IPPNU dan LKPP Kendal Kecam Pelibatan Perempuan dalam Aksi Terorisme

0
33

Kendal, pcnukendal.com – Baru-baru ini aksi terorisme kembali mengguncang Indonesia. Mulai dari ‎aksi teror bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Minggu (28/3) pagi oleh pasangan suami istri L ‎‎(suami) dan YSF (istri) yang mengakibatkan 20 orang terluka. Disusul penyerangan oleh terduga teroris ‎berinisial Z-A di Markas Besar Kepolisian Indonesia (Mabes Polri) di Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, ‎Jakarta Selatan, Rabu (31/3) sore. Kejadian ini menewaskan Z-A setelah terlibat baku tembak dengan ‎petugas pos penjagaan di Mabes Polri.‎

Merespon kejadian tersebut, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama ‎‎(IPPNU) Kendal, Dwi Sura Aprillia menyatakan mengutuk keras segala bentuk tindakan terorisme. ‎Pihaknya menghimbau seluruh pelajar putri khususnya di Kendal, agar membentengi diri dari paham ‎radikalisme.‎

‎”Sebagai warga NU, taatlah saja pada ulama NU. Kiai di Kendal sangat banyak. Kiai-kiai kita ini tidak ‎pernah mengajarkan kekerasan. Salah memilih kiai panutan, bisa menjadi faktor yang menyebabkan ‎pelajar terjerumus ke dalam radikalisme,” kata April kepada NU Kendal Online, Kamis (01/04). ‎

Senada dengan April, Ketua Lembaga Konseling Pelajar Putri Kendal, Nur Chasanah menyayangkan dan ‎mengecam pelibatan perempuan dalam aksi terorisme. Menurutnya, perempuan menjadi pelaku ‎terorisme karena memiliki hati yang lembut.‎

‎”Perempuan tipikal yang ketika ada yang sedang memberikan rangsangan (arahan) dia mudah ‎menangkap, mudah meresap kedalam otak. Sehingga dalam perekrutan anggota teroris perempuan ‎lebih bisa dikendalikan,” ujar Nur Chasanah.‎

Dijelaskan, perempuan adalah salah satu makhluk paling setia terhadap sesuatu, khususnya pada ‎suami (apabila sudah bersuami), mudah dibujuk dan penurut juga. Jadi ketika suami memberikan ‎arahan, dia akan melakukan dan otomatis hal itu juga sebagai tindakan ta’at kepada suami. ‎

‎“Jadi tak heran, apabila perempuan mendominasi dalam aksi ini. Perempuan cenderung mudah masuk ‎dalam pehamahaman radikal ketika tidak bisa independen mengambil keputusan. Perempuan seperti ‎ini cenderung sangat penurut terhadap keputusan suami,” terangnya.‎

Lebih lanjut, Nur Chasanah menyebutkan beberapa sikap yang harus dilakukan para pelajar putri agar ‎tak terpengaruh paham radikalisme.‎

‎”Yaitu dengan memperkuat benteng keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan, menjauhi kajian-kajian ‎ilmu yang sumber dan kebenarannya tidak jelas, selalu bersosialisasi dan interaksi dengan masyarakat, ‎tidak menutup diri atau memilih acuh terhadap lingkungan sekitar, dan berkumpul dengan orang-‎orang saleh- salehah di bawah ajaran ahlusunnah wal jamaah pastinya,” pungkas Nur Chasanah.‎ (Nur Safitri/Muf)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here