Hukum Talqin Mayit

0
202

Oleh: Muhammad Umar

Talqin menurut arti bahasa berasal dari kata  لقّن- يلقّن- تلقينا  yang berarti: mengajarkan,  membimbing, menuntun dan mendekte sesuatu kepada orang lain. Secara istilah, “talqin” biasa diartikan “menuntun” orang yang akan meninggal atau orang yang telah meninggal dan baru saja dikubur, dengan kalimat “laa ilaha illallah” dst.

Untuk mengetahui bagaimana hukum talqin,  baik kita perhatikan tulisan berikut ini:

قال ابن تيمية فى فتاويه ( الجزء الاول) هذا التلقين المذكور( يعنى تلقين الميت بعد الدفن)  قد ثبت عن طائفة من الصحابة أنهم أمروا به كأبى أمامة الباهلي وغيره. وروي فيه حديث عن النبي صلى الله عليه وسلم لكنه مما لا يحكم بصحته ولم يكن كثير من الصحابة يفعل ذلك،  فلهذا قال الإمام أحمد بن حنبل وغيره من العلماء إن هذا التلقين لا بأس به فرخصوا فيه ولم يأمروا به واستحبه طائفة من أصحاب الشافعي وأحمد بن حنبل، وكرهه طائفة من أصحاب مالك وغيرهم. وعن ضمرة بن حبيب رضي الله عنه أحد التابعين قال: كانوا يستحبون إذا سوى على الميت قبره وانصرف الناس عنه أن يقال عند قبره يا فلان قل لا إله الا الله ثلاث مرات. يا فلان قل ربي الله  وديني الإسلام  ونبيّ محمد. رواه سعيد بن منصور موقوفا وللطبرانى نحوه من حديث أبى أمامة مرفوعاً.

Terjemahan :

“Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Fatawa-nya,  (juz awal), Talqin yang dimaksud adalah menuntun mayyit yang baru saja dikubur. Ibnu Taimiyah menetapkan tentang talqin tesebut, bahwa talqin itu berasal dari sekelompok sahabat yang memerintahkan untuk melakukan talqin seperti Abu Umamah dan yang lain. Dan diceritakan oleh Hadits, di mana hadits tersebut tidak diketahui derajat kesahihannya,  dan kebanyakan dari para sahabat tidak banyak yang melakukannya. Sehubungan hal tersebut, Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama lainnya berpendapat, bahwa sesungguhnya talqin itu tidak ada kejelekan di dalamnya,  para ulama mengijinkan, dan talqin itu sesuatu yang diperbolehkan (meskipun tidak diperintahkan), bahkan sebagian besar ulama Syafi’iyah dan Hanabilah menghukumi sunnah, sedangkan para ulama Malikiyyah menghukumi makruh. Dan dari Dhamrah bin Hubaib RA,  seorang dari golongan Tabi’in berkata, “Mereka menyukai (talqin) ketika mayyit telah dikubur dan orang-orang pergi meninggalkannya”. Dan dikatakan di depan kuburnya. “Hai Fulan!  Katakan!  Tiada Tuhan kecuali Allah  3 kali. Hai Fulan!  Katakan! Tuhanku Allah, Agamaku Islam,  dan nabiku Muhammad. (HR. Said bin Manshur, hadits mauquf. Dan menurut At-Thabarani dll bahwa Hadits Abu Umamah tergolong hadits marfu.”

Kesimpulan :

  1. Dasar hukum Talqin kepada orang meninggal adalah hadits dari Abu Umamah Al- Baghili, dimana tingkat kesahihan haditsnya diperselisihkan oleh para ulama;
  2. Perintah adanya talqin itu terjadi sejak masa sahabat yaitu bersumber pada hadits Abu Umamah al-Bahili, lalu dilanjutkan oleh golongan Tabi’in seperti Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal, kemudian diikuti oleh sebagian besar dari para ulama Syafi’iyah dan ulama Hanabilah yang memandang bahwa talqin itu diperbolehkan, dan tidak ada kejelekan sedikit pun dalam talqin, bahkan talqin tersebut dapat memberikan manfaat bagi orang yang meninggal dunia,
  3. Hadits tentang talqin menurut Sa’d bin Mansur tergolong hadits mauquf, sedangkan menurut Imam Attabrani tergolong marfu’.

(Diambil dari Kitab Hujjatu Ahlussunnah waljamaah karya KH. Ali Ma’sum).

iklanweb

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here