IMAM ABU BAKAR AL-BAQILLANI R.A.

0
143

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin al-Tayyib bin Muhammad Abu Bakar al-Qadli yang terkenal dengan al-Baqillani.  Ia adalah seorang teolog madzhab al-Asy’ari berasal dari kota Basrah, dan menetap di Bagdad. Selain ahli teologi, ia juga ahli hadis. Ia wafat pada hari sabtu di tanah Qin bulan Zulqa’dah tahun 403 H. Tentang keilmuan, Ia termasuk orang yang paling mengerti masalah kalam, mempunyai pemikiran yang baik, indah dalam menyampaikan pembicaraan, bisa menjelaskan sesuatu dengan gamblang dan benar. Ia pecipta konsepsi “Ikhtiyar” dalam ajaran al-Asy’ari. Karya-karyanya amat banyak dan mengesankan. Terutama tentang ilmu kalam yang mengkritik pandangan-pandangan Syiah Rafidlah, Mu’tazilah, Jahmiyah, dan Khawarij.

Suatu hari raja ‘Adlud al-Daulah memerintahkan al-Baqillani untuk menyampaikan sepucuk surat kepada raja Romawi. Ketika ia sampai di kota Romawi, berita kedatangan al-Baqillani diketahui oleh Raja. Sang raja telah diberitahu tentang ketinggian ilmu al-Baqillani. Raja berpikir untuk merencanakan sesuatu. Raja tahu bahwa al-Baqillani akan tidak menghormatnya ketika ia masuk ke dalam kerajaan. Sebagaimana undang-undang yang berlaku dalam pemerintahan kepada semua rakyat, saat berhadapan dengan raja mereka wajib mencium tanah.

Kemudian Raja mempunyai niat meletakkan permadani kursi yang sering ia gunakan, berada di belakang pintu kecil yang tidak mungkin seorang pun masuk melaluinya kecuali dalam keadaan ruku’, supaya al-Baqillani masuk ke dalam istana dengan keadaan membungkuk seperti orang menyembah. Hal ini menurut Raja agar al-Baqillani seperti menyembahnya. Ketika permadani sudah diletakkan pada tempat itu, Raja memerintahkan para prajurit untuk mempersilahkan al-Baqillani masuk ke dalam istana melalui pintu tersebut. Melihat keadaan tersebut, al-Baqillani berhenti dan berpikir sejenak. Dengan kecerdasannya, ia memutar badan dengan punggung membelakangi pintu sembari berruku’ dan masuk melalui pintu dalam posisi membelakangi Raja hingga di hadapan Raja. Kemudian ia mengangkat kepala dan menegakan punggung dan membalikan wajah kepada Raja. Raja terkejut dengan hal itu, hingga menimbulkan keseganan bagi raja kepada Al-Baqillani.

Ketika duduk di depan raja, pendeta yang mendampingi raja mengajak debat untuk menguji keilmuan al-Baqillani. Pendeta: “Hai Abu Bakar, itu Aisyah istri nabimu kok digosipkan berselingkuh. Hal itu tidaklah pantas bagi umat Islam”. Al-Baqillani: “Maryam ibunya Isa nabi kalian juga digosipkan berzina. Tapi dua wanita itu telah disucikan oleh Allah. Dan menurutku Aisyah lebih mulia daripada Maryam”. Pendeta: “Kok bisa begitu? Aku tidak setuju!”. Al-Baqillani: ” Karena Aisyah punya suami meskipum tidak punya anak. Sedangkan Maryam punya anak padahal tidak bersuami”. Raja, pendeta dan seisi ruangan bungkam terdiam mendengar jawaban ini. Lalu sang Imam bertanya kepada pendeta: “Pendeta yang mulia, bagaimana kabar istri dan anak-anak, semuanya baik?”. Raja marah mendengar pertanyaan ini dan berkata: “Abu Bakar, pendeta itu orang suci tidak boleh beristri apalagi beranak!”. Al-Baqillani: “Tuan Raja dan sekalian rakyatnya keblinger. Masak pendeta yang manusia biasa disucikan begitu rupa. Sedangkan Allah yang seharusnya disucikan malah dianggap punya istri dan punya anak!”. Perkataan ini sangat menusuk hati dan sangat mengagetkan Raja Romawi dan seluruh rakyatnya. Akan tetapi mereka tidak dapat melanjutkan perdebatan lagi. Sangatlah benar perkataan Imam Al-Baqlliani tetapi mereka angkuh sehingga jauh dari hidayah Alloh. Wallohu A’lam Bisshowab. (MD Royyan).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here