Husnudlon kepada Allah

0
146
Oleh: KH. Mohammad Danial Royyan  

(حسن الظن بالله)

البحث في علم التصوف من كتاب “إيقاظ الهمم” للشيخ العلامة إبن عجيبة الحسني في شرح كتاب “الحكم” الذي صنفه الشيخ العلامة العارف بالله إبن عطاء الله السكندري رحمهما الله تعالى

Bagi Salik (seseorang yang sedang berjalan menuju ma’rifat kepada Allah) dalam hatinya wajib memiliki sifat berbaik sangka kepada Allah dan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Apa pun yang dilihatnya, tidak ada satupun yang tercela, semuanya Indah dan baik. Contoh melihat seseorang yang berwajah tampan, cantik ataupun jelek, baginya semuanya baik dan indah. Sebab semua itu diciptakan oleh yang Maha Indah, Maha Rahman dan Rahim.

Syeikh Ibnu Ajibah membagi husnudzon tersebut menjadi dua bagian, yaitu:

1. Husnudzon bagi golongan khowash (الخواص)

2. Husnudzon bagi golongan awam (العوام)

Husnudzon bagi golongan khowash berarti husnudzon mereka kepada Allah timbul dari hati mereka yang telah benar-benar menyaksikan keindahan dan kesempurnaan sifat-Nya dan mereka melakukannya secara terus-menerus dan tidak ada putusnya (لاينقطع), mereka berhusnudzon kepada Allah di dalam segala keadaan. Hal yang demikian itu, baik husnudzon terhadap sifat Jamal-nya Allah maupun Jalal-Nya. Golongan khowash tersebut meyakini, bahwa apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini adalah manifestasi dari rahmah, karom dan jud Allah yang tiada terputus-putusnya serta selalu diberikan kepada semua makhluk-Nya.

Adapun husnudzon bagi golongan awam, mereka melakukannya ketika diberikan kebaikan, anugerah atau musibah dari Allah. Jika mereka ditimpa musibah, baru mereka sadar bahwa yang terjadi merupakan kasih sayang Allah, ataupun jika mereka mendapatkan anugerah  mereka meyakini bahwa semua itu adalah wujud kasih sayang-Nya.

Jadi perbedaan antara golongan Khowash dan Awam adalah jika golongan khowash husnudzon kepada Allah berkaitan dengan sifat-sifat Allah yang berlaku tetap (لازم) dan tiada terputus. Sedangkan husnudzon bagi golongan awam kepada Allah, berhubungan dengan hal yang  terjadi dan bersifat temporer, seperti ketika seseorang mendapatkan rejeki ataupun musibah, baru mereka ber-husnudzon kepada Allah.

Selanjutnya Syeikh Ibnu Ajibah mengingatkan, bahwa husnudzon golongan awam tersebut sangat lemah, sebab muncul dari  pandangan dan pemikiran yang lemah, bukan husnudzon atas dasar sifat-sifat Allah yang permanen dan berlaku sepanjang masa.

Semoga bermanfaat. Amiin.

(Diambil dari kitab “Iqadhul Himam, Syeikh ibnu Ajibah alHasany, hal. 91)

Diintisarikan oleh: Muhammad Umar Said). 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here