwah Islam dengan menggunakan media “tembang pesisiran”. Tembang yang beliau ciptakan sangat sarat terhadap nilai- nilai kemanusiaan. Seperti Ilir-ilir yang sangat populer sampai sekarang.

Masyarakat bangsa yang mendiami ribuan pulau (archipelago state) dari Sabang Sampai Merauke, adalah masyarakat yang memiliki budaya yang terkenal adiluhungnya. Dan performa masyarakatnya yang ramah, perilaku gotong royong, suka menolong, toleran baik budaya maupun dengan kepercayaan lain.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here