
Kaliwungu Selatan, pcnukendal.com - Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Kaliwungu Selatan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) menggelar Tarawih Keliling di Musala Nurul Hidayah, Dukuh Ngampon, Desa Protomulyo, Senin malam (23/2/2026).
Kegiatan bertema “Pentingnya Memilih Pendidikan bagi Generasi Penerus NU” ini diawali dengan buka puasa bersama, dilanjutkan salat Isya dan Tarawih berjamaah diikuti pengurus NU, tokoh masyarakat, serta warga setempat.
Ketua MWC NU Kaliwungu Selatan, Fatkurochman, menyampaikan bahwa Tarawih Keliling merupakan agenda rutin tahunan sebagai upaya mendekatkan struktur MWC dengan ranting-ranting NU di wilayahnya.
“Tarawih keliling ini bukan sekadar ibadah bersama, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi dan konsolidasi jamaah di tingkat ranting. Kami ingin memastikan bahwa gerakan dan khidmat NU tetap hidup sampai di akar rumput,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Fatkurochman juga menginformasikan berdirinya MI NU Terpadu 77 Protomulyo yang diharapkan menjadi pilihan pendidikan bagi warga NU di wilayah Kaliwungu Selatan. Ia menyebut madrasah tersebut memiliki program unggulan berbasis keislaman, karakter, dan ke-NU-an.
“Kehadiran MI NU Terpadu 77 Protomulyo ini menjadi ikhtiar kita bersama menyiapkan generasi NU yang cerdas, berakhlak, dan memiliki identitas Ahlussunnah wal Jamaah yang kuat sejak dini,” tambahnya.
Sementara itu, perwakilan Camat Kaliwungu Selatan, Sriyati, dalam sambutannya menyoroti pentingnya pengawasan orang tua terhadap anak di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks. Ia menyinggung peristiwa tawuran yang baru terjadi di wilayah Kaliwungu sebagai peringatan bagi semua pihak.
“Anak-anak harus terus dipantau dan diarahkan. Baru kemarin saja terjadi tawuran. Ini menjadi peringatan bagi kita semua agar pendidikan dan pembinaan akhlak benar-benar menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Acara juga diisi ceramah oleh ulama setempat, Kiai Syakirin. Ia menekankan pentingnya memilih lembaga pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam pembinaan akhlak dan nilai-nilai ke-NU-an.
“Pendidikan bukan hanya soal ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan akhlak. Jika sejak kecil anak-anak dididik di lingkungan yang tepat, maka mereka akan tumbuh menjadi penjaga tradisi dan perjuangan NU di masa depan,” tuturnya.
Menurut Kiai Syakirin, pendidikan merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan perjuangan Nahdlatul Ulama. Karena itu, peran keluarga dan lembaga pendidikan harus berjalan seiring dalam membentuk generasi yang berilmu sekaligus berakhlak. (Ifana/muf)