HUKUM TAWASSUL DAN TABARRUK MENURUT ULAMA’ SYAFI’IYAH

0
524

Tawasul merupakan salah satu jalan berdoa, salah satu pintu menghadap kepada Allah SWT. Tujuan hakiki adalah Allah SWT, dan orang yang di gunakan untuk bertawasul hanyalah penengah dan perantara untuk mendekat kepada Allah. Barang siapa menyakini selain yang demikian maka dia telah menyekutukan Allah.

Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki berkata : Dalam kitab Al-Fatawi Al-kubro, Syaikhul Islam Ibn Taimiyah ditanya, apakah boleh bertawasul dengan Nabi SAW, atau tidak ? maka dia menjawab : Alhamdulillah, adapun tawassul dengan keimanan, taat, sholawat dan salam kepada Nabi, dengan doa dan syafaat Nabi, dan selain itu semua, baik berupa perbuatan Nabi atau perbuatan orang yang diperintah oleh Allah terkait dengan hak Nabi, maka tawassul yang demikian itu adalah perkara yang disyari’atkan (diperintahkan) dengan kesepakatan antara semua muslimin (Al-Fatawi juz 1 halaman 140).

Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki berkata : Muara perbedaan pendapat dalam masalah tawasul adalah tawasul yang tidak dengan menggunakan amal sholeh, tetapi tawassul dengan dzat atau orang, seperi ucapan tawassul dengan Shighat di bawah ini :

“Ya Allah sesungguhnya aku berawassul kepada-Mu dengan (perantara) Nabi-Mu Muhammad SAW”,
atau
“Aku bertawassul kepada-Mu dengan (perantara) Abi Bakar As-Shiddiq, atau dengan (perantara) Umar bin Khatab, atau dengan (perantara) Utsman, atau dengan (perantara) Ali RA.”

Tawassul dengan cara ini tidak di perbolehkan menurut sebagian ulama (ibn Taimiyah dan pengikutnya).
Kita melihat, bahwa perbedaan itu sebenarnya bersifat formal tidak bersifat substantive. Karena tawassul dengan menggunakan dzat atau orang itu pada hakikatnya sama dengan tawassul yang dilakukan oleh seseorang dengan menggunakan amal sendiri. Jika yang ini (tawassul dengan menggunakan amal sholeh) diperbolehkan, maka yang itu pun (tawassul dengan menggunakan dzat atau orang) harus diperbolehkan karena tidak adanya perbedaan di antara keduanya.

Sayyid Abdurrahman Ba’alawi berkata : tawassul menggunakan para wali, baik ketika mereka masih hidup atau sudah mati, hukumnya boleh secara syar’i, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan tentang Nabi Adam AS ketika melakukan maksiat, yang meminta ampunan kepada Allah dengan bertawassul dengan perantara Nabi Muhammad SAW.

Demikian juga hadist tentang seorang laki-laki yang sakit mata melakukan tawassul dengan perantara Nabi SAW, lalu matanya sembuh dan dapat melihat kembali.

Sedangkan Tabarruk (mengambil barokah) dari atsar (benda yang berhubungan dengan) Nabi SAW, atsar para wali dan Ulama’, maka hukumnya dipersamakan dengan tawassul, karena makna tabaruk dan tawassul sebenarnya sama.
Kesamaan itu terletak pada anggapan baik dari orang yang melakukan tawassul dan tabaruk terhadap orang yang digunakan untuk bertawassul atau dianggap memiliki barokah, karena kedekatannya kepada Allah.

Sumber : KH. M. Danial Royyan dalam Membedah Intisari Ahlussunah Wal Jamaah, Menara Kudus, Jogjakarta : 2011. Hlm. 160.

jihadku-islam.blogspot.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here